Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Laporan Keuangan


__ADS_3

Nadin menemukan kejanggalan dari laporan pa.Jamal. Nadin mengambil alih laptopnya dan memeriksa sendiri laporannya.


"Kenapa Nad?" Tanya Arif.


"Bentar. Lu telfon Ivan deh kemana dia."


"Emang kenapa Nad?" Tanya Nando gugup.


"Nanti Lu semua tau deh."


Nadin terus saja memeriksa laporan keuangan. Sampai Ivan datang pun dia acuhkan. Ivan, Nando dan Arif pun saling pandang. Ivan dan Arif berpura-pura seolah tak tau apa yang di kerjakan Nadin.


"Alhamdulillah..."


"Kenapa Nad?" Tanya Ivan.


"Lu kemana sih. Udah siang baru ngantor."


"Nganterin Mamih dulu. Gw kan udah bilang sama Nando."


"Nih." Nadin memperlihatkan laporan keuangan di laptopnya sama laporan keuangan yang di berikan pa Jamal.


Pa.Jamal dan Nando semakin pucat dibuatnya.


"Ya Tuhan. Lu nuduh gw?" Tanya Ivan.


"Loh, ko Lu nyolot."


"Terus maksud Lu apaan coba?"


"Ya gw cuma ngasih tau Lu aja ini apa maksudnya?"


"Ya Lu liat aja sendiri."


"Udah...Udah ih kenapa sih kalian." Jawab Arif sok pura-pura bijak.

__ADS_1


Mereka bertiga pun memeriksa laporan keuangannya.


"Nih, Lu cek aja M-banking gw mana ada masuk uang segede itu." Ivan menunjukan M-banking miliknya.


"Lu punya rekening lain kali?" Sindir Nadin.


"Sana Lu cek sendiri ke tiap Bank. Gw dari dulu ga pernah buka rekening banyak."


"Kali aja Lu transfer ke rekening mamih."


"Ya Tuhan Nadiiiin.... Sok Lu telfon. Atau Lu suruh kesini aja. Mana ada Gw kaya gitu. Sebelum Gw transfer tu duit. Bini Gw minta cerai duluan kalo Gw ampe begituan. Amit-amit deh Gw."


"Nan," Tanya Arif pelan.


"Hah! A..Apa?" Jawab Nando gugup.


"Lu tau masalah ini?"


"Mana gw tau. Itu kan bukan ranah Gw." Jawab Nando berusaha netral.


"M...m... Anu Bu."


"Kenapa? Bapa di bawah tekanan?"


"Sa...saya..."


"Saya apa?"


"Maaf Bu." Jawab Pa.Jamal menunduk.


"Kalian kenapa sih? Ini usaha kita bersama. Kalo usaha ini ancur kita semua ancur. Ini adalah masalah besar. Dua puluh juta itu bukan uang recehan." Ucap Nadin penuh emosi.


"Sabar Nad." Ucap Arif berusaha menenangkan Nadin dan juga dirinya.


"Kalo ada diantara kita kesulitan keuangan apa ya ga bisa di bicarakan baik-baik."

__ADS_1


"Nad, Bini gw emang baru lahiran. Tapi, sumpah demi Tuhan gw ga senekad itu pake duit perusahaan." Jawab Ivan.


"Teruuuusss...." Semua hanya diam menunduk.


"Semua simpan ponsel kalian di meja. Pa.Jamal pergi ke bank minta rekening korannya."


"Ba...Baik Bu." Jawab Pa Jamal sambil berdiri dan segera pergi ke bank.


"Siapa yang nyimpen ATM perusahaan?"


"Pa.Jamal" Jawab Ivan dan Nando bersamaan.


Nadin dan Arif melihat ke arah Nando bersamaan. Pasalnya hanya Ivan,Arif dan Nadin lah yang mengetahui jika ATM pabrik Pa.Jamal yang pegang.


"Kenapa?" Tanya Nando. Ketiganya pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Mau ngapain Lu?" Tanya Nadin saat Nando memegang ponselnya.


"Loh. Inikan ponsel gw emang kenapa?"


"Ga ada yang boleh pegang ponsel sampai Pa.Jamal datang." Jawab Nadin penuh penekanan.


"Apaan sih Nad." Jawab Nando.


"Kenapa? Masalah buat Lu?"


"Ya emang apa hubungannya Pa.Jamal sama main ponsel."


"Banyak. Tapi ya silahkan aja kalo Lu mau main ponsel. Tapi, gw yakin Pa.Jamal ga akan balik kesini sesuai harapan kita."


"Maksud Lu apaan sih Nad?" Tanya Nando terpancing emosi.


"Biasa aja deh Nan. Emang Lu kenapa sih? Lu mati kalo ga pegang ponsel dua jam aja?"


Nando pun diam sambil menahan emosinya. Ivan dan Arif hanya diam untuk menetralkan emosi mereka.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2