
Hati Topan memanas melihat kemesraan Nadin dan Angga. Namun istrinya selalu saja memuja Nadin. Sampai acara selesai barulah mereka semua berpamitan. Syafa bertukar nomer ponsel dengan Nadin dan berjanji akan bertemu lagi.
Nadin selalu menerima pertemanan siapa saja tanpa melihat siapa dia. Walaupun Topan telah menyakiti hatinya tapi Syafa tak bersalah apa-apa. Angga semakin bangga pada istrinya. Kelapangan hatinya menjadi salah satu kebanggaan semua orang.
Namun dibalik kedewasaannya kali ini tersimpan kemanjaan yang luar biasa pada Angga. Sepulang dari acara resepsi Nadin terus merengek tak ingin di tinggal Angga bahkan hanya untuk ke kamar mandi pun Nadin harus ikut.
"Teteh, kesayangan Mama. Mama pulang dulu yah. Nayya Mama bawa lagi yah. Lusa mau ada acara di rumahnya Uwa. Itung-itung Nayya sebagai perwakilannya Teteh aja ya."
"Iya Mah. Maaf ya Mah ngerepotin Mama."
"Ngga sayang Mama sama Bapa sih seneng ada Nayya dirumah ada hiburan." Keduanya pun saling berpelukan.
"Ma, Nayya ikut Nenek sama Aki ya."
"Iya sayang. Tapi, Mama masih kangen Kaka." Jawab Nadin sambil memeluk Nayya.
"Kata Papa nanti Papa sama Mama kan pulang ke rumah Nenek sama Aki."
"Iya tapi kan masih dua minggu lagi sayang."
"Nayya sayang Mama." Ujar Nayya sambil memeluk Mamanya.
Usia Nayya baru Empat tahun setengah namun sikap Nayya sangat dewasa. Mba.Sus selalu mengajarkan Nayya agar Nayya mandiri walaupun mba.Sus selalu mengikutinya kemana pun.
__ADS_1
Mama dan Bapa pun selalu dibantu mba.Sus dalam merawat Nayya di kota C. Mba.Sus merasa terharu dengan penerinaan kuluarga Nadin terhadap Nona kecilnya. Siapapun yang menyinggung tentang nona kecilnya mereka akan berdiri paling depan untuk membela nona kecilnya. Anya memang tak salah memilih Nadin untuk jadi mama Nayya.
"Mba.Sus, Makasih ya udah jagain Nayya sama orang tua saya."
"Sama-sama Bu. Ibu jangan sungkan gitu dong saya jadi ga enak."
"Makasih ya Mba." Ucap Nadin sembari memeluk mba.Sus.
Mba.Sus tak merasa canggung dengan pelukan Nadin karena itulah Nadin akan selalu merangkul siapa saja.
Hari ini rumah terasa sepi hanya ada Angga, Nadin dan para maid. Karena Ibu dan Ayah harus ke kota Jk untuk mengurus hotelnya disana sementara Arif dalam masa cuti pernikahan. Sementara Amel dan Arif langsung bertolak ke sebuah pulau untuk berbulan madu.
"Sayang, minum susu dulu yah." Nadin pun membenarkan duduknya dan mengambil alih gelas dari tangan Angga.
"Ngga. Katanya sih tiga hari. Kenapa?"
"Sepi. Amel sama Arif tetep tinggal disini kan?"
"Permintaan Ibu dan Ayah sih begitu seperti kita yang ga boleh keluar dari sini."
"Iya dooong kan ini rumah sebegini gedenya masa cuma di tinggalin Ibu sama Ayah."
"Kamu ga apa-apa ga aku bawa pindah ke rumah kita sendiri?"
__ADS_1
"Semua perempuan pasti mau hidup berumah tangga sendiri bersama suaminya sayang tanpa di campuri urusannya oleh siapa pun. Tapi Ibu dan Ayah juga Amel selalu menempatkan posisinya dengan baik tanpa mencampuri urusan kita."
Angga pun memeluk Nadin. Nadin tak pernah meminta Angga membawanya pergi dari kediaman Bagaskara. Bukan marena kemewahan yang disuguhkan disini melainkan kebersamaan yang selalu Nadin rindukan bertahun-tahun. Dan inilah masa dimana Nadin kembali merasakannya.
Walaupun bukan dari orang tuanya namun Nadin tak pernah merasa terasing disini. Sambitan hangat mertuanya mampu mengalahkan segala rasa apapun. Ibu dan Ayah begitu menyayanginya.
"Yang, Ka.Aldo kemarin Nanyain semester depan Nad mau ngajar lagi ngga?"
"Terus jawabannya?"
"Ngga tau."
"Ko ngga tau?"
"Semester depan berarti kehamilan Nad udah tujuh bulan terus nanti Indah Nikahan."
"Kalo kamu bisa boleh. Tapi kalo ngga jangan dipaksakan ya sayang."
"Tapi Nad boleh ngajar lagi?"
"Boleh sayang." Jawab Angga sambil merangkul pinggang Nadin.
Para maid yang melihat kemesraan mereka merasa ikut meleleh hatinya. Bagaimana tidak Angga dan Nadin selalu menunjukan kemesraannya dimana pun tanpa peduli ada siapa. Para maid sangat mengagumi pasanagan ini. Maid yang belum memiliki pasangan selalu bermimpi mendapatkan pasangan yang sepengertian tuannya.
__ADS_1
Tbc...