
Dama merasa heran pada Rama. Pasalnya Rama tidak akan memberikan begitu saja anaknya pada orang lain. Tapi, Nayya. Hanya karena Nayya orang yang menemukan Kana. Rama begitu saja memberikan Kana pada Nayya. Sungguh hal yang sangat diluar dugaan.
"Nay, lu kenal sepupu gw?" Tanya Dama.
"Ngga." Jawab Nayya santai.
"Terus ko Lu bisa bawa anaknya sih?" Tanya Dama lagi.
"Mana gw tau. Semalam dia sendiri yang nganterin Kana ke rumah gw." Jawab Nayya santai.
"Terus Lu sama Sepupu gw?" Selidik Dama penasaran.
"Ya biasa aja lah. Dia ya dia. Gw ya gw. Emang harus gimana?" Tanya Nayya.
"Astaga! Jadi komunikasi di antara kalian hanya sebatas Kana?" Tanya Dama meyakinkan.
"Hm. Jadi Lu mau kasih vaksin ga anak gw?" Tanya Nayya.
"Astaga galak banget Lu jadi cewek. Bentar ini lagi gw siapin." Ucap Dama.
Sementara Nayya masih menggendong Kana. Setelah vaksin siap Dama pun membujuk Kana untuk bisa di suntik. Saat jarum suntik menusuk kulit Kana dan Kana pun langsung menangis. Begitupun dengan Nayya yang ikut menangis melihat jarum suntik menancap di lengan kiri Kana.
Nayya menangis sambil menenangkan Kana yang menangis karena kesakitan.
"U... sayang. Maafin Momi Nak. Onty Dama nakal ya bikin sakit Kana. Cup...cup... Anak Momi hebat jangan nangis lagi ya sayang." Bujuk Nayya namun air matanya terus mengalir di pipinya.
Dama pun terheran melihat interaksi antara Nayya dan Kana. Dama heran mengapa ikatan antara Nayya dan Kana begitu kuat. Saat Nayya menenangkan Kana. Tampak Rama masuk dan melihat Nayya yang tengah menenangkan Kana dengan air mata di pipinya.
Dama melirik ke arah Rama begitupun Rama. Tatapan Rama seolah bertanya kenapa Nayya menangis Dama pun hanya mengangkat bahunya. Rama mendekati Nayya dan spontan Rama mengusap air mata di pipi Nayya menggunakan ibu jarinya. Sontak membuat Nayya terpaku.
"Kenapa?" Tanya Rama lembut.
"Ga tega." Jawab Nayya kemudian isak tangisnya tak terbendung lagi.
Spontan Rama membawa Nayya dan Kana kedalam pelukannya. Tangis Kana dan Nayya pun mulai mereda. Tiba-tiba jantung Nayya berdegup tak karuan.
"Astaga ada apa dengan jantung ku." Batin Nayya.
Begitu juga dengan Rama yang merasa ada yang aneh dengan jantungnya. Dama yang berada di ruangan itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan di ambilnya ponsel miliknya yang berada di dalam laci kemudian mengabadikan momen Nayya dan Rama.
"Astaga Nayya. Masa Kana yang di suntik Lu yang nangis si? Lu kan dokter bukan hal yang asing dengan jarum suntik." Ucap Dama membuyarkan keharuan antara Rama dan Nayya.
"Coba Lu punya anak dulu. Awas Lu ga nangis kaya gw." Jawab Nayya sambil mengusap sisa air matanya.
"Makasih ya Dam. Kita pamit dulu." Pamit Rama pada Dama.
"Dama Rama Dama jangan singkat nama gw. Nanti orang fikir nama gw Adam." Sewot Dama.
"Apa bedanya. Emang sifat Lu kaya Adam." Bela Nayya.
__ADS_1
"Astaga dasar temen ga ada akhlak." Cibir Dama.
"Eh, betar. Lu belain Rama. Tuhan... Seneng banget Lu Ram ada yang bela." Ucap Dama kemudian.
Rama dan Nayya pun keluar dari ruangan Dama beriringan. Rama menggendong Kana sementara Nayya membawa perlengkapan Kana. Jika orang lain yang melihatnya mereka persis pasangan muda yang baru saja memiliki buah hati.
"Kita keruangan Ibu saya dulu sebentar. Apa tidak keberatan?" Tanya Rama.
"Baiklah." Jawab Nayya.
Rama pun berjalan menuju ruangan dimana Ibunya di rawat. Nayya mengikutinya dari belakang. Namun, tiba-tiba Nayya menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Rama yang menyadari Nayya berhenti.
"Ibu mu dirawat di ruangan apa?"Tanya Nayya.
"Itu." Tunjuk Rama pada pintu ruangan tempat Ibunya di rawat.
"Yakin?" Tanya Nayya.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Rama.
"Tidak. Ayok." Ajak Nayya.
