
Setelah perdebatan yang lumayan genting akhirnya mereka berempat menemukan solusinya. Tak terasa saat mereka keluar dari pabrik hari sudah malam. Nadin menghembuskan nafas kasar.
"Kenapa Lu?" Tanya Nando.
"Sayang ga ada Kasih ya." Ucap Nadin.
"Emang kenapa?" Tanya Ivan.
"Gw kangen masa-masa kita dulu. Ngalor ngidul ga jelas sampe larut malam dan berakhir dengan tidur sembarangan mencari kenyamanan masing-masing." Kenang Nadin pasa masa lalunya.
Ketiga lelaki itu pun mendekati Nadin dan memeluknya. Tak terasa bulir bening pun menetes di pipi Nadin.
"Makasih ya kalian selalu ada buat Gw." Ucap Nadin di sela isak tangisnya.
"Pasti berat jadi Lu. Jangan pernah sungkan datanglah pada kami untuk meringankan sedikit beban mu Nad." Ucap Ivan.
Pelukan mereka pun semakin erat. Ketiga pria dewasa itu pun ikut meneteskan air matanya.
"Kita pulang sekarang." Ajak Nando.
"Gw langsung ke kota C." Ucap Arif.
"Eh, Lu ga bilang Amel kan kalau Gw datang hari ini?" Tanya Nadin cemas.
"Ngga. Gw bilang kalau Lu datang Gw telfon dia. Dan hari ini Gw ga telfon Dia berarti Lu ga dateng." Ucap Arif.
"Thanks Rif." Jawab Nadin.
"Tenang aja Nad. Kita akan ceritakan semuanya nanti. Ayah dan Ka.Angga sudah berjanji. Dan mereka bikan tipe orang yang ingkar." Ucap Arif menenangkan Nadin.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih sekali lagi." Ucap Nadin.
"Sudahlah. Ayo Nad. Gw anter ke rumah Mama." Ajak Ivan.
"Oke. Gw nebeng Lu ya Van." Ucap Nadin.
"Dan Lu hati-hati ya Rif." Pesan Nadin pada Arif.
Arif hanya mengangguk menjawab pesan Nadin. Nando, Arif, Ivan dan Nadin pun masuk kedalam mobil masing-masing. Mereka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Lu lama di rumah Mama?" Tanya Ivan.
"Semalam ini aja. Besok Gw ke kota C dulu terus lanjut lagi ke kota Yk." Jawab Nadin.
"Wah, gila sih. Ga cape Lu?" Tanya Ivan.
"Di nikmatin aja Van. Lu kapan balik ke kota Jk?" Tanya Nadin balik.
"Hm... CEO kita sibuk banget ya." Sindir Nadin.
"Alhamdulillah Ayah percaya sama Gw." Jawab Ivan sambil tertawa.
Nadin sampai di rumah Mama dan Bapak. Suasana rumah masih tampak ramai. Mama, Bapak dan yang lainnya belum tidur karena jam masih menunjukan pukul sembilan malam. Masih belum terlalu larut untuk mereka tidur. Ditambah Indah dan Doni yang baru saja sampai dari rumah sakit.
"Teteh,,," Teriak Indah pada Nadin sambil berlari menghambur kedalam pelukan Nadin.
Nadin pun membalas pelukan adik kesayanganya. Setelah berpelukan dengan Adik tercintanya Nadin bersalaman dengan Bapak dan Mama. Nadin mencium punggung tangan keduanya dan juga memeluk keduanya.
"Teteh sehat?" Tanya Bapak.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat Pak." Jawab Nadin seraya mendudukan dirinya di sofa tunggal.
"Bagaimana perkembangan Ibu mu Nak?" Tanya Mama.
"Alhamdulillah jauh lebih baik Ma. Sekarang sudah bisa berbicara walau tak selantang dulu." Jawab Nadin.
"Setelah pernikahan Susi. Mama dan Bapak tak tau lagi perkembangan Ibu mu." Ucap Mama.
"Mama ga usah khawatir. Susi dan suaminya masih sering ke rumah untuk mengunjungi Ibu dan memberikan therapi pada Ibu. Bahkan sekarang mereka pun menginap di rumah untuk menjaga anak-anak dan juga Ibu dan Ayah." Jelas Nadin.
"Alhamdulillah." Jawab Mama dan Bapak.
"Teteh lama kan disini?" Tanya Indah.
"Besok Teteh pulang ke kota C Ndah." Jawab Nadin santai.
"Loh, ko. Indah fikir Teteh beberapa hari disini karena harus bolak balik pabrik." Ucap Indah.
"Urusan pabrik sudah selesai Ndah. Besok Teteh ke kota C dulu. Mas Angga kan di sana." Jawab Nadin.
"Loh, Teteh sama Aa? Kenapa Aa ga kesini sekalian?" Tanya Indah lagi.
"Ngga. Teteh ke sini sama Mang.Ujang sama Bik.Nina. Kalo Aa memang sudah sebulanan tinggal di kota C sendirian. Seminggu sekali sih pulang ke Yk." Jelas Nadin.
"Astagfirullah.. Kalian LDRan gitu?" Pekik Indah.
*Iya untuk sementara waktu Dek." Jawab Nadin.
Setelah berbincang cukup lama Nadin pun berpamitan untuk ke kamar membersihkan diri dan beristirahat. Sebelum tidur Nadin menyempatkan untuk menelfon Angga.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