
Hari ini Nadin dan Angga menikmati udara pagi berdua di taman belakang rumah. Nadin menyenderkan kepalanya di dada bidang milik suami tercinta. Mereka duduk di kursi malas seperti biasa.
Angga mengusap lembut rambut Nadin yang mulai di tumbuhi rambut-rambut putih namun tak melunturkan kecantikannya. Senyuman yang selalu terpancar dari bibir Nadin yang selalu membuat Angga semakin cinta, cinta dan cinta.
Wanita yang tak sengaja dia temui. Wanita yang ternyata telah di pilihkan untuknya oleh almarhumah istri pertamanya. Wanita yang tak pernah mengeluh walau peluh membanjiri.
"Sayang,," Panggil Angga seraya mengusap lembut punggung Nadin.
"Hmm..." Jawab Nadin dengan mata tertutup mendekap hangat tubuh suami tercintanya.
"Terima kasih." Ucap Angga lagi.
"Untuk?" Tanya Nadin singkat.
"Semuanya. Semua yang sudah kamu berikan untuk Mas. Mas adalah lelaki paling beruntung yang bisa bersanding dengan wanita hebat sepertimu." Puji Angga.
Nadin tak menjawab ucapan Angga hanya pelukannya saja yang semakin erat. Seolah Nadin tak ingin terpisahkan lagi dengan suami tercintanya. Angga pun semakin mempererat pelukan pada pinggang ramping Nadin.
Angga mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadin. Nadin menikmati setiap sentuhan yang diberikan Angga padanya.
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan keduanya. Dua pasang mata dari tempat yang berbeda.
Ayah, begitu terharu melihat kemesraan keduanya hingga membuat Ayah semakin merindukan sosok Ibu yang selalu menemaninya hingga Tuhan lebih menyayangi Ibu dan membawanya kembali.
"Sayang, lihatlah anak dan menantu kita. Mereka seperti kita saat muda dulu." Batin Ayah.
Beberapa kali Ayah pun mengusap ujung matanya yang basah. Beberapa kali juga Ayah menarik nafasnya berat mengingat mendiang istri tercintanya.
Sementara di tempat yang berbeda Amel sudah tak bisa lagi menahan isak tangisnya. Bukan iri melihat Nadin dan Angga bermesraan melainkan Amel begitu merindukan Arif suami tercintanya yang telah pergi meninggalkannha lebih dulu karena Tuhan lebih menyayanginya.
"Andai kau masih disini sayang. Pasti kau tak akan membiarkan air mata ini tumpah begitu saja." Batin Amel mengusap air matanya yang luruh pada pipinya.
Hingga Amel pun segera masuk kedalam kamarnya dan menenangkan diri dengan berendam di kamar mandi. Lebih tepatnya sambil mengenang masa bersama suami tercinta.
Ayah yang tak kuasa memendam kesedihannya pun masuk kedalam kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Menatap lurus langit-langit kamar tanpa mengucapkan apapun. Sesekali Ayah mengusap ujung matanya.
__ADS_1
Nadin dan Angga yang di perhatikan pun tak merasa ada yang memperhatikannya. Mereka berdua asik dengan dunianya saja. Angga pun mengajak Nadin masuk kedalam karena cuaca sudah mulai dingin dan seperti akan turun hujan.
Nadin pun bergelayut manja di lengan Angga. Mereka berdua bagaikan pasangan kekasih yang tengah dimabuk asmara melupakan usia yang telah setengah abad.
Dirumah Nayya dan Rama. Nayya sudah terbiasa dengan kedua batitanya. Ibu mertuanya di boyong Ayah mertua ke negri orang karena tugas beliau. Sementara sang adik ipar yang selalu setia membantu tengah bersemangat mengejar cinta Mega yang sudah mulai memberi lampu kuning padanya.
Rama pun mau tak mau mengurangi jadwalnya di kantor karena tak ingin membiarkan istri tercintanya lelah mengurus buah hati mereka sendiri walaupun ada beberapa maid di rumah.
Pasangan Nathan dan Rika tengah menunggu kelahiran anak pertama mereka. Usia kehamilan Rika sudah menginjak delapan bulan tak berbeda jauh dengan usia kehamilan Refa hanya beda satu minggu dan kemungkinan besar lahir di hari yang sama bisa saja terjadi.
Untunglah Refa tinggal di tempat Bude jadi Onty Amel tak terlalu jauh melihatnya. Sementara Nathan dan Rika mereka tinggal bersama dengan Bunda Kasih dan Ayah Rian karena mereka hanya memiliki Rika anak satu-satunya.
