Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Cemburu


__ADS_3

Hari pernikahan Amel dan Arif semakin dekat dan kehamilan Nadin pun semakin membesar. Kemanjaan Nadin pun bukan hanya pada Angga melainkan kepada seluruh penghuni rumah.


Dengan sangat terpaksa Nayya pun sering di titipkan kepada Nenek dan Aki dikarenakan takut meniru manjanya Nadin kepada semua orang. Nayya pun senang bisa tinggal bersama Nenek dan Aki.


Nadin merasa berat berjauhan dengan Nayya namun Nadin pun harus terbiasa berjauhan dengan Nayya. Walaupun Nadin manja namun sifat keibuannya masih ada. Dengan segala bujukan akhirnya Nadin merelakan Nayya tinggal sementara bersama Nenek dan Akinya.


Angga pun lebih sering membawa Nadin ke kantor karena banyak pekerjaan yang tidak bisa di bawa pulang. Seperti hari ini Nadin ikut bersama Angga meeting di salah satu restoran ternama di kota C. Seperti biasa Nadin tak pernah mau satu meja dengan Angga karena Nadin tak mau mendengarkan hal bisnis.


Dan naasnya perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Angga mengutus sekretarisnya yang perempuan untuk meeting bersama dengan Angga. Walaupun Angga tak sendiri ada Iwan bersama dengan Angga. Namun Nadin menangkap ada tatapan kekaguman dari pandangan perempuan tersebut kepada Angga.


"Ayah, Nad mau pulang."


"Loh, Angga kemana?"


"Nad, mau Ayah jemput sekarang." cecar Nadin dalam isaknya.


Ayah pun panik dan langsung meluncur pergi ke alamat yang sudah Nadin kirimkan. Ibu menyarankan agar Ayah memakai supir namun Ayah menolaknya. Dan Ibu pun berpesan pada Ayah untuk berhati-hati.


Sampai dilokasi Ayah melihat mobil Angga terparkir lengkap dengan Mang.Ujangnya. "Mang.Ujang, Angga di dalam?"

__ADS_1


"Iya Tuan sama Pa.Iwan dan Ibu."


"Ya sudah saya masuk dulu." Ayah pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Dilihatnya Nadin yang tengah menangis sendiri di meja terpisah dengan Angga. Angga melihat kedatangan Ayahnya dan segera menghampiri Ayah.


"Ayah ada apa?"


"Ada yang minta di jemput." Sambil menunjuk ke arah Nadin.


Angga pun menepok jidat merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Ayah menghampiri Nadin.


"Kesayangan Ayah."


Perempuan perwakilan perusahaan H pun merasa kecewa karena Angga harus berpamitan ditengah-tengah meeting tanpa adanya kejelasan. Namun berbeda dengan Iwan yang sudah mengetahui kondisinya.


Ayah membawa Nadin keluar dari restoran dan memapahnya sampai kedalam mobil. Angga mengikuti langkah mereka. Dan meminta Mang.Ujang untuk tetap menunggu Iwan. Angga mengambil alih kemudi. Ayah duduk di bangku penumpang bersama Nadin yang masih terisak.


Ayah terus membujuk Nadin dengan menawarkan segala macam makanan kesukaan Nadin namun Nadin masih tetap menangis dan meracau kalo Angga sudah tak sayang lagi.


"Sayang, dengar Ayah yah. Rekan kerja kita memang tak semuanya laki-laki tapi yakinlah sama Ayah. Angga sangat menyangi kamu."

__ADS_1


"Mas Angga jahat Yah"


"Sssstttt.... Sampai di rumah kita bicarakan baik-baik ya sayang."


Nadin pun menyandarkan kepalanya di bahu Ayah. Nadin belum menyadari bahwa Anggalah yang mengemudi. Ibu menyambut kedatangan Suami dan Anak-anaknya.


"Ibuuu.... Mas.Angga jahat." Racau Nadin salam tangisnya. Angga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ayah merangkul Angga dan berbisik. "Makanya cari tau dulu siapa yang mau datang meeting bersama kita."


"Mereka mengabari lima menit sebelum orang itu datang Yah."


"Perusahaan H?" Tanya Ayah.


"Iya Yah."


"Batalkan saja. Sana telfon Iwan." Angga pun menuruti perintah Ayah dan meminta Iwan membatalkan perjanjiannya. Dan ternyata perjanjian belum terjadi karena Iwan mencium bau ketidak beresan dengan proposal pengajuan mereka.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2