
Di rumah sakit Nadin belum juga terbangun. Nadin masih asik dengan mata terpejamnya. Angga pun semakin panik dengan keadaan Nadin. Angga pun menanyakannya pada suster jaga.
"Tidak apa-apa Pak. Itu hanya efek dari obat saja. Sebentar lagi Ibu pasti bangun." Jelas perawat tersebut.
"Terima kasih sus." Ucap Angga. Dan Angga pun kembali kedalam ruangan Nadin.
Angga terus saja menunggu Nadin di samping tempat tidur Nadin. Sampai Arif datang membawakan makanan untuk Angga setelab Ibu menghubunginya memberitahukan bahwa Nadin sakit dan di rawat.
Sebenarnya Ibu meminta Amel untuk menemui kakanya namun Amel meminta Arif untuk datang dengan alasan Amel masih sibuk di butiknya.
Arif pun dengan sabar menghadapi tingkah istrinya. Arif masih menghargai Nadin dan keluarga istrinya. Karena mereka semua sudah sangat baik terhadapnya. Hanya sifat Amel saja yang tidak mungkin Arif merubahnya.
Walau bagaimana pun Arif masih mencintai istrinya yang telah melahirkan dua orang anak untuknya.
Tok..tok... Arif mengetuk pintu perlahan sebelum dirinya membuka pintu ruang perawatan Nadin dan masuk.
"Ka, Bagaimana keadaan Nadin?" Tanya Arif begitu memasuki ruang perawatan Nadin dan bertemu pandang dengan Angga.
"Nadin masih tidur Rif. Kamu tau dari mana?" Tanya Angga.
"Ibu meminta Amel untuk mengantarkan Kakak makan. Hanya saja Amel masih ada urusan." Terang Arif.
Angga pun menghela nafas kasar.
"Maafin adek Gw ya Rif." Ucap Angga.
"Tidak perlu meminta maaf. Gw udah menerimanya sejak dulu." Jawab Arif.
"Nih, makan dulu Ka. Kata Ibu Kakak belum makan." Titah Arif.
"Makasih ya Rif."
Angga pun segera memakan makanan yang Arif bawa. Arif tampak mengetik sesuatu pada benda pipihnya. Entah apa yang sedang dia lakukan dengan benda pipih tersebut.
Kemudian benda pipihnya berbunyi menandakan ada seseorang yang menelfon.
__ADS_1
📱Iya Halo.
📱Di rumah sakit mana?
📱Rumah sakit B.
📱Gimana sekarang keadaannya?
📱Masih tidur.
📱Ya udah. Gw hubungi laki Gw dulu. Nanti kita ke sana.
Sambungan telfon pun di matikan.
"Siapa?" Tanya Angga yang baru saja menyelesaikan makannya.
"Kasih." Jawab Arif singkat.
"Lu kasih tau anak-anak?" Tanya Angga lagi.
Angga terdiam menunduk mengatur segala rasa yang ada.
"Gw ga habis fikir. Kalian sahabatnya saja sangat peduli dengan Nadin. Kenapa adik Gw sendiri malah sebaliknya." Oceh Angga.
"Bukan tidak peduli Ka. Hanya saja Amel saat ini tengah sibuk." Bela Arif.
"Lu ga usah tutupi lagi Rif. Lu udah cukup membatin dengan sifat adek Gw." Ucap Angga.
Arif pun hanya tertawa mendengar semua perkataan Angga. Arif memang selalu menutupi segala kesalahan Amel walau pun dia membenarkan kesalahan yang di perbuat oleh istriny.
Saat keduanya tengah berbincang Nadin pun terbangun dari tidurnya. Nadin merasa asing dengan ruangannya. Nadin menoleh kesegala arah. Nadin pun yakin bahwa dirinya berada di rumah sakit dengan selang infus yang terpasang di lengannya dan aroma khas rumah sakit yang masuk kedalan hidungnya.
"Sayang, ada yang kamu mau?" Tanya Angga saat mendapati istrinya terbangun.
"Ini dimana Mas?" Tanya Nadin menyakinkan.
__ADS_1
"Di rumah sakit sayang. Badan kamu demam." Jelas Angga.
"Anak-anak?" Tanya Nadin yang masih memikirkan anak-anaknya saat dia tengah terkulai lemah.
"Ada Ibu dan Ayah di rumah menjaga mereka. Ga usah khawatir. Kan ada Mba.Sus dan yang lainnya di rumah." Ucap Angga menenangkan Nadin.
"Tapi, Bagaimana dengan Refa dan Rafa?" Tanya Nadin yang mencemaskan dua keponakannya karena Ibu dan Ayah harus menjaga anak-anaknya.
"Ga usah khawatir Nad. Anak-anak Gw ada pengasuhnya." Jawab Arif.
"Loh, Rif. Lu ada di sini juga." Ucap Nadin.
"Iya. Gw nganterin Laki Lu makan. Kasian dia ga ada yang kasih makan." Canda Arif.
"Makasih ya Rif. Maaf ngerepotin." Ucap Nadin.
"Yaelah Nad. Kaya sama siapa aja sih. Ngga ada ngerepotin ah." Jawab Arif.
"Kamu mau makan sesuatu sayang?" Tanya Angga mengalihkan rasa tidak enak Nadin.
"Ngga ada Mas. Nad cuma mau minum." Ucap Nadin.
Angga pun menyodorkan minum dengan menggunakan sedotan ke arah mulut Nadin. Nadin pun meminum air yang di berikan Angga kepadanya. Hampir setengahnya Nadin meminumnya karena memang Nadin merasa sangat haus.
"Habisin Nad. Biar Lu segeran. Terus makan bubur tuh Gw udah bawain sekalian." Ucap Arif.
"Ngga ah. Nanti aja deh Rif." Jawab Nadin.
"Makan aja sedikit-sedikit ya. Biar Mas suap kamu." Ucap Angga lembut.
"Tapi mulut Nad ngga enak Mas." Rengek Nadin.
"Paksa kali Nad. Kan Lu biasanya bilang gitu kalo anak-anak Lu sakit dan ga mau makan." Ucap Arif.
Akhirnya Nadin pun menuruti kedua lelaki di hadapannya untuk memakan bubur yang di bawakan oleh Arif. Angga menyuapinya dengan telaten. Hati Arif menghangat melihat keduanya. Itulah yang membuatnya sabar menghadapi Amel istrinya.
__ADS_1
Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏🙏