
Dua bulan berlalu Nayya dan Rama sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Pernikahannya pun sudah menginjak hampir tiga bulan. Nayya pun tak pernah mengeluh apapun tentang rumah atau anaknya.
Nayya menikmati perannya sebagai Ibu dan Istri bagi Rama dan Kanaya. Bahkan Kanaya pun tampak semakin gembul di bawah asuhan Nayya. Begitupun dengan Nayya yang kini tampaj berisi.
"Assalamu'alaikum..." Ucap seseorang dari luar rumah Nayya.
"Wa'alaikum salam." Jawab Nayya.
"Bik, tolong lihat siapa yang datang ya." Titah Nayya pada salah satu maidnya karena dirinya tengah sibuk membuatkan camilan untuk anak pertamanya.
Bibik pun pergi ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang. Setelah mempersilahkan tamunya masuk Bibik pun kembali ke dapur menemui Nayya.
"Bu, ada Non Dama di depan." Ucap Bibik yang sudah sangat mengenal Dama karena di rumah lama Dama cukup sering wara Wiri di rumah Rama.
"Owh! Iya. Makasih ya Bik. Tolong inj di lanjutkan ya Bik." Ucap Nayya kemudian mencuci tangan dan pergi ke depan menemui Dama.
"Hai,, apa kabar nih?" Sapa Nayya.
"Duuuh,,, sibuk banget penganten baru." Sapa Dama berbasa-basi.
Setelah saling berpelukan layaknya seorang teman. Nayyabpun mempersilahkan Dama untuk duduk.
"Kok ga kasih kabar sih mau ke sini?" Ucap Nayya.
"Ga sengaja lewat say. Ini mau ngasih titipan Dokter Wisnu." Ucap Dama memberikan buket bunga mawar pada Nayya.
"Wah, kayanya salah alamat deh Da bunganya." Ucap Nayya menolak dengan halus.
"Astaga masa iya gw budek dan ga bisa baca." Ucap Dama dibuat seperti orang merajuk.
Nayya pun mengambil bunganya dan melihat kartu ucapannya. Disana tertulis nama Dokter Wisnu dan namanya.
"Hm... Baiklah ucapkan terima kasih padanya. Dan ucapkan juga tak perlu repot-repot mengirimkan Glge bunga segala." Ucap Nayya menahan kesalnya.
"Kalau bisa jangan bunga ya Nay yang lain orangnya misal yang datang." Ucap Dama disertai tawanya.
Nayya mulai sedikit terpancing emosinya. Namun, Nayya terus berusaha menahan emosinya menghadapi seorang Dama. Setelah berbasa-basi berbincang sana sini akhirnya Dama pun berpamitan pulang.
Setelah mengantarkan Dama pulang Nayya pun kembali ke dapur dan mengabaikan buket bunga tergeletak begitu saja di meja ruang tamu. Nayya melihat apakah camilan untuk anaknya sudah selesai di lanjutkan oleh bibik.
Setelah di pastikam camilan tah selesai Nayya pun melihat Kanaya yang tengah asik bermain di ruang bermainnya. Dan betapa terkejutnya Nayya karena Kanaya tengah tertidur diantara tumpukan mainannya.
"Tidur?" Tanya Nayya pada maid.
__ADS_1
"Iya Bu. Baru saja." Ucap Bibik.
"Ya sudah kalau begitu saya pindahkan saja Bik." Ucap Nayya.
Setelah menggendong Nayya dan menyimpannha secara lerlahan di tempat tidurnya Nayya pun ikut meringkuk bersama Kanaya. Dna Kanaya pun semakin membenamkan wajahnya di dada Nayya.
"Hmm... Bapak sama anak sama aja." Batin Nayya.
Dan keduanya pun tidur bersama hal yang tak pernah Nayya lakukan sebelumnya tidur pagi. Jangankan pagi siang pun Nayya sangat jarang untuk tidir. Tapi, akhir-akhir ini Nayya mudah sekali tertidur.
Seperti janjinya Rama selalu menyempatkan diri makan siang di rumah. Atau jika Rama terlalu sibuk Nayya lah yang datang ke kantor Rama untuk memberikan makan siang untuk suami tercinta.
Siang ini Rama datang lebih awal. Saat kakinya memasuki rumah utama Rama di buat terkejut melihat sebuket bunga mawar dan dilihatnya tujuan dan siapa pengirimnya. Rama mengernyitkan dahinya melihat nama Dokter Wisnu tertera di kartunya.
"Dari mana mereka tau alamat baru kami." Batin Rama.
