
Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah Angga. Neta yang bersiap untuk keluar menemui orang yang datang karena Neta tau itu suara mobil Papa nya. Namun ketika hendak melewati meja makan kaki Neta kepentok ujung meja dengan sigap Yoga pun menangkap tubuh Neta yang hampir terjerembab.
Namun naas kedua orang tua Neta sudah berada di ambang pintu menyaksikan Neta dan Yoga yang seolah bagaikan tengah berpelukan. Nadin membulatkan matanya dan menutup mulutnya menyaksikan anak bungsunya. Begitu pun dengan Angga.
Nadin memegang lengan Angga memberi kode untuk diam. Membiarkan Neta dan laki-laki tersebut. Nadin ingin tau apa yang akan di lakukan anaknya. Angga pun mengerti maksud Nadin.
"Maaf Pak." Ucap Neta.
"Pak." Batin Nadin. Dan Angga pun menoleh ke arah Nadin. Seolah bertanya siapa Pak yang dimaksudkan oleh Neta.
"Kamu ngga apa-apa?" Tanya Yoga.
"Ngga Pak." Ucap Neta.
"Hati-hati." Jawab Yoga.
"Iya Pak." Jawab Neta malu-malu.
Neta menoleh kearah belakang Yoga dan betapa Neta kaget melihat kedua oeang tuanya sudah berdiri di hadapannya.
"Mama, Papa." Ucap Neta.
"Mama, Papa?" Tanya Yoga.
Neta refleks memutar badan Yoga menghadap Orang tuanya. Dan dengan sangat gugup Yoga mengembangkan senyumnya. Setelah menetralkan perasaannya Yoga pun mulai memperkenalkan dirinya.
"Assalamu'alaikum Pak, Bu." Ucap Yoga.
"Wa'alaikum salam." Jawab Nadin dan Angga bersamaan.
"Perkenalkan Pak, Bu. Saya Prayoga Hadist guru olah raga di sekolah Netanya." Ucap Yoga.
"Owh! Silahkan duduk Pak." Ucap Angga bersikap seolah mereka tidak melihat apa yang baru saja terjadi di antara anak dan gurunya baru saja.
Angga dan Nadin pun duduk berdampingan di samping Neta. Dan Yoga berada di hadapan Angga. Tanpak raut gugup di wajah Yoga dan takut di wajah Neta.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih Pak. Karena kemarin anda telah di repotkan oleh Neta dan sudah repot mengantarkannya." Ucap Nadin.
"Sama-sama Bu. Itu sudah menjadi tanggung jawab saya Bu. Karena kejadian yang menimpa Neta juga di saat jam pelajaran saya. Saya juga mohon maaf tidak bisa mengantarkan Neta kemarin karena saya ada kepentingan yang tidak bisa saya tinggalkan." Jelas Yoga.
"Tidak apa-apa Nak. Kami sangat berterima sekali." Ucap Angga.
"Papah." Ucap Nadin. Seperti menegur Angga karena mengucapkan kata Nak pada guru Neta. Dan Angga pun seolah mengerti ucapan Nadin.
"Papah mengenal keluarga Hadist Ma." Ucap Angga. Dan membuat semua yang berada di situ terkaget. Tak terkecuali Yoga.
__ADS_1
"Maaf maksud Bapak?" Tanya Yoga.
"Saya berteman baik dengan Ayah Kamu. Dan sekarang saya tau anak yang sering di bicarakan oleh Ayah mu." Ucap Angga santai.
"Wah, kebetulan sekali ya."Ucap Nadin.
Yoga pun tersenyum malu-malu. Seperti pacar yang ketauan selingkuh.
"Dan saya tau kenapa kemarin kamu tidak mengantarkan anak saya pulang." Jawab Angga.
"Owh! Iya Pak. Maaf sekali lagi. Pantas saya seperti pernah bertemu sebelumnya." Ucap Yoga.
"Iya. Dan sebelumnya Kamu memanggil saya dengan sebutan Om dan sekarang kamu ubah menjadi Bapak. Saya jadi merasa tua." Jawab Angga yang di barengi dengan tawanya.
Neta hanya diam menjadi pendengar yang baik. Yoga melirik kearah Neta yang hanya diam. Yoga memang mengagumi Neta sejak pertama kali melihat Neta di sekolah. Tapi Yoga merasa itu hanya rasa kagum seorang guru kepada muridnya.
