
Sampai di rumah Angga terus memikirkan perkataan Kasih. Angga terus berguling-guling tak bisa memejamkan matanya. Berkali-kali Angga melihatblayar ponselnya mencoba menelfon atau sekedar mengirim pesan dan berkali-kali pula Angga membatalkannya.
Baru menjelang pagi Angga bisa memejamkan matanya. Angga tertidur setelah subuh.
"Papaaaah...." Nayya memasuki kamar papanya dan langsung naik ke tempat tidur.
"Hmmm..." Jawab Angga karena matanya masih berat.
"Nayya mau ketempat mama pah." Rajuk Nayya.
Angga merasa terhenyak dan berfikir sejenak bagaimana jika Nadin pergi dan tak bisa bertemu lagi dengan Nayya dan begitupun sebaliknya. Nayya menggoyang-goyangkan badan Angga. Angga menarik nafas panjang dan terduduk di samping Nayya.
"Sayang,,, mama lagi ke luar kota. Nanti mama kasih kabar klo sudah sampai yah."
"Ga mungkin pah. Mama pasti pamit Nayya kalo mau pergi."
"Mama buru-buru sayang. Terus perginya malam. Jadi, mama cuma sempet pamit sama papa."
Dan tangis Nayya pun pecah seketika. Angga begitu frustasi karena Nayya tidak bisa di bujuk lagi. Sudah hampir satu jam Nayya menangis.
"Memang Nadin tidak bisa di hubungi Ka?"
"Nadin di rumah sakit Yah."
"Mama sakit huaaaaa..." Tangis Nayya pun semakin kencang.
"Kamu coba hubungilah dulu ka siapa tau Nadin bisa angkat telfon." Saran Ibu.
Angga pun menghilangkan egonya dan mencoba menghubungi Nadin. Tak perlu menunggu lama panggilan langsung terhubung.
"Halo."
"Nad, gimana kabar mama?"
"Hah! Owh! Iya, alhamdulillah Ka sedikit lebih baik."
"Kamu di RS?"
"Iya Ka. Adek lagi pulang jemput bapa."
"Tapi, bapa sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat Ka. Cuma bapa ga kita ijinin tidur di RS."
__ADS_1
"Kaka ganggu ngga?"
"Ngga ka, ibu baru selesai di periksa sekarang lagi makan buah. Kenapa Ka?"
"Nayya mau ketemu kamu. Dia nangis dari tadi."
"Masya Allah. Mana coba Nayya nya Ka."
Telfon pun di berikan kepada Nayya. Nayya berbicara sambil tersedu-sedu. Mengadukan Papanya yang jahat ngelarang ketemu sama mama. Nadin hanya tersenyum mendengarkan curahan hati Nayya.
"Sayang, Maafin mama ya. Mama ga sempet pamit sama Nay. Nenek sakit sayang jadi mama langsung ke rumah sakit. Nanti klo nenek sudah sehat mama pulang ya."
"I...iya Ma."
"Janji ngga nangis lagi kan?"
"Janji mah."
"Oke. Nay minta maaf ya sama papa. Kan Nay udah bikin papa panik tadi."
"Iya mah. Love you mah."
"Love you too sayang."
"Iya mah teteh ceritain ko tenang ya hehehe..."
Nadin pun menceritakan semua kronologinya dan bagaimana perasaannya sekarang dan bagaimana pula kecemasannya akan kehilangan Nayya dan kemungkinan gagal lagi dalam menjalin kasih.
"Teh, teteh pasrahin aja sama Allah ya. Semua kehendak Allah nak. Teteh, ketemu lagi sama Nayya pun semua sudah kehendaknya. Padahal dulu teteh ga kenal lelah mencari dia sekarang disaat teteh sudah pasrah dia datang tanpa teteh cari."
"Iya mah. Maafin teteh ya mah."
"Ngga perlu minta maaf sayang. Apapun keputusan teteh mama tetap nendukung teteh."
Tak lama berselang bapa pun datang bersamaan dengan Indah dan Doni. Nadin memeluk erat bapa melepaskan kerinduannya.
"Maafin teteh ya Pa. Teteh jarang pulang."
"Tidak apa-apa yang penting teteh sehat."
"Hai Don, makasih ya sudah jagain bapa."
"Iya teh, sama-sama. Teteh sehat kan?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat. Klo ga sehat pastinya ga disini."
Semua bercengkrama bersama di ruang perawatan mama. Mama dan bapa merasa senang anak-anaknya bisa berkumpul bersama.
Siang hari Doni yang kebetulan dokter di rumah sakit tempat mama Nadin di rawat pamit karena kebetulan harus jaga siang. Begitu juga dengan Indah yang harus jaga siang juga.
Sekarang hanya tinggal Nadin ibu dan bapa. Nadin tidur di pangkuan bapa. Bapa terus mengusap rambut Nadin seraya bercerita. Mama hanya memperhatikan keduanya dari tempat tidur sesekali ikut nimbrung.
"Pak, klo anak gadis kita ini ada yang ngelamar gimana?"
"Mama ih,,"
"Bapa sih boleh-boleh aja asal teteh bahagia."
"Kalo duda pa?"
"Loh, yang penting anak bapa bahagia. Dan dudanya ga bermasalah mah silahkan saja. Memang sudah ada teh?"
"Itu mama yang bilang pa."
Mama pun hanya tersenyum mendengar jawaban anaknya. Semua percakapan terhenti ketika dokter jaga datang untuk memeriksa kemajuan kesehatan mama.
"Permisi selamat siang Ibu."
"Siang dok."
"Loh, bu.Nadin ada disini?"
"Eh, iya dok. ini ibu saya."
"Owh! Berarti bu.Nadin siapanya bidan.Indah?"
"Pantesnya apanya dok?! Hehe... Saya kakanya Indah dok."
"Owh! Begitu. Wah ko saya baru tahu ya."
"Tau begitu mau nanya-nanya saya ke Indah ya dok hahahaa...."
Dokter jaga itu pun langsung memeriksa Mama Nadin dengan seksama. Meminta beliau untuk istirahat sehari lagi sampai hasil lab keluar. Mama Nadin pun menyetujui saja perintah dokter karena tak mungkin juga memaksakan untuk pulang pasti anak-anak nya akan melarangnya.
Sampai disini dulu semua.
Jangan lupa like dan koment ya..
__ADS_1
Terima kasih semuanya 🙏🙏🙏