Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Pak Yoga


__ADS_3

Sore hari saat seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga tanpa kehadiran Oma dan Opa tentunya yang sudah lebih dulu pergi ke rumah Anel untuk mempersiapkan lamaran yang akan di terima oleh Refa anak sulung amel dan Arif.


Usia Refa memang di bawah Nayya dan hanya berjarak satu tahun di bawah Nathan. Namun, Refa menerima pinangan lelaki pilihan Ayahnya. Yakni Rafael anak sulung dari sahabat mereka Ivan. Ya, Arif memang menjodohkan anak dari Ivan dengan putri sulungnya.


Nadin akan mencoba membicarakan perihal kedatangan orang tua Rama siang tadi kepada suami dan anaknya Nayya terutama.


"Pah, Kak." Ucap Nadin.


"Ya Mah." Jawab keduanya bersamaan.


"Hmm... Tadi siang ada orang tua Rama datang kemari." Ucap Nadin menggantung.


"Loh, apa Ibu itu sudah keluar dari rumah sakit." Sebut Nayya heran.


"Kak." Ucap Nadin.


"Eh, iya. Apa Ibu nya Mas Rama sudah keluar rumah sakit." Ralat Nayya.


"Kalau belum ga akan datang kemari Kak." Jawab Nadin.


"Ada apa mereka datang kemari Ma?" Tanya Angga di angguki oleh ketiga anaknya.


Nadin pun menatap satu persatu anggota keluarganya dengan tatapan ragu namun harus di sampaikan. Nadin pun mencoba mengusap wajahnya.


"Mereka melamar anak gadis kita Pah." Ucap Nadin.


Deg


Deg


Dada Nayya bergemuruh. Nayya tak tau apa yang harus dia katakan. Belum pernah sebelumnya dia dekat dengan lelaki mana pun. Bahkan pacaran pun ga pernah. Tiba-tiba saja ada yang mengajaknya menikah. Nayya hanya diam menunduk.


"Waah,,, Kakak ga jadi ke salip dong sama Refa." Ledek Nathan.


"Mas.Nathan." Ucap Neta.


"Kalian sudah membicarakannya Kak?" Tanya Angga.


"Maksud Papa?" Tanya Nayya tak mengerti.


"Kakak sama Rama. Sudah membicarakan masalah ini?" Tanya Angga kembali.


"Kakak ga pernah ngobrol apapun sama dia Pah. Selain beberapa hari lalu pas dia nanyain Kana." Jawab Nayya jujur.


,Lantas mengapa orang tuanya datang untuk melamar mu Kak?" Tanya Nadin heran.


"Kakak ga tau." Jawab Nayya.

__ADS_1


"Hm... Ya sudah biarkan saja dulu. Tapi Kakak juga harus fikirkan lagi. Bagaimana jika mereka datang kembali. Apa Kakak akan menerimanya atau tidak." Ucap Angga.


*Iya Pah." Jawab Nayya.


"Owh! Iya. Besok jam berapa Kak acaranya?" Tanya Nadin mengalihkan pembicaraan karena Nadin mengerti Nayya cukup kaget dengan berita lamarannya.


"Jam delapan Mah. Kalian datang kan?" Tanya Nayya.


"Sepertinya hanya Mama dan Papa Kak. Nathan ada kuliah dan Neta lihatlah sendiri apa yang terjadi dengan adik mu itu." Jelas Mama.


"Kamu kenapa sih dek?" Tanya Nayya pada Neta.


"Tadi jam olah raga adek kena bola Kak." Jawab Neta.


"Kena bola kok bisa babak belur begini?" Tanya Nathan.


"Jadi, pas anak laki-laki main basket adek nonton di pinggir gitu. ga tau gimana ceritanya bola kena kepala adek terus adek masuk ke selokan yang terbuka gitu. Pas adek liat ada darah adek langsung lemes gitu. Terus ga tau lagi deh. Tiba-tiba adek lagi bobo di kamar." Jelas Adek.


"Terus kamu pulang di anter siapa?" Tanya Papa.


"Adek ga tau Pah. Kan tadi adek bilang pas adek inget udah lagi bobo di kamar." Jelas Neta.


"Tadi sopir pribadi gurunya Neta Pah yang anter." Ucap Nadin.


"Hah!" Ucap Neta kaget.


"Kenapa sih Dek." Ucap Nayya sedikit menaikan volume suaranya.


"Up's! Maaf Kak. Adek cuma kaget." Jawab Neta.


"Lagian biasa aja sih dek. Dianter sopir pribadi guru kamu aja kagetnya kaya lihat setan aja." Ucap Nayya kesal.


