Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Atlet


__ADS_3

"Bu.Nadin."


"Ya."


"Mau foto dong bu boleh?" Tanya salah seorang suster.


"Owh! Boleh."


Nadin pun berfoto bersama para suster yang mengenalnya melalui seminar-seminar yang diikuti olehnya. Indah dan Dino meninggalkan Nadin berfoto dan menuju ruangan Mama.


"Wah, pada kumpul nih. Teh.Kasih."


"Gustiii geulis.. Sehat?"


"Alhamdulillah teh sehat. Teteh mah sama aja ih sama si teh.Nadin ga pernah pulang."


"Lah ini pulang kan?"


"Yee,,, ngeles aja kaya bajai."


"A.Angga kenalin ini Indah adiknya Nadin." Ucap mama.


Indah pun menoleh kearah orang yang di perkenalkan dengannya. Indah tersenyum dan menjulurkan tangan seraya menyebutkan namanya.


"Ga nanya dek siapa dia?" Tanya Arif.


"Siapa A?"


"Ko nanya ke Aa. Tanya dong sama orangnya."


"A.Angga siapa?"


"Mmm... maunya siapa?"


"Diiih... Pacarnya teh.Nadin ya?"


"Ko bisa lu nyimpulin gitu dek?" Tanya Kasih.


"Sama ga jelasnya sama si teteh hehehe.... Maaf ya A becanda. Eh, tapi iya pacaranya teteh?"


"Ya."


Dan Nadin pun masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Indah langsung mendekatinya dengan berkacak pinggang dan memasang muka marah.


"Diih, kenapa lu dek?"

__ADS_1


"Kapan nikah?"


"Ko tiba-tiba nanya gitu sih?"


"Jangan bilang nanti klo udah ada calon ya. Terus aja lu umpetin dari gw."


"Umpetin apaan sih dek."


Indah menunjuk Angga. Nadin pun mengerti. "Ya udah lu udah denger kan dari orangnya."


"Iiih... Teteh..."


"Teteh emang gitu dek. Ga pernah ngenalin Aa sama yang lain."


"Diiih... Ngga ah."


"Ngga salah lagi kan Nad." Jawab Kasih


"Duuh ribet deh ah.. Ntaran aja klo udah halal gw umumin."


"Gi** lu."


Nadin membereskan barang bawaannya bersiap membawa mama pulang. Nadin membawa mama dan bapak nya pulang disupirin Angga. Mobil Angga di bawa Arif dan Amel. Didalam mobil Angga, Nadin mama dan bapa berbincang ringan.


"Iya Pa. Nanti Aa bawa orang tua Aa."


Angga melirik kearah Nadin. Nadin hanya membalas dengan lirikan lagi. Tak membutuhkan waktu lama mereka pun sampai di rumah Orang tua Nadin.


"Maaf, kamu apanya Damar?"


"Damar mana?"


"Atlet."


"Owh! Itu kaka sepupu. Ko tiba-tiba nanyain Damar?"


"Saya pernah nganter dia kerumah ini."


"Hah! Ko bisa?"


"Kan kita bareng di olah raga yang sama."


"Serius?"


"Kenapa gitu?"

__ADS_1


"Teteh juga atlet yang sama Aa."


"Beneran?"


"Yang pasti Allah sudah mempersiapkan pertemuan kalian yang lebih indah." Jawab Bapa.


"Ayo kita turun." Ajak mama.


Semua pun masuk ke dalam rumah. Angga masih tak percaya jika dirinya pernah satu organisasi yang sama. Angga terus mengingat Nadin di organisasinya tapi tak sedikit pun Angga mengingatnya. Sampai Angga coba menghubungi Damar dan menanyakannya.


Tak lama Damar membalas pesan Angga. "Lu inget ga yang dapet juara pertama perempuan pas kita lomba di kota B yang lu bilang macan. Itu sepupu gw. Kenapa emangnya?" Angga termenung dan kembali mengingatnya.


"Minum ka."


"Eh, iya. Makasih ya Nad."


"Sama-sama. Sibuk ya ka? Serius amat baca chatnya."


"Kaka chat Damar nanyain kamu."


"Ya Allah kaka. Masih belum percaya?" Nadin menunjukan beberapa piala di lemari kaca.


Angga pun mendekati piala-piala tersebut dan yakin dengan yang di bilang Damar. "Macan".


"Kenapa Ka?"


"Kaka bener-bener ga nyangka Nad. Kaka dulu mengagumi kamu loh."


"Serius?"


"Iya. Tapi, waktu itu kaka udah berkomitmen sama Anya. Maaf."


"Eh, ko minta maaf. Udahlah itukan masa lalu Ka."


"Ka, Amel kerumah Ka.Arif dulu yah."


"Eh, jauh ga rumahnya?"


"Deket ko."


"Ya udah hati-hati."


Nadin pun menawarkan Angga untuk istirahat di kamar tamu. Mama istirahat di kamar di temani Bapa. Nadin masuk ke kamarnya yang sudah cukup lama tak di tinggali. Nadin merebahkan badannya di kasur. Membalas pesan-pesan yang dikirim anak didiknya. Membaca email yang masuk dan membalasnya satu persatu.


Sampai disini dulu ya semuanya. Terima kasih. Jangan lupa like dan komentnya ya. 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2