"Kalo begitu silahkan di lanjutkan ngobrolnya ya. Kami masuk dulu. Di cicipi juga kue nya Nak. Itu Neta yang buat kemarin." Ucap Nadin seraya berpamitan masuk kepada Yoga. Dan Yoga pun hanya menganggukan kepalanya.
Mendengar penuturan Nadin baru saja Yoga melirik kearah Neta. Dan Neta yang merasa tertangkap basah seperti istri yang ketahuan berbohong hanya diam menundukan kepalanya.
"Hm.. Sepertinya saya akan setiap hari meminta murid saya ini untuk membawakan bekal makan siang untuk saya karena telah berani berbohong kepada gurunya." Ucap Yoga sambil pandangannya tak lepas dari Neta.
Neta pun menoleh kearah Yoga dengan tatapan terkejutnya. Dan Yoga memberikan senyumnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Jadi, pagi siang sore nih? Ga cuma makan siang?" Goda Yoga.
"Bapak..." Ucap Neta manja.
"Kalo begitu Saya permisi ya. Saya tunggu makan siang nya." Ucap Yoga.
"Sampaikan juga pamit saya kepada kedua orang tua mu. Tak enak mengganggu istirahat mereka." Ucap Yoga lagi.
Neta oun mengantarkan Yoga sampai kedepan dengan langkah yang tertatih. Yoga menyunggingkan senyumnya kala melihat Neta yang berusaha mengantarkannya sampai kedepan. Sudah seperti istri yang mengantarkan suaminya berangkat kerja.
Setelah di pastikan mobil Yoga hilang dari pandangangnya Neta pun segera masuk kedalam dengan berpegangan ke dinding rumahnya agar tak terjatuh.
Bik.Mimin yang melihatnya langsung membantu Neta berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar Neta merebahkan badannya yang terasa pegal karena hampir seharian duduk menemani Yoga di depan. Karena Yoga ingin menunggu orang tau Neta untuk menyampaikan permintaan maafnya.
Tak butuh waktu lama Neta pun telah terbang kealam mimpinya. Sementara Nadin yang sudah berada di kamarnya sejak tadi terus bertanya siapa Yoga.
"Sayang, ayolah." Bujuk Nadin agar Angga mau menceritakan perihal Yoga padanya.
"Yoga itu anak lelaki satu-satunya keluarga Hadist Ma. Dia diminta Orang tuanya untuk meneruskan perusahaannya. Tapi Yoga menolak dan memilih menjadi seorang guru oleh raga di yayasan milik Kakeknya. Ya tempat Neta sekolah itu." Jelas Angga.
"Loh, terus." Tanya Nadin semakin penasaran.
__ADS_1
"Kemarin Bani mengancam jika dirinya tak mau memimpin perusahaan juga maka Yoga harus terima jika dia akan di jodohkan dengan anak dari temannya Bani. Makanya kemarin dia datang ke perusahaannya." Jelas Angga lagi.
"Siapa yang mau di jodohkan dengan Yoga Pah?" Tanya Nadin semakin penasaran.
"Ngga ada sayang. Itu hanya sebuah ancaman yang di lakukan Bani. Karena Bani tau Yoga paling tidak suka di jodoh-jodohkan." Jawab Angga terkekeh.
"Owh! Astaga ada-ada saja sih." Ucap Nadin.
"Ya begitulah sayang. Orang tua selalu punya cara untuk membujuk anak-anaknya." Ucap Angga.
"Papa mau ke kantor?" Tanya Nadin.
"Ngga Mah. Besok saja. Sekarang kita istirahat saja." Ajak Angga kepada Nadin.
Dan bukannya istirahat mereka malah melakukan olah raga di siang hari. Setelah mereka melakukan apa yang mereka inginkan akhirnya mereka pun terkapar di bawah selimut.
Sore hari Nayya datang bersamaan dengan Nathan. Nathan pun segera menghambur kedalam pelukan Kakaknya memberikan selamat kepada Nayya atas kelulusannya.
"Selamat ya Kak." Ucak Nathan.
"Makasih Dek. Kamu semangat kuliahnya ya. Biar cepet lulus." Ucap Nayya.
"Siap Kak." Ucap Nathan dan mengangkat tangannya kekepala memberi hormat.
Mereka berdua pun masuk kedalam rumah. Dan rumah tampak sepi seperti tak berpenghuni. Nayya dan Nathan pun saling berpandangan. Nayya pun memenggil Bik.Lulu yang terlihat oleh Nayya di balik kaca di halaman samping.
"Kenapa Non?" Tanya