"Itu tadi Non.Dama yang bawa Pak." Ucap maid yang melihat Rama sedikit bingung.
"Owh! Buanglah Bik atau kau simpan juga boleh." Titah Rama.
"Dimana Ibu dan Kanaya?" Tanyanya lagi.
"Di kamar Neng.Kanaya Pak." Jawab Maidnya.
Rama pun segera menuju kamar anaknya. Dan dilihatnya Kanaya sedang bermain bersama dengan bonekanya sementara Nayya masih tertidur.
"Momi pucing Pi." Jawab Kanaya.
"Momi sakit?" Tanya Rama lagi menghampiri Kanaya dan membawanya kepangkuannya.
Kanaya pun mengangguk menjawab pertanyaan Papinya. Mereka berdua pun mendekati Nayya yang tengah meringkuk di bawah selimut. Rama memegang kening Nayya namun tak terasa hangat. Rama pun dengan lembut mengusap puncak kepala Nayya.
"Sayang..." Bisik Rama di telinga Nayya.
"Hmm..." Jawab Nayya sedikit menggeliat.
"Kamu sakit sayang?" Tanya Rama lembut.
"Kepala Nay pusing Mas. Badan Nay juga lemes semua." Jawab Nayya lemah.
"Kita ke dokter ya?" Ajak Rama.
"Ngga Mas. Nay istirahat aja nanti juga seger lagi." Jawab Nayya lebih pelan lagi.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba perut nayya terasa bagai di aduk-aduk. Nayya pun bangkit dan berlari menuju kamar mandi yang berada di kamar Kanaya. Rama mengernyitkan dahinya melihat Nayya. Rama pun meminta Kanaya untuk duduk sementara Rama melihat keadaan Nayya. Walaupun Kanaya menolak dan menangis melihat keadaan Nayya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rama mengurai lembut rambut Nayya yang terulur menutupi wajah Nayya.
"Ga tau Mas. Perut Nay berasa di aduk-aduk." Jawab Nayya lemas.
"Kamu makan sesuatu yang baru?" Tanya Rama. Dan Nayya pun menggeleng pelan.
"Kita kekamar ya." Ajak Rama lalu menggendong Nayya ala bridal.
Kanaya pun menangis melihat keadaan Mominya. Bibik segera menghampiri dan membawa Kanaya mengikuti Tuannya seperti yang di perintahkan. Kanaya terus menangis dan memeluk Nayya yang terbaring di tempat tidur lemas.
"Bik, bawakan makan untuk Ibu ke sini ya." Titah Rama pada Bibik.
"Baik Pak." Jawab Bibik dan segera pergi kedapur.
Bibik berjalan terburu-buru menuju dapur untuk menyiapkan makan untuk nyonyanya.
"Ada apa Bik?" Tanya Bik.Neni.
"Ibu muntah-muntah Bik." Jawab Bik.Ijah.
"Kenapa?" Tanya Bik.Neni panik.
"Ngga tau Bik. Muka Ibu pucat banget." Jawab Bik.Ijah lagi.
"Bikin bubur saja Bik. Sebentar." Ucap Bik.Neni.
Mereka berdua pun menyiapkan segalanya. Setelah semua siap Bik.Ijah pun segera membawanya keatas. Rama menyuapi Nayya bubur dengan telaten. Bik.Ijah pun menyuapi Kanaya makan sementara Rama masih belum menyentuh makanannya.
"Sudah Mas. Perut Nayya terasa penuh. Mas makan saja. Nanti Nayya makan lagi sendiri." Ucap Nayya.
"Sedikit lagi sayang." Bujuk Rama lembut.
"Sudah Mas. Nayya kenyang." Jawab Nayya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah. Mas makan ya." Ucap Rama.
Mereka pun makan siang di dalam kamar Rama dan Nayya karena Nayya terlihat lemas sedangkan Rama dan Kanaya tidak ingin meninggalkan Nayya sendiri. Setelah makanan Rama dan Kanaya habis bibik pun segera membawa turun piring bekas pakainya.
"Kamu istirahat ya sayang." Titah Rama dan Nayya pun mengangguk lemah.
Rama membawa Kanaya duduk di sofa agar tidak mengganggu Nayya tidur dengan guncangan kasur yang di timbulkan Kanaya jika anak itu bergerak.
__ADS_1
Kanaya pun bermain bersama bonekanya di samping Rama yang juga melanjutkan pekerjaannya di sofa kamarnya. Rama meminta asistennya untuk mengirimkan pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