
Minggu ini Nadin harus berpisah sementara dengan Angga. Karena Angga harus mengurus hotel yang ada di kota Jk. Sejak pagi Nadin murung tak mau makan. Angga begitu berat meninggalkannya tapi apa mau dikata Angga yang harus menyelesaikannya.
Nadin pergi ke kampus diantar oleh Mang.Ujang bahkan di tunggui karena di takutkan Nadin ingin pulang atau menginginkan seauatu. Nadin terus menatap layar ponselnya berharap Angga menghubunginya.
"Ga ada ngajar Nad?" Tanya Kasih. Nadin pun hanya menggeleng.
"Terus ngajar jam berapa?"
"Ga ada. Gw mau ngontrol anak-anak di RS.C."
"Loh, kok belum jalan?"
"Emangnya kenapa?"
"Keburu siang Non. Udah ntar juga Ka.Angga nelfon Lu klo urusannya udah beres. Tenang aja deh."
"Lu ga ngerasain jadi gw sih. Kenapa klo gw masih mau di sini? Masalah?"
"Ngga gitu Nad,,, Nadiiin."
Nadin pun berlari tapi bukan ke tempat parkir mobilnya melainkan ke jalan raya. Kasih melihat Nadin terus berlari Kasih pun mengejar dan memanggilnya. Mang.Ujang yang melihat Nadin berlari pun ikut mengejar Nadin dan memanggil majikannya itu.
Tapi apa yang terjadi Nadin tanpa menoleh kiri kanan terus menyebrangi jalanan yang cukup ramai.
Brak...
"Nadiiiiiiiiiiiiiiinnnn......."
Mang ujang langsung menggendong majikannya tanpa aba-aba dengan rasa bersalah yang begitu mendalam. Begitupun dengan Kasih yang ikut membantu mang.Ujang dengan perasaan bersalah yang begitu dalam. Sebabnya lah yang membuat Nadin berlari begitu saja. Dia lupa jika Nadin tengah begitu sensitif dengan kehamilannya.
__ADS_1
Aldo, Santi segera menghampiri mobil Nadin. Aldo mengambil alih kemudi dari Mang.Ujang karena di khawatirkan terjadi hal yang tak diinginkan lagi. Semua dosen Mahasiswa dan Mahasiswi berkerumun melihat kejadian bahkan ada yang sampai menangisi Nadin.
Dalam perjalanan Aldo meminta Santi menghubungi Angga dan Rian. Namun naas Angga belum bisa di hubungi dikarenakan tengah meeting bersama klien.
"Ka.Rian segera ke RS.A." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Santi. Tanpa aba-aba lagi Santi segera menghubungi Iwan sekretaris Angga.
"Ka.Iwan tolong hubungi Ka.Angga dan minta dia segera ke RS.A. Sekarang."
Rian dan Iwan bahkan belum sempat menjawab sambungan telfon dari Santi. Tapi dengan sigap mereka segera bergerak. Rian segera meluncur ke RS.A. Iwan pun demikian sambil berusaha menghubungi Angga.
Setelah hampir sampai di RS.A sambungan telfon Iwan tersambung dengan Angga.
"Halo Wan. Ada apa? Santi nelfonin gw berkali-kali."
"Bos pulang sekarang gw udah nyuruh supir ngenterin Lu. Biar gw yang gantiin."
"Kenapa Wan?"
Angga begitu kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu Angga keluar dari gedung hotel miliknya Angga sudah di tunggu oleh supirnya yang akan mengantarkan Angga pulang ke kota C.
"Do, kenapa?" Tanya Iwan.
"Nadin ketabrak Bro."
"Astaga ko bisa?"
"Gw ga tau ceritanya. Kasih masih syok."
"Rian mana?"
__ADS_1
"Didalam nungguin si Kasih. Bini Gw nungguin Nadin belum sadar."
"Mang.Ujang. Kobisa Ibu ketabrak?"
"Saya kurang tau Pa. Saya liat Ibu lari ke luar saya kejar tapi belum sempat saya kena ibu mobil udah datang Pa."
"Dimana pemilik mobilnya?"
"Diurus staf gw di kantor polisi. Angga gimana?"
"Tadi gw udah suruh dia balik. Mungkin dia di jalan. Ya udah klo gitu gw mesti gantiin posisinya Angga. Gw balik nanti hubungi gw lagi ya Bro."
"Oke. Hati-hati Bro."
Iwan pun segera menuju kota.Jk menggantikan Angga di perjalanan Iwan menghubungi Angga.
"Bos, Lu dah sampe mana?"
"Gw udah di Tol. Ada apa sih?"
"Udah Lu balik aja pokonya. Gw udah jalan ke kota Jk. Lu email laporannya sekarang bisa kan? Biar gw bisa buka nanti kalo udah nyampe."
"Oke."
Sementara Mang.Ujang sudah menghubungi Ibu dan Ayah. Ibu segera menghubungi Mama dan Bapa memberitahukan Nadin kecelakaan. Semua segera meluncur ke RS.A. Nadin belum juga sadar. Kasih terus menangisi Nadin dan menyalahkan dirinya.
"Kas, udah ga usah menyalahkan diri kamu sendiri ini hanya kecelakaan." Ucap Santi menenangkan.
"Sayang, sudah yah. Nadin akan tambah sedih kalo kamu nangis terus."
__ADS_1
Tbc...