Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Menangislah


__ADS_3

"Kalo begitu sejak pagi Nadin menahan kontraksinya. Bahkan mungkin sejak semalam." Keluh Ibu sambil tak kuasa menitikan air matanya.


Ayah mendekati Ibu dan merangkul pundaknya memberi kekuatan. Sementara Amel hanya diam mematung.


"Ayo kita jemput Nadin Rif." Ajak Ibu.


"Dina sudah pulang dari klinik Bu." Jawab Arif.


"Apa?!" Ucap Ibu dan Ayah bersamaan.


"Lantas pulang kemana? Coba tanya Mamah Rif." Titah Ayah semakin panik.


"Arif sudah telfon Mamah tapi Mamah malah bertanya tentang Nadin dan menitipkan Nadin pada Arif. Karena Mamah takut Nadin melahirkan dalam waktu dekat." Jawab Arif panjang kali lebar luas keliling.


"Masa ga ada yang tau kemana Nadin pergi?" Tanya Ibu sedikit menaikan suaranya.


"Ga ada Bu. Nadin pun sudah resign dari kampus tiga bulan yang lalu."


"Hah!" Jawab Ibu dan Ayah bersamaan.


"Coba hubungi Mba.Sus." Titah Ayah kembali.

__ADS_1


"Nomer Mba.Sus ga aktif Yah. Hanya nomer Nadin yang aktif tapi juga tidak bisa di hubungi Yah." Jawab Arif kembali.


Sekarang mereka pun hanya diam dengan fikiran mereka masing-masing. Ibu terus menangisi Nadin. Sementara Ayah tak tau harus mencari Nadin kemana karena semua telah Arif tanyakan. Tak lama datanglah Ivan dan Nando. Karena keduanya cemas kenapa Nadin tidak datang rapat tadi pagi.


"Assalamu'alaikum." Sapa Ivan dan Nando.


"Wa'alaikum salam." Jawab semuanya.


"Ada apa?" Tanya Ivan.


"Nadin ga ada Van." Jawab Arif.


"Maksud Lo?" Tanya Nando.


"Kasih." Tanya Ivan. Dan semua hanya menggeleng.


"Anak-anak." Tanya Ivan kembali. Dan semua pun menggeleng.


"Rumah Bapak?" Dan semua pun menggeleng.


Semua pun tak tau harus mencari Nadin kemana. Ayah meminta anak buahnya mencari Nadin. Namun sampai tengah malam orang suruhan Ayah tak ada bisa menemukan Nadin. Semua berkumpul di kediaman Bagaskara. Termasuk orang tua Nadin.

__ADS_1


"Maafkan Kami Mah. Kami kurang memperhatikan Nadin beberapa bulan terakhir ini." Sesal Ibu.


"Sudahlah tak perlu saling menyalahkan Bu. Saya yakin Nadin dan anak-anaknya baik-baik saja." Jawab Mamah tenang.


Semua konsentrasi dengan gawai masing-masing mencari informasi keberadaan Nadin.


Sementara di rumah kontrakan Nadin. Anak-anak Nadin tertidur dengan pulas. Nadin terbangun karena harus menyusui baby Girl. Setelah menyusui Nadin melihat ponselnya dan sudah banyak panggilan tak terjawab juga beberapa pesan masuk.


Nadin hanya melihatnya tanpa mau membuka semuanya. Nadin mematikan koneksi internet pada ponselnya. Dan membiarkan ponselnya tetap aktif walau tanpa suara. Mba.Sus terbangun dan melihat Nadin tengah menangis.


"Bu," Panggil Mba lembut. Nadin menoleh ke arah sumber suara. Lalu memeluk Mba.Sus. Nadin pun menangis dalam dekapan Mba.Sus.


"Menangislah Bu. Jika dengan menangis membuat sedikit lega." Mba.Sus memgusap punggung Nadin lembut.


"Apa saya salah melakukan ini Mba?" Tanya Nadin sambil tersedu.


"Tidak ada yang salah dan benar dalam hal ini. Semua hanya saling salah faham." Jawab Mba.Sus lembut.


"Apa kita pulang saja?" Tanya Nadin lagi.


"Jika dengan pulang akan menambah beban dihati tenangkan saja dulu di sini. Setelah sedikit lebih tenang kita cari solusinya lain ya." Jelas Mba.Sus sedikit memberi solusi pada Nadin.

__ADS_1


Sampai disini dulu semuanya... Terima kasih sudah mendukung Author sampai saat ini. Jangan lupa like dan komennya ya. 🙏🙏🙏


__ADS_2