Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Kanaya Kritis


__ADS_3

Neta menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya.


"Aldi." Panggil Neta.


"Lu dari mana? Lu kabur?" Tanya Aldi teman satu kelas Neta.


"Hah! Jangan gila Al. Mana mungkin Gw kabur dari rumah." Jawab Neta.


"Terus itu Lu bawa tas gede gitu?" Dengan wajah heran Aldi menanyakannya.


"Ini Gw baru datang dari kota J. Aki Gw meninggal kemarin. Terus tadi Gw ikut Kakak gw balik. Sekarang Gw lagi nunggu supir Gw. Gw mau balik dulu ganti baju. Kakak Gw buru-buru ke rumah sakit. Gitu. Puas Lu?" Jelas Neta panjang lebar.


"Gw fikir gara-gara kecelakaan kemarin itu keluarga Lu marah terus Lu di usir atau Lu kabur gara-gara di marahin orang tua Lu." Ucap Aldi cengengesan.


"Yaelah.. Ga segitu nya juga kali Al. Ya udah tuh supir Gw udah datang. Gw balik dulu ya. Lu juga udah mau ke sekolah kan?" Tanya Neta.


"Ya udah sampe ketemu di sekolah ya." Pamit Aldi.


Neta pun masuk kedalam mobil keluarganya. Neta pulang untuk berganti pakaian. Ketika semua sudah siap Neta keluar dari kamar menuju halaman depan untuk bersiap pergi ke sekolah di antar oleh Pak.Ujang. Namun, tiba-tiba saja dia teringat dengan bekal makan siang yang harus dia bawa. Tapi, apa yang harus dia bawa. Mana sempat lagi dia masak.


Dengam cepat Neta pun kembali masuk ke ruang makan. Dilihatnya hanya ada roti. Maka Neta pun hanya membuat sandwich dan sebotol susu almond yang sudah tersedia di kulkas.


"Neta pamit ya Bik." Ucapnya pada Bik.Ani yang terheran melihat tingkah Nona mudanya. Kemarin dia meminta Pak Ujang membawakan bekal ke sekolahnya padahal dirinya tak masuk. Hari ini dia juga membawa bekal. Tapi hanya satu. Sementara dirinya hanya minum segelas susu almond tanpa sarapan pagi.


Di rumah sakit dengan langkah lebar Nayya memasuki ruang perawatan anak. Saat berjalan di lorong rumah sakit Nayya di kejutkan oleh dokter dokter wisnu yang menarik tangannya.


"Dokter Wisnu! Ada apa?" Ucapnya terheran karena tiba-tiba saja dokter Wisnu menariknya.


"Saya turut berduka cita dokter. Pasti saat ini keluarga dokter tengah bersedih. Sehingga dokter berjalan tak melihat sekitar." Ucap Dokter Wisnu percaya diri.


"Hah! Ah, ya terima kasih Dok. Tapi maaf saya ada kepentingan. Saya permisi Dok." Ucapnya sambil berlalu pergi.


Dokter Wisnu terpaku melihat Nayya dan hanya bisa pasrah ketika Nayya meninggalkannya dengan langkah tergesa-gesa. Nayya sampai di ruangan Dama.


"Dam," Panggilnya dan mengagetkan Dama yang sedang fokus pada pekerjaannya.

__ADS_1


"Astaga! Bisa ketuk pintu dan ucapin salam dulu ngga sih? Udah kaya dedemit aja Lu." Umpat Dama. Namun sikap Nayya hanga masa bodoh dengan temannya itu.


"Udah cepetan bilang gimana perkembangan Kana sekarang?" Tanya Nayya panik.


"Tuh." Tunjuk Dama pada RM milik Kana.


Nayya membukanya dan betapa dirinya terkejut sudah dua hari Kana di rawat dan tak ada satu orang pun yang memberitahukannya. Up's! Memangnya apa hubungan dengannya.


"Ini hari ketiga Kana di rawat dan Lu baru bilang ke Gw pagi tadi?" Umpat Nayya kesal.


"Ralat Bu. Pagi ini. Karena ini masih cukup pagi buat Gw dengan kedatangan dedemit kaya Lu." Kesal Dama.


"Dama." Kesal Nayya.


"Lu tanya sendiri aja sama bapak nya kenapa Lu malah nanya ke Gw." Jawab Dama santai.


"Tapi kan Lu dokternya dan Lu tau siapa Kana dan apa hubungannya dengan Gw. Dia anak Gw Dam." Oceh Nayya.


