
"Maksdu Lu apa Nan?"
"Ga ada maksud apa-apa."
"Gw ga pernah membedakan siapa pun yah."
"Nan, kita ga mempermasalahkan ini semua. Kita hanya ingin Lu mengakuinya. Dan Lu kenapa sampe pake duit segini banyak." Tanya Arif hati-hati.
"Itu bukan urusan Lu."
"Tentu ini urusan kita. Lu sadar ngga sih." Ucap Nadin semakin panas.
"Nad,, Lu tenang dulu. Kita tunggu jawaban Nando. Jawab Ivan menenangkan.
Nadin hanya diam mendengarkan percakapan antara ketiga sahabatnya itu. Ponsel Nadin berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dilihatnya nama Kasih tertera di layar.
"Halo. Kenapa Kas?"
"Lu dimana?"
"Di pabrik. Kenapa?"
"Kapan Lu balik?"
"Kenapa sih?"
"Eh, kenapa Lu? Ko emosi?"
"Eh, sori-sori. Emang kenapa?"
"Ada Tina di rumah gw."
"Hah! Ngapain?"
"Lu balik aja dulu. Tali, Lu jangan kasih tau Nando kalo bininyabada disini."
"Iya. Ya udah gw bilang Arif dulu. Soalnya Gw jalan ama Arif."
"Loh, ada masalah di pabrik?"
__ADS_1
"Ngga cuma. Kunjungan aja. Ntar Gw ceritain ya."
"Ya udah cepetan balik."
"Iya bawel."
"Kenapa Kasih?" Tanya Arif.
"Biasalah orang ngidam sukanya aneh-aneh." Jawab Nadin asal.
"Sekarang gini aja deh Nan. Kita ini bukan hanya sekedar sahabat. Kita ini keluarga. Gw tunggu kalian semua di rumah mertua Gw. Kita obrolin santai di sana nanti malem. Sekarang Gw balik dulu kasian anak Gw."
"Enak ya kalo orang punya kuasa mah bebas atur."
Brak.. Nadin menggebrak meja dengan sangat kencang sampai semua yang ada di ruangan itu kaget.
"Nadin!"
"Kalo Lu punya rasa tanggung jawab Lu datang. Tapi kalo ngga ga usah datang. Ayo Rif balik."
"JKita balik dulu Van, Nan."
"Iya. Ati-ati Lu bawa mobilnya Rif."
"Iya."
"Kita kerumah Kasih Rif."
"Kenapa?"
"Kata dia ada Tina."
"Loh, ngapain dia?"
"Ya makanya kita kesana dulu biar tau ada apa."
"Oke deh."
Sampai di kota C mobil Arif langsung menuju rumah Kasih.
__ADS_1
"Selamat siang Pa. Ibu ada?"
"Siang Pa, Bu. Ada Pa. Silahkan sudah di tunggu sama Ibu."
"Makasih Pa." Arif pun langsung memarkirkan mobilnya di halaman rumah Kasih. Keduanya turun dari mobil dan langsung menuju rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Jawab Kasih dan Tina bersamaan.
"Eh, Tin. Ada di sini. Apa kabar?" Sapa Nadin.
"Iya. Baik. Lu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik Tin. Sendiri?"
"Iya."
"Udah lama Tin?" Tanya Arif.
"Udah."
Nadin duduk di samping Tina setelah di beri kode oleh Kasih. Dan Arif duduk di samping Kasih. "Ponakan gw lagi ngapain Kas?"
"Berenang."
"Caelah galak bener. Kalo udah keluar dari perut mama jangan galak-galak kaya mama ya." Ujar Arif seraya mengelus perut Kasih yang mulai menyembul.
"Kehamilan yang ini ga terlalu rewel ya?"
"Alhamdulillah ngga. Lu ga berencana satu lagi gitu Rif." Tanya Kasih. Dan hanya di jawab senyuman oleh Arif.
"Bininya udah hamidun Kas."
"Serius? Amel tekdung juga."
"Iya. Berisik Lu."
Sejenak mereka melupakan apa yang akan mereka bahas bersama Tina. Keempatnya larut dengan obrolan mengenai kehamilan Kasih dan Amel.
__ADS_1
Tina pun ikut terhanyut dalam obrolan mereka. Dan sedikit melupakan masalahnya.
Tbc..