
Sore hari setelah kepulangan Netanya semua pun berkumpul dan duduk santai di ruang keluarga. Nadin sudah menyediakan camilan dan minuman untuk mereka semua.
Kedua cucunya di titipkan kepada Bibik karena takut mereka bosan dengan pembicaraan orang dewasa.
"Pah, Mah, ada apa kita di kumpulkan?" Tanya Nathan sebagai anak laki-laki di keluarganya.
"Begini,,," Mulai Angga kemudian menarik nafas dan menoleh pada putri bungsunya yang tengah memakan camilan yang Nadin buat.
"Kemarin Yoga berbicara dengan Papa dan Mama. Dia meminta Netanya untuk menjadi istrinya." Ucap Angga terhenti.
"Serius?" Tanya Nayya spontan.
"Serius dong Kak. Makanya Mama sama Papa kumpulin kalian. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Nadin.
"Sebelumnya, Nath sebagai anak laki-laki yang dituakan. Nath mau tanya sama Adek. Adek siap jika Yoga meminang Adek dalam waktu dekat?" Tanya Nathan pada adiknya.
"Menikah bukan perkara mudah loh Dek. Apalagi Adek masih kuliah. Apa Adek bisa membagi waktunya? Bagaimana jika hamil saat kuliah?" Tanya Nayya bertubi-tubi.
Netanya pun menarik nafas dalam bersiap untuk menjawab pertanyaan kedua Kakaknya. Rama, Rika, Ayah juga Onty Amel hanya diam sebagai pendengar. Jika pendapatnya diminta barulah mereka mengutarakannya.
"Sebelumnya Adek ucapkan terima kasih karena keluarga ini tidak sembarangan dalam memutuskan segala hal. Adek senang Papa dan Mama mendiskusikan ini pada Kakak-kakak Adek. Sebelumnya Adek juga udah fikirkan baik buruknya menikah muda." Jawab Netanya panjang kali lebar.
"Perkara siap atau tidak seperti yang Mas.Nath tadi bilang sampai kapan pun jika kita katakan tidak siap maka akan selamanya tidak siap. Tapi jika adek bilang siap adek pun ga tau adek siap untuk apa. Siap di pinang Mas.Yoga atau siap menjalani rumah tangganya." Jawab Netanya.
"Dan seperti yang Kakak katakan menikah bukan perkara mudah dan bagaimana adek membagi waktu kuliah dan suami mungkin adek ga bisa menjawabnya Kak. Karena adek belum mengalaminya. Tapi, jika Tuhan berkehendak adek mau bilang apa. Tuhan memberikan cobaan pada umatnya sesuai kemampuan umatnya. Dan bagaimana jika adek hamil. Itu rejeki yang Tuhan kasih adek ga bisa menolaknya." Jawab Netanya panjang kali lebar luas keliling.
"Ya, jika Adek yakin. Kita hanya bisa mendukung kamu sepenuhnya. Jangan pernah takut dan malu berbicara dengan kita jika ada yang kamu khawatirkan. Dan jangan pernah menanggung semuanya sendiri. Bicarakanlah segala segala sesuatunya dengan suami adek nanti. Jangan pernah ada yang di tutupi dan saling jujurlah sayu sama lain meskipun itu menyakitkan. Karena akan lebih menyakitkan lagi jika pasangan kita mengetahui hal buruk dari orang lain." Petuah Nathan pada adik bungsunya.
__ADS_1
"Terima kasih Mas. Akan Adek ingat semua perkataan Mas." Jawab Netanya.
"Kalau begitu, jika semua setuju dan Adek juga siap dengan segala resiko menikah muda. Mintalah pada Yoga untuk datang melamar kamu minggu depan." Titah Angga pada Netanya.
"Iya Pah. Nanti Adek kabarin Mas.Yoga." Jawab Netanya.
Setelah ketegangan terjadi karena diskusi mereka akhirnya suasana pun kembali menghangat. Kedua bocah pun kembali menemani mereka di ruang keluarga. Suasana sore hari yang begitu menyenangkan dan menghangatkan.