"Makanya Lu cepetan kawin ama bapaknya biar Lu bisa jagain dia 24 jam nonstop. Dan jangan ketinggalan juga bapaknya." Ucap Dama.


Deg


Deg


Dan kini hanya ada keraguan padanya. Apakah dirinya akan menemui Kana di ruangannya atau membiarkan saja dan Nayya kembali pulang.


"Nay." Panggil Dama dan Nayya masih asik dengan fikirannya.


"Nay." Panggil Dama kembali.


"Nayya!" Panggilan ketiga dari Dama pun sedikit berteriak.


"Hah! Apaan sih Lu teriak-teriak." Umpat Nayya tanpa berdosa.


"Udah sana deh ke ruang rawat Kana dari pada Lu disini bengong ntar kesambet suster ngesot baru nyaho Lu." Ucap Dama mengerjai sahabatnya itu.

__ADS_1


"Si alan Lu. Ngatai. Gw Lu." Ucap Nayya sambil bangun dari duduknya dan melangkah menuju ruang perawatan Kana.


Kana mengetuk pintu perlahan. Menunggu beberapa saat dan pintu pun terbuka memperlihatkan sosok Rama dengan tampang kusutnya. Sangat diluar dugaan Nayya ternyata Rama tampak frustasi dengan keadaan anaknya. Tanpa banyak berkata Rama memberikan jalan kepada Nayya untuk masuk.


Ada rasa bahagia dan rasa bersalah dengan kehadiran Nayya di hadapannya. Bahagia karena Nayya mau melihat kondisi anaknya yang entah terselamatkan atau tidak. Bersalahnya karena Nayya pun tengah dalam suasa berduka.


Ibu dan Ayah Rama terkejut dengan kehadiran Nayya sepagi ini. Karena mereka tak menyangka jika Nayya akan bergerak cepat setelah mengetahui Kana terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan. Nayya tak melihat sekitar. Langkahnya terus tertuju pada Kana yang tergolek tak berdaya dengan selang infus dan selang oksigen yang terpasang.


"Sayang." Ucapnya lirih. Dan tak terasa air matanya pun luruh begitu saja membasahi pipi mulusnya.


Nayya menggenggam erat tangan Kana dan menciumnya berkali-kali. Nayya menciumi seluruh wajah Kana yang tampak pucat.


"Bangun Nak. Ini Momi. Jangan buat Momi takut sayang." Bisiknya pada telinga Kana.


Ibu tak bisa menahan haru melihat ketulusan Nayya pada cucunya. Ayah pun membawa Ibu ke dalam pelukannya.


"Sayang," Panggil Nayya lagi pada Kana. Nayya menarik nafasnya panjang agar tangisnya tak pecah. Dia tak ingin terlihat lemah di mata Kana.


"Kana udah ga mau main sama Momi lagi ya? Momi sedih deh Kana diemin Momi gini." Ucap Nayya.


Rama tak tahan melihat Nayya yang seperti berbicara pada anaknya. Ada rasa bersalah pada hatinya karena tak memberitahukan keadaan Kana di awal pada Nayya.


"Sayang, Kana. Kana marah ya sama Momi? Karena Momi baru datang hari ini? Momi minga maaf deh ya. Kemarin Aki Momi meninggal sayang. Momi ga mungkin bawa Kana pergi bersama Momi nak. Kana mau maafin Momi kan?" Oceh Nayya terus dengan perasaan yang campur aduk.


Rama mendekati Nayya yang tenga duduk di samping ranjang pesakitan Kana dengan terus menggengam tangan Kana. Rama memegang bahu Nayya seolah memberikan kekuatan kepadanya. Tanpa di duga Nayya memutar badannya mengahadap Rama dan menenggelamkan wajahnya pada perut Rama.


Rama merasakan tubuh Nayya bergetar. Refleks Rama memeluk Nayya memberikan segala kekuatan pada Nayya. Setelah sedikit lebih tenang Nayya kembali menoleh kearah Kana.


"Kana, Momi sayang kamu Nak. Bangun yuk sayang." Ucap Nayya dengan sedikit menahan tangisnya.


Rama memeluknya dari belakang. Nayya merebahkan badannya pada Rama. Ibu dan Ayah tak dapat berkata apa-apa melihat adegan Rama dan Nayya yang begitu terpukul. Mereka bagaikan sepasang suami istri sungguhan yang tengah menanti kesadaran anaknya.


"Momi."


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2