
Neta hanya diam setelah mendengarkan cerita Rama dan Nayya. Nayya memperhatikan Neta yang hanya diam membisu menampakkan raut sendu.
"Dek,," Panggil Nayya.
Semua pun tertuju pada Neta yang hanya diam.
"Dek, Kamu baik-baik saja?" Tanya Rama.
"Hah... Eh, iya Kak." Jawab Neta.
"Kamu ga berubah fikiran kan?" Tanya Nayya.
"Rubah fikiran tentang apa?" Tanya Neta.
"Yoga." Ucap Nayya.
"Kenapa harus berubah. Itu masa lalu Mas.Yoga. Bukankah siapapun punya masa lalu. Kakak saja bisa menerima Kak.Rama yang sudah berbuntut kenapa adek ga bisa menerima Mas.Yoga." Jelas Neta.
"Berbeda dong dek." Ucap Nayya.
"Sama Kak. Bagaimana pun masa lalunya akan memiliki resiko tersendiri. Jika Mas.Yoga mau berjuang dan mau menunggu Neta berarti Mas.Yoga jodoh Neta." Jawab Neta.
"Yakin banget Dek. Gimana kalau masalah datang dari mu. Bagaimana jika ada laki-laki yang mendekatimu?" Tanya Nathan.
"Kenapa Mas mendo'akan seperti itu." Ucap Neta.
"Ya kan masalah tidak hanya datang dari pihak laki-laki saja perempuan pun bisa menimbulkan masalah." Ucap Nathan.
"Apapun siapapun pasti akan menimbulkan masalah. Kita diam ataupun bergerak pasti akan menimbulkan masalah. Tergantung bagaimana kita menyikapi setiap masalah yang ada. Masalah besar kita perkecil dan masalah kecil kita hilangkan. Kuncinya harus saling terbuka satu sama lain." Jelas Nadin memberi petuah.
Semua pun menganggukan kepalanya tanda setuju. Opa dan Oma berpamitan untuk istirahat. Rita membantu Neta mengerjakan tugas sekolahnya sementara Nathan ke kantor menemui Papa karena ada yang harus di kerjakan.
Bude.Susi bersiap karena akan pindah ke rumah barunya. Sementara Nayya dan Rama pergi melihat rumah baru mereka yang sedang dalam perbaikan.
Sore hari semua keluarga sudah berkumpul. Rencananya semau mau mengantarkan kepindahan Bude Susi ke rumah barunya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah Nadin dan Angga. Pakde sengaja membeli rumah berdekatan dengan rumah Nadin agar Bude Susi tak kesepian.
Semua pun hanya berjalan kaki menuju rumah Bude Susi. Karena sore hari udara tak terlalu panas. Oma dan Opa pun ikut serta berjalan kaki sekalian olah raga begitu katanya.
"Alhamdulillah.." Ucap Pakde bersyukur saat mereka sampai di depan gerbang rumahnya.
Pakde membuka kunci gerbang dan membukanya. Tampak rumah sangat sederhana dengan halaman yang cukup luas yang di tumbuhi tanaman-tanaman menyejukkan.
__ADS_1
"Masya Allah Mba. Rumahnya jadi beda banget ya." Ucap Nadin karena mengetahui rumah itu sebelumnya.
"Mba juga baru tau Dek. Mas.Joko tak pernah mengijinkan Mba untuk lihat. Katanya surprise gitu." Ucap Mba Susi sambil berjalan bergandengan dengan suaminya.
"Kalau ga gitu bukan kejutan namanya dong dek." Ucap Pakde santai.
Karena Pakde dan Bude belum berencana menggunakan jasa maid. Pakde pun hanya membeli rumah sederhana agar Bude tak terlalu kelelahan merawat rumah tentunya dengan bantuan Pakde juga. Karena Pakde dan Bude tidak memiliki anak.
Pakde sudah menyiapkan kursi2 di luar untuk menyambut seluruh keluarga saat pindah rumah. Pakde di bantu oleh orang-orang dari rumah Nadin. Beruntung mereka bisa membantu karena memang jarak rumah yang dekat.
Sebenarnya Nayya pun ingin rumah dekat dengan rumah oeang tuanya hanya saja tak ada rumah kosong lagi di sekitar rumah mereka. Akhirnya Rama membeli rumah berbeda blok sari rumah orang tua Nayya namun masih satu komplek perumahan.
"Ikaan..."Teriak Kana girang melihat kolam ikan yang sengaja Pakde buat karena kesenangannya. Menurutnya ikan-ikan itu bisa menenangkan dikala suntuk.
"Sayang, hati-hati ya. Nanti basah bajunya." Ucap Nayya lembut.
"Momi Ka mau belenang cama ikan." Ucap Kana.