Rama pun heran di buatnya. Sapai di depan ruang perawatan Ibunya Rama. Rama mengetuk pintu pelan. Dan terdengar perintah dari dalam agar masuk. Begitu pintu terbuka. Terdapat seorang dokter dan suster yang tengah memeriksa Ibu.
Selamat siang Pak.Rama." Sapa dokter tersebut yang belum menyadari kehadiran Nayya di balik punggung Rama.
"Alhamdulillah cukup baik." Jawab Dokter tersebut san betapa terkejutnya dokter tersebut ketika Rama bergeser dan terlihatlah Nayya di balik punggung Rama.
"Dokter Nayya." Sapa Dokter tersebut yang ternyata dokter Wisnu orang yang mengenal Nayya.
"Eh, dokter Wisnu." Sapa Nayya.
"Dokter Nayya." Sapa Ibu Rama.
"Ibu." Ucap Nayya.
"Kamu kenal dengan Ibu saya?" Tanya Rama.
"Tentu saja. Kemarin saat Ibu masuk IGD saya yang menanganinya." Jawab Nayya santai.
"Kemarilah Dokter. Saya senang sekali dokter mau datang kemari." Ucap Ibu.
"Ibu berlebihan. Bagaimana sudah baikan Bu?" Tanya Nayya.
"Alhamdulilah seperti yang dokter Wisnu katakan. Ibu sudah semakin enakan." Jawab Ibu
"Syukurlah." Jawab Nayya.
__ADS_1
"Terima kasih Dok." Ucap Nayya pada Dokter Wisnu.
Dokter Wisnu pun hanya menganggukan kepalanya. Merasa heran dengan sikap mereka. Tadi saat dirinya berpapasan dengan Nayya. Nayya mengatakan batita dalam gendongannya andalah anaknya. Dan batita itu sekarang berada dalam gendongan Rama. Tapi mengapa Nayya seperti baru mengenal orang tua Rama.
"Momi." Ucap Kana sambil mengulurkan tangannya kearah Nayya.
"Eh, maaf sayang. Sini Momj gendong. Kana mam dulu ya sayang. Setelah itu kita minum obat yang Onty Dama berikan tadi." Ajak Nayya pada Kana yang tak mempedulikan orang sekitarnya yang tengah terheran pada Nayya.
Rama pun memberikan Kana pada Nayya. Nayya pun segera duduk di sofa dan mengeluarkan segala perlengkapan Kana tanpa peduli sekitar. Semua memandang ke arah Nayya dan Kana.
"Ada apa?" Tanya Nayya pada semua orang.
"Tidak." Jawab semuanya hampir bersamaan.
"Astaga! Kenapa semuanya kompak sekali." Ucap Nayya kemudian perhatiannya kembali beralih pada Kana.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter Wisnu mengalihkan perhatian semuanya.
"Owh! Iya. Terima kasih Dok." Ucap Ayah.
Dokter Wisnu dan seorang perawat yang bersamanya. Sepeninggalan dokter Wisnu. Rama pun duduk di samping Ibunya. Berbincang mengenai keadaan Ibunya bersama dengan Ayah juga tentunya. Terdengar bunyi ponsel dari dalam tas Nayya. Nayya pun tampak kesulitan membuka tasnya. Rama dengan sigap membatu Nayya membuka tasnya.
📱Halo Ma. (Nayya)
📱Kakak, bagaimana. Kana sudah di beri vaksinnya? (Nadin)
📱Sudah Ma. Ini Kakak lagi suapi Kana. (Nayya)
📱Apa tidak rewel? (Nadin)
📱Tadi nangis sebentar Ma. (Nayya)
📱Ya sudah. Cepet bawa pulang jangan lama-lama di rumah sakit. Ga baik untuk batita seperti Kana. (Nadin)
📱Iya Ma. Setelah minum obat Kana Nayya bawa pulang. (Nayya)
Sambungan telfon pun terputus. Nayya menyimpan ponselnya di meja dan melanjutkan menyuapi Kana yang tinggal sedikit.
"Yah, lihatlah. Dokter Nayya memperlakukan cucu kita seperti anaknya sendiri. Bahkan Dia tampak biasa saja bajunya terkena makanan Kana." Ucap Ibu pada Ayah.
"Iya Bu. Ayah setuju jika dokter Nayya yang jadi Ibu sambung cucu kita." Jawab Ayah.
"Bagaimana menurut mu Nak?" Tanya Ibu pada Rama. Namun, Rama hanya diam mematung melihat kearah Nayya dan Kana.
"Rama." Ucap Ibu. Dan lagi Rama hanya diam.
"Rama." Ucap Ibu lagi seraya menepuk paha Rama yang berada dekat dengan jangkauan tangan Ibu.
"Eh, iya. Ada apa Bu?" Tanya Rama.
__ADS_1
"Kamu, dari tadi orang tua ajak bicara fikiran mu kemana saja." Ucap Ibu. Rama pun salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏 🙏🙏