Rika yang terlahir sebagai anak tunggal pun merasa bahagia ketika bisa berkumpul bersama dengan keluarga besar suaminya. Suasa rumah yang begitu hangat membuatnya lupa dengan keluahnnya yang sering mual dan muntah karena kehamilannya.
Nathan pun sedikit lega karena Rika tak tewel ketika berkumpul di rumah orang tuanya. Padahal awalnya Nathan cukup khawatir jika Rika akan rewel dengan kehamilannya karena banyak orang berkumpul. Tapi, nyatanya tidak. Bahkan Rika asik memakan brownis buatan ibu mertuanya.
Pagi hari para lelaki di hebohkan oleh anak kecil. Rama, Nathan, Angga dan Opa heboh dengan Kanaya yang nyebur ke kolam ikan. Kanaya memang sering bermain di pinggir kolam namun, karena ketelodoran para lelaki dewasnya Kanaya pun terjun bebas kedalam kolam ikan. Untunglah Rama dengan sigap mengangkat anaknya naik ke atas lagi.
Namun, tanpa merasa bersalah Kanaya pun mengoceh.
"Ikan...Ikan... Dadah." Ucap nya melambaikan tangannya pada kolam ikan.
Nayya, Nadin, Netanya, Rika dan Onty Amel pun menghampiri mereka semua karena mendengar keributan dan tangisan Kalila.
"Ada apa?" Tanya Nayya.
"Kana nyemplung dan Kali kaget karena kita semua tertawa terlalu kencang." Jelas Rama.
"Owh! Sayangnya Momi. Sini Momi peluk. Kali kaget ya." Ucap Nayya mengambil Kali yang berada dalam gendongan Rama.
"Ayok Kakak Oma gantikan bajunya biar mandi sekalian." Ajak Nadin pada cucunya.
__ADS_1
"Ote Oma." Jawab Kanaya dengan santainya.
Dan itu semua membuat para orang dewasa menggelengkan kepalanya. Kanaya tak ada takut-takut nya. Padahal dia baru saja nyemplung kedalam kolam.
Nayya dan Rama memang tak pernah menakut-nakuti anaknya dalam hal apapun karena Nayya tidak ingin anaknya menjadi penakut. Nayya memang sangat lembut memperlakukan kedua putrinya bahkan bisa dikatakan Nayya tak pernah marah kepada keduanya.
Nayya selalu mencontoh cara Nadin mendidik ketiga anaknya. Nayya tak pernah sekalipun mendapat bentakan dari Nadin. Jika mereka salah pun Nadin akan memberitahukannya dengan lembut. Nadin tak ingin hati anaknya mendapat goresan dari bentakannya.
Nayya pun menyusui Kali dan Nadin memandikan Kanaya di dalam kamar mandi kamar Nayya. Karena mendengar suara air dan tawa Kakaknya Kali pun tak mau menyusu Kali bergulang guling dan mengoceh.
"Mam... maam...ba...baa..." Ucap Kalila.
"Kenapa? Adek mau mandi sama Oma juga iya seperti Kakak?" Tanya Nayya.
Kalila pun tertawa khas bayik membuat Nayya gemas. Nayya menggendongnya ke kamar mandi untuk memperlihatkan Kanaya ya g tengah mandi bersama Nadin dan Kalila pun meminta di turunkan dari gendongan Nayya.
"Astaga Anak Momi mau mandi juga. Boleh sayang sebentar ya Momi buka baju adek dulu." Ucap Nayya dan segera membuka baju Kalila.
"Uh, sayang. Sini mandi sama Oma dan Kakak." Ajak Nadin.
Nadin pun meletakkan Kalila di samping Kanaya namun dengan masih di pegangi oleh Nadin karena Kalila belum bisa duduk sendiri.
"Kakak, sudah mandinya?" Tanya Nayya.
"No Momi No." Jawab Kanaya tidak ingin berhenti mandi.
"Baiklah Momi akan siapkan baju kalian dulu." Ucap Nayya kemudian membawakan baju untuk kedua anaknya. Nayya menyimpannya di atas tempat tidur dan membawa dua handuk untuk Kanaya dan Kalila.
__ADS_1
Nayya kembali masuk kedalam kamar mandi dan membantu Nadin dalam memandikan kedua anaknya.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Kasih hadiah juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