Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Dipulangkan


__ADS_3

Setelah mengenakan pakaian santainya Arif turun menuju meja makan. Arif makan dengan santai tanpa menghiraukan apapun. Terlihat kejam namun Arif harus melakukan sandiwaranya. Walaupun sebenarnya hatinya sakit dan tak ada selera makan sama sekali melihat keadaan istrinya.


"Kalian pergilah sore ini sesuai rencana." Ucap Arif pada maid yang sudah berkumpul dibdekat meja makan.


"Baik Tuan." Ucap mereka.


Semua maid bubar dan bersiap untuk pergi berlibur beberapa hari sampai teman mereka menghubungi mereka kembali. Karena hanya akan ada dua orang maid saja yang akan tinggal di kediaman Bagaskara.


Selesai dengan makannya Arif kembali ke kamarnya. Dilihatnya Amel tertidur dengan sisa air mata membasahi pipinya. Arif membenarkan posisi tidurnya dan menyelimutinya hingga ke pinggang. Setelah dirasa cukup nyaman Arif keluar menuju ruang kerjanya.


📱Halo Ka. Bagaimana ini? Gw ga tahan liat istri Gw. (Arif)


📱Sabarlah Rif. Semua pasti baik-baik saja. Orang suruhan Ayah sedang mengumpulkan banyak bukti. (Angga)


📱Baiklah Ka. (Arif)


Arif mematikan sambungan telfonnya setelah berbincang dengan Angga. Semua sahabat pun di berikabar tentang rencana Ayah. Karena akan sangat kacau jika salah satu diantara mereka ada yang tak di beri kabar.


Pagi hari Amel terbangun. Dilihatnya sang suami masih memejamkan matanya. Amel memandang lekat wajah suaminya. Orang yang selalu ada di saat-saat terburuk baginya. Amel menyentuh pipi Arif.


"Hmm.." Ucap Arif dengan mata yang masih menutup.


"Sudah bangun?" Tanya Amel.


"Hmm. Sebentar lagi saja ya. Mas masih ngantuk." Jawab Arif dengan suara beratnya dan tidak membuka matanya.


"Hm. Baiklah. Amel mandi duluan ya." Pamit Amel.


"Hmm." Hanya itu jawaban dari Arif.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Amel mengenakan pakaian rapihnya. Hari ini ada janji dengan klien yang akan memesan pakaian di butiknya. Setelah di rasa cukup Amel membangunkan suaminya untuk mandi dan menyiapkan pakaian Arif seperti biasa.


Kemudian Amel pergi ke bawah untuk melihat kesiapan maid menyiapkan sarapan. Di dalam kamar Arif masuk kedalam kamar mandi setelah Amel keluar dari kamarnya. Dirinya menyiapkan diri jika terjadi kekacauan pagi ini.


Amel terkejut ketika melihat seisi rumah sepi. Penuh pertanyaan di benaknya kemana para maid sepagi ini rumah sangat sepi tidak seperti biasanya para maid bersliweran kesana-kemari melakukan pekerjaannya masing-masing.


"Bik," Panggil Amel pelan.


"Bibik." Panggil Amel lagi.


"Iya Nyonya." Saut Salah satu Bibik dari arah dapur.


"Pada kemana sih di panggil ko ga ada yang nyaut." Teriak Amel pada maid tersebut.


"Maaf Nyonya. Saya sedang memasak dan Bik.Ayum sedang mencuci pakaian." Jawab Maid tersebut.


"Yang lain?" Tanya Amel.


"Memulangkan! Apa maksudnya?" Tanya Amel.


"Iya Nyonya. Saya tidak tahu." Jawab Maid tersebut.


Dengan amarah yang berkecamuk Amel kembali ke kamarnya untuk menemui suaminya. Saat masuk kedalam kamarnya Amel melihat Arif tengah mengenakan pakaiannya.


"Apa maksud kamu memulangkan para maid?" Tanya Amel sinis.


"Aku tidak memiliki uang cukup untuk membayar semuanya. Syukur aku menyisakan dua orang maid untuk membantu kamu di rumah ini." Jawab Arif santai.


"Dua orang! Membantu Saya! Maksud kamu apa?" Tanya Amel dengan amarah yang semakin memuncak.

__ADS_1


"Ya. Hanya itu yang bisa saya lakukan dengan uang gaji yang ga seberapa Mel. Saya bukan CEO seperti kemarin." Jawab Arif masih dengan santainya.


"Jangan gila kamu Mas. Mana bisa dua orang maid mengerjakan semuanya di rumah ini." Elak Amel.


"Ya kamu coba bantu yang bisa kamu lakukan dong sayang." Ucap Arif datar.


"Apa? Kamu becanda Mas." Jawab Amel tersenyum.


"Aku ga becanda sayang. Lalu uang dari mana untuk membayar mereka semua. Kamu mau membayar mereka?" Tanya Arif datar.


"Hah! Aku. Jangan gila deh mas. Kita hubungi Ayah. Mana mungkin Ayah bisa menjual semua asetnya." Erang Amel.


"Semua bisa saja terjadi Mel. Dan Mas tidak tahu Ayah dimana sekarang." Jawab Arif sambil mendudukan diri di sofa.


"Ngga mungkin kamu ga tahu Ayah dimana. Lantas Mas Angga dimana?" Tanya Amel penuh selidik.


"Angga tinggal di kota Yk. Di rumah yang pernah Nadin beli beberapa tahun yang lalu. Tidak mewah tapi cukup nyaman bagi mereka." Terang Arif berbohong.


"Dari mana Mas tahu itu?" Tanya Amel lagi.


"Apa yang tidak Mas mu ini ketahui dari Nadin Sayang. Dia sahabat Mas. Ya Mas tahu jika Nadin membeli rumah itu untuk tempat singgah kita kala kita pergi ke kota Yk." Ucap Arif.


"Lantas jika Dia memiliki banyak harta mengapa tidak bisa membantu usaha Ayah yang merosot?" Tanya Amel.


"Karena Kakak mu yang memintanya. Walaupun sebagian sudah Nadin berikan untuk pengobatan Ibu." Jawab Arif.


"Sudahlah. Aku mau sarapan terus pergi ke kantor. Sebelum Mas terlambat dan Ka.Rian akan memecat Mas." Pamit Arif.


Amel sangat kesal karena semua jawaban Arif tak membuatnya puas. Amel semakin kesal terhadap Nadin. Namun, segala tuduhan yang dia layangkan kepada Nadin tak beralasan.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2