
Kini Amel berada di butiknya. Asistennya mengantarkan laporan keuangan padanya. Dan beberapa tagihan yang harus di bayarkan. Betapa terkejutnya Amel ketika melihat laporan keuangannya. Pemasukannya sangat jauh di bawah target sementara pengeluaran yang harus di bayarkan sangat fantastis nominalnya.
"Apa-apaan ini?" Kesal Amel.
"Itu laporan bulan ini Mba." Ucap Asistennya.
"Iya saya tahu. Tapi yang benar saja. Bulan ini hanya ada beberapa potong pakaian saja yang terjual. Ini ngga mungkin." Ucap Amel kesal.
"Memang seperti itu Mba. Bulan ini pemasukan sangat minim." Ucap asistennya.
"Lantas. Ini tagihan apa sebanyak Puluhan juta?" Tanya Amel tak mengerti.
"Itu pengambilan Kain terbaik dari toko kain langganan kita Mba." Jawab Asistennya kembali.
"Untuk apa membeli kain jika tak ada pemesanan?" Tanya Amel.
"Bukan kah itu atas persetujuan Mba ya?" Tanya asistennya.
"Persetujuan saya? Kapan?" Tanya Amel balik.
"Dua minggu yang lalu Mba. Mba.Nina meminta kain dan tagihannya di kirim ke toko." Jawab Asistennya.
"Lantas dimana kainnya?" Tanya Amel.
"Saya tidak tahu Mba. Karena hanya tagihannya yang di berikan pada saya oleh Mba.Nina." Jawab Asistennya.
Amel menghela nafasnya. Pasalnya Amel tidak pernah membicarakan masalah pesanan kain itu dengan Nina. Mengapa Nina melalukan pemesanan kain tanpa sepengetahuannya. Amel mengambil ponselnya dan menyambungkan ke nomer Nina.
"Nomer yang anda hubungi tidak aktif cobalah beberapa saat lagi."
__ADS_1
Hanya suara opertor yang menyauti panggilan Amel pada Nina. Setelah mencoba beberapa kali masih tetap tidak aktif. Amel di buat frustasi.
"Liburkan sementara Butik ini sampai batas waktu yang tak bisa di tentukan." Ucap Amel.
"Tapi, Mba. Ada dua pesanan yang harus kita selesaikan minggu ini." Ucap Asistennya.
"Apa?!! Arrgghh..." Kesal Amel menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sudah di buatkan?" Amel.
"Belum Mba. Karena toko kain tidak ingin memberikan kainnya jika total tagihan kemarin belum di bayarkan." Ucap asistennya.
"Toko lain?" Amel.
"Kain yang di inginkan klien hanya ada di toko itu Mba." Jawabnya lagi.
"Aaaarrrgggg." Teriak Amel.
"Apa!"
Amel bingung harus bagaimana. Sementara pemasukannya sangat minim. Amel melihat kunci mobilnya. Dan Amel pun berfikir untuk menjualnya saja.
"Saya pergi dulu. Kerjakan pesanan saat kainbyang kita inginkan datang." Ucap Amel lalu berlalu pergi meninggalkan butiknya.
Amel pergi ke showroom mobil langganannya untuk menjual mobilnya.
"Hei, Nona. Apa kau yakin akan menjual mobil kesayang mu ini?" Tanya pemilik Showroom.
"Saya yakin." Jawab Amel.
__ADS_1
"Baiklah. Berapa nilai yang kamu inginkan?" Tanya pemilik showroom.
"Sesuai harga saja." Jawab Amel datar.
"Baiklah. Mana kelengkapan surat-suratnya." Pinta pemilik showroom.
Amel pun memberikan kelengkapannya. Setelah transaksi beres Amel menuju toko kain langganannya untuk membayarkan tagihannya. Dan membeli kain yang dia butuhkan.
Setelah dirasa cukup Amel kembali ke butiknya. Memantau pekerjanya untuk menyelesaikan pesanan mereka. Hari semakin larut. Amel merebahkan dirinya di kursi kebesarannya. Amel mencoba menghubungi sahabatnya Nina namun masih sama seperti siang tadi hanya operator yang menjawab panggilan Amel.
Amel pun berpamitan untuk pulang lebih dulu. Dan meminta pegawainya untuk pulang juga dan melanjutkan pekerjaannya besok pagi. Amel pulang menggunakan taksi dan membuat Arif terkejut.
"Dimana mobil mu sayang?" Tanya Arif.
"Sudah ku jual." Jawab Amel dan merebahkan badannya di sofa ruang tamu.
"Apa?! Untuk apa menjual mobil Sayang?" Tanya Arif berpura-pura cemas. Pasalnya Arif sudah mengetahui itu dari pemilik showroom. Dan Arif telah membeli kembali mobil kesayangan Amel tersebut. Dan betapa baiknya pemilik showroom hanya meminta uangnya saja di kembalikan. Karena dia tahu betapa Amel menyayangi mobil itu.
Dan pemilik showroom tak mengetahui pasti mengapa Amel menjual mobilnya. Padahal keluarganya bisa membelikan mobil yang sama bahkan jauh diatas itu.
Amel menceritakan kronologi kejadiannya bagaimana dia sampai harus menjual mobilnya. Arif merasa tersentuh dengan apa yang menimpa istrinya.
"Kenapa kamu membayar tagihan Nina sayang?" Tanya Arif ragu-ragu karena takut istrinya akan marah besar.
"Nina tidak bisa di hubungi sejak siang tadi." Jawab Amel kesal.
"Lantas bagaimana dengan tagihannya? Sementara kita saat ini terutama kamu sedang membutuhkan uang." Tanya Arif.
"Besok Amel coba ke rumahnya Mas." Jawab Amel lesu.
__ADS_1
Amel pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri sementara Arif menunggunya di meja makan.
Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupablike dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