Netanya yang telah menikah dengan Yoga pun memilih tinggal di apartemen karena mereka masih berdua. Pasca Netanya mengalami keguguran karena kecapean Yoga sedikit lebih protektif terhadap Netanya.
Menurutnya tinggal di apartemen akan meminimalkan Netanya untuk bergerak. Dan mereka cukup mempekerjakan satu orang maid untuk membereskan rumah dan melayani Netanya.
Bukannya hanya berpasrah beberapa kali Netanya menolaknya hanya saja Yoga tak ingin dibantah. Karena semua itu wujud rasa sayangnya untuk Netanya. Sampai akhirnya Netanya pun menuruti semua ucapan suaminya.
Yoga pun berhenti mengajar di yayasan tempat Netanya dulu bersekolah. Yoga memilih hanya memimpin perusahaan saja agar waktu bersama istri tercinta lebih lama.
Kasih yang tengah berada di ruang keluarga pun segera menuju kamar anak kesayangannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Kasih.
"Bun, perut Ri kenceng nih." Tunjuk Rika pada perutnya.
"Ri mau melahirkan?" Tanya Kasih.
"Ga tau Bunda." Jawab Rika polos.
Kasih pun segera memanggil maid untuk membereskan pakaian yang akan di bawa sementara Kasih membantu Rika menuju mobil yang telah disiapkan. Rika segera memanggil supir pribadinya untuk mengantrakan dirinya dan anaknya ke rumah sakit.
Dalam perjalanan Kasih menelfon Nathan memberitahukannya untuk segera ke rumah sakit. Begitu pun dengan Rian suaminya yang kini tengah menggantikan Rika di hotel.
Tak lupa Kasih memberitahukan Nadin sebagai besannya. Dan hal yang tak terduga ternyata Nadin dan yang lainnya tengah berada di rumah sakit menunggu kelahiran anak pertama pasangan Refa dan Agiel.
__ADS_1
Dan disinilah mereka semua. Di kamar VVIP. Yang telah di sulap agar Refa dan Rika bisa satu kamar bersama.
Refa dan Rika sama-sama melahirkan jagoan. Dengan anak Refa lahir satu jam lebih dulu dari jagoannya Rika. Refa melahirkan jagoan yang wajahnya Agiel tak ada yang terlewat. Begitupun dengan Rika yang melahirkan jagoan dengan Wajah Nathan.
"Padahal kita yang membawanya selama sembilan bulan kita yang sulit gerak dan sulit untuk melakukan apapun pas udah lahir malah kita yang ga kebagian ya Kak." Keluh Rika pada Refa.
"Iya ya dek." Jawab Refa dan membuat semua yang berada di kamar itu tertawa.
"Kalau begini mana mungkin takut tertukar bayinya. Lihat saja suami mereka nah itulah bayi mereka." Ucap Bude sambil menatap dua bayi di hadapannya.
"Tenang Bude kami pun sudah bisa membedakan bayi kami." Jawab Refa dan Rika bersamaan.
"Benarkah? Apa?"Tanya Nayya.
"Bayi Ri memiliki tanda lahir di lengannya itu yang Ri lihat saat pertama kali bayi Ri diberikan." Jawab Rika.
"Bayi Refa memiliki lesung pipi di kedua pipinya Ka." Jawab Refa.
"Wah... Kalian ibu yang hebat." Puji Nayya.
"Baru saja beberapa jam setelah melahirkan kalian sudah bisa menyebutkan ciri-ciri anak kalian." Tambah Bude.
"Harus dong." Jawab keduanya.
Satu persatu keluarga pun pulang karena tidak memungkinkan bagi mereka untuk lebih lama lagi di rumah sakit. Meninggalkan dua keluarga kecil yang tengah bersuka cita.
**T___A___M___A___T
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Alhamdulillah akhirnya Othot bisa menyelesaikan season ini. Terima kasih yang tak terhingga buat riders setiaku yang selalu menunggu part demi part walau terkadang sedikit tidak singkron jalan ceritanya π. Harap dimaklum karena othor masih belajar.
Jangan lupa mampir di cerita othor yang lainnya ya. Jangan pernah bosen buat kasih komen, jempol, vote dan hadiahnya.
Sekali lagi othor ucapkan terima kasih ya semuanya π€π€π€
__ADS_1
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ**