
Sudah hampir tiga bulan Ibu dan Ayah tinggal bersama dengan keluarga Angga. Namun tak pernah sekali pun Amel datang mengunjungi mereka. Hanya ada Arif sesekali datang mengunjungi mereka semua.
Sementara Sahabat Nadin dan Angga silih berganti datang untuk mengunjungi Ibu dan Ayah. Bahkan Mama dan Bapak pun beberapa kali mengunjungi Ibu dan Ayah.
Hari ini Ibu tampak murung. Tak seperti biasanya Ibu tak banyak merespon ucapan siapa pun. Bahkan saat Nadin dan Neta pulang tak seperti biasanya Ibu hanya diam termenung.
"Ibu kenapa Yah?" Tanya Nadin pada Ayah.
"Ayah tidak tau Nak. Sejak pagi Ibu hanya diam." Jawab Ayah.
Nadin pun mendekati Ibu yang tengah termenung.
"Ibu," Sapa Nadin. Lalu mendorong kursi roda Ibu ke taman belakang.
Nadin duduk di kursi taman dan menghadapkan kursi roda Ibu kepadanya. Nadin mengusap lembut tangan Ibu. Nadin menatap mata sendu Ibu.
"Ibu kangen Amel?" Tanya Nadin to the poin.
Ibu hanya diam menatap manik mata Nadin. Dan manik mata ibu pun mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ibu dengar apa yang Arif katakan kemarin?" Tanya Nadin kembali.
Ibu pun perlahan menganggukan kepalanya. Nadin pun duduk mensejajarkan tinggi dengan Ibu. Nadin memeluk erat Ibu. Seolah menyalurkan kekuatan dan ketegaran untuk Ibu.
"Nanti Nad coba bicara dengan Amel ya Bu. Ibu jangan sedih lagi. Nad yakin Amel tidak seperti itu." Ucap Nadin menenangkan Ibu.
Ibu menatap dalam mata Nadin. Mencari kesungguhan Nadin. Nanum benar saja hanya ada ketulusan terpancar dimata Nadin. Walaupun Nadin tak tau harus berbuat apa kepada situasi yang tengah di alami oleh Amel dan keluarga kecilnya.
Nadin hanya sebagai pendengar namun tak mampu berbuat lebih. Beberapa hari yang lalu memang Arif datang dan mengeluhkan tentang keadaan Amel yang sering pulang larut dan mengabaikan anak-anaknya.
Sampai Arif berfikir untuk pergi saja seperti dulu apa yang dilakukan oleh Nadin. Namun Nadin bersikeras melarang Arif dan meminta Arif untuk lebih bersabar menghadapi adik iparnya itu.
Ibu tampak murung setelah mendengarkan percakapan antara Nadin dan Arif. Sebagai seorang Ibu. Ibu merasa sudah gagal mendidik Amel dengan benar.
"Bu, " Sapa Nadin.
Ibu pun hanya menatap kearah Nadin tanpa mengeluarkan suara apa pun. Nadin pun semakin mengiba terhadapi keadaan Ibu mertuanya. Nadin memeluk Ibu erat.
"Kita masuk ya." Ajak Nadin. Ibu pun mengangguk.
__ADS_1
Saat mereka akan masuk terlihat Angga berjalan ke arah mereka.
"Mas, ko udah pulang?" Tanya Nadin heran.
"Tadi ada meeting di luar terus Mas pulang aja deh sekalian makan siang. Nanti Mas balik ke kantor setelah makan siang." Jelas Angga.
"Owh! Begitu. Nad fikir kenapa?" Jawab Nadin lega.
"Ibu kenapa?" Tanya Angga.
Ibu hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan anak sulungnya. Angga yang selalu perhatian kepadanya berbeda dengan Amel yang selalu terlihat acuh kepadanya.
"Ibu mau istirahat atau disini saja?" Tanya Nadin.
Ibu pun memberi kode dengan mengangkat tangannya menunjukkan ke arah kamar.
"Baiklah Nad akan antar Ibu untuk istirahat yah. Nanti Nadin bangunkan saat makan siang ya Bu." Ucap Nadin sambil mendorong kursi roda Ibu.
Angga tersenyum melihat interaksi kedua bidadarinya. Angga senang karena mendapatkan Nadin yang begitu luas hatinya. Nadin yang begitu sabar dan tulus.
__ADS_1
Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupa like dan komennya. Terima kasih 🙏🙏🙏