"Kakak ga tau sih guru olah raga adek." Ucap Neta tanpa dosa.


"Sudah. Ayo semua tidur sudah malam." Titah Nadin.


Semua pun menurut dan masuk kedalam kamar masing-masing. Begitu juga dengan Nadin dan Angga. Didalam kamar Nadin masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan wajah dan gosok gigi seperti biasanya.


Pagi hari suasana di rumah Angga dan Nadin sangat ricuh karena kedatangan MuA untuk merias Nadin dan Nayya yang akan wisuda. Nayya memang menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari waktu yang di tentukan.


Setelah semua siap Nayya pun pergi ke acara wisudanya bersama Angga dan Nadin. Tinggallah Neta seorang diri di rumah. Walau tak sendiri dalam artian sebenarnya karena ada Bibik yang menemani.


"Non, Ada tamu di depan." Lapor Bibik pada Neta yang tengah belajar sendiri di kamar.


"Siapa Bik?" Tanya Neta.


"Ngga tau Non. Dia nanyain Nyonya sama Non.Neta." Jelas Bibik.

__ADS_1


"Ya udah makasih ya Bik." Ucap Neta.


Neta pun beranjak dari duduknya menuju ruang tamu. Karena seperti yang di katakan oleh Bibik bahwa tamunya menunggu di ruang tamu. Neta berjalan perlahan karena kakinya masih terasa nyeri untuk di bawa jalan. Beruntunglah rumah keluarga Angga tak memiliki tangga. Sehingga tak menyulitkan bagi Neta.


"Pak.Yoga." Sapa Neta.


"Eh, Neta. Bagaimana luka mu sudah membaik?" Tanya Orang yang bernama Yoga yang ternyata adalah guru olah raga Neta.


"Hm... Seperti yang Bapak lihat. Silahkan duduk Pak." Titah Neta.


"Kamu hanya sendiri?" Tanya Yoga.


"Iya Pak. Kebetulan orang tua saya sedang menghadiri wisuda Kakak pertama saya. Mungkin nanti siang mereka datang. Bapak ada perlu dengan orang tua saya?" Tanya Neta.


"Kalo mereka ada itu lebih baik. Tapi, sudah melihat kamu baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup." Jawab Yoga.


"Terima kasih Pak. Sudah menyempatkan menjenguk saya. Silahkan diminum Pak." Titah Neta.


"Iya sama-sama. Saya cicipi ya kue nya." Ucap Yoga.


Neta merasa salah tingkah dengan kehadiran guru olah raganya ini. Karena Pak.Yoga termasuk guru muda yang di idolakan teman-temannya.


"Kuenya enak. Home made ya?" Tanya Yoga.


"Kok Bapak tahu?"Tanya Neta balik.


"Karena rasanya berbeda dengan yang dari toko." Jawab Yoga.


"Owh! Begitu. Itu Mama Kami yang membuatnya Pak." Jawab Neta.


"Neta bisa membuatnya?" Tanya Yoga.


"Masih belajar Pak. Rasanya belum seenak kue buatan Mama. Karena kata Mama perempuan harus bisa memasak jadi kami anak perempuan Mama sudah biasa di ajarkan masuk ke dapur sejak kecil." Jelas Neta panjang lebar.


"Hm.. Boleh dong saya mencicipi masakan Neta." Ucap Yoga.


"Tapi,," Ucap Neta terpotong.


"Tentunya tidak sekarang. Nanti setelah Neta sembuh." Ucap Yoga menyela ucapan Neta.


Sementara di kantor Rama uring-uringan tak jelas karena orang tuanya sudah sangat lancang melamar Nayya tanpa sepengetahuannya. Rama merasa tidak enak dengan Nayya. Bahkan Rama merasa belum cukup mengenal Nayya. Yang Rama tahu hanyya Nayya menyayangi anaknya itu saja.


Rama pun sebenarnya tengah memiliki teman wanita hanya saja Rama belum menyampaikan perasaannya karena Rama merasa Wanita itu tidak cukup bisa mendapatkan simpati dari anaknya. Lebih tepatnya Wanita itu seperti tak mau tau bahwa ada Kanaya di hidup Rama itu yang membuat Rama ragu dengan wanita tersebut.


Sementara orang tuanya tiba-tiba saja menyampaikan bahwa mereka telah melamar Nayya untuknya. Rama bagaikan tak punya nyali untuk bertemu dengan Nayya dan keluarganya. Rama pun dengan tega membiarkan Kanaya rewel karena menginginkan Nayya. Rama bersikukuh tidak ingin mempertemukan lagi Kanaya dengan Nayya.


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2