"Aduh sayang mana ada. Nanti ikan-ikan nya bisa mabok kalau Kakak berenang sama ikan." Larang Nayya lembut.
"No Momi. Ikan mau belenang cama Ka." Ucap Kana polos.
"Sayang, sekarang kan sudah sore. Besok saja ya berenangnya. Nanti Kakak masuk angin." Tolak Nayya lagi.
"Yaah,,, jangan nangis dong kan Momi jadi sedih kalau Kakak nangis. Kakak ga sayang Momi hiks...hiks.." Ucap Nayya berpura-pura menangis.
"No Momi. Ka cayang Momi. Momi don't clay. Ka ga jadi belenang kok Momi." Ucap Kana menenangkan Nayya.
Mereka pun berpelukan dan Nayya menjauhkan Kana dari kolam ikan karena takut-takut Kana mengingat lagi keinginannya untuk berenang bersama ikan. Terlebih lagi Nayya takut Kana nekat dan langsung nyebur ke kolam.
Semua pun melihat interaksi Nayya dan Kana betapa bangganya Bude melihat kedewasaan Nayya. Bude pun yakin Nayya akan bisa menjadi ibu yang baik bagi Kanaya seperti Nadin bagi Nayya.
Bude sepeti the javu setiap kali melihat interaksi antara Nayya dan Kanaya. Bude seperti melihat saat Nadin dan Nayya dulu. Kehangatan dan kelembutan Nadin mampu meluluhkan kenakalan khas anak kecil Nayya. Dan Nadin pun tak pernah sekali pun membentak anak-anaknya. Jika anak-anaknya bersalah Nadin hanya akan mendiamkannya sampai anaknya mengerti sendiri atau Nadin akan menegur mereka dengan sangat hati-hati.
Bude yakin Nayya akan menurun sikap Nadin. Karena walau bagaimana pun ikatan batin Nadin dan Nayya sangat kuat dulu. Bahkan samapi sekarang pun. Nayya tak pernah tau ibu kadungnya. Yang dia tau Nadinlah ibu kandungnya. Karena sejak kecil hanya foto Nadin yang di perlihatkan oleh Bude.
"Bude," Tegur Netanya.
"Eh, Kenapa Dek? Mau sesuatu?" Tanya Bude.
"Tidak. Tapi Adek lihat dari tadi Bude melamun. Ada apa?" Tanya Netanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Dek. Bude hanya bersyukur bisa memiliki keluarga seperti kalian." Ucap Bude dengan mata berkaca-kaca.
"Bude." Ucap Neta kemudian menghambur kedalam pelukan Bude.
"Selalu ingat Bude ya sayang. Jangan pernah melupakan Bude." Ucap Bude lirih dengan air mata yang sudah meluncur begitu saja.
"Adek sayang Bude." Ucap Neta dalam pelukan Bude.
"Adek,,, sana gabung sama yang lain untuk Makan" Titah Angga dan Nadin.
"Mama sama Papa udah makan?" Tanya Neta.
"Baru mau. Nih." Tunjuk Nadin pada piring yang di bawa Angga.
"Maaf ya Dek. Seadanya makanannya." Ucap Bude.
"Seadanya apa sih Mba. Segini serba ada juga. Ayok Mba makan. Enak kan kalo rame-rame." Ajak Nadin.
"Iya. Ini Mba mau ambil dulu." Pamit Bude.
Semua pun tampak senang berada di rumah Bude. Menikmati udara sore yang sejuk. Karena hari mulai gelap Bude pun mengajak Oma dan Opa masuk kedalam rumah. Namun, Oma dan Opa memilih berpamitan dan pulang ke rumah Nadin.
"Ibu, Ayah. Sering-sering menginap di rumah Kami ya." Pinta Pakde pada Oma dan Opa.
"Nanti kami malah merepotkan kalian." Ucap Opa.
"Tidak ada Yah. Kalian tak pernah membuat kami repot. Dan tentunya kami akan senang jika Ibu dan Ayah berkenan tinggal di rumah ini bersama kami." Ajak Pakde tulus.
"Terima kasih Nak. Biar nanti kami bergilir saja. Menginap disini, di rumah Angga juga rumah Amel." Jawab Opa.
"Baiklah Yah. Kami tunggu giliran di rumah kami." Ucap Pakde.
"Kalau begitu kami pulang lebih dulu ya." Pamit Oma.
"Nathan juga Pakde, Bude. Kasihan Opa dan Oma pulang berdua saja." Pamit Nathan beralasan.
"Neta juga deh Mas ikut pulang." Ucap Neta.
'Ka itut onty." Pinta Kanaya.
"Ka mau ikut pulang?" Tanya Neta dan Kanaya pun mengangguk cepat.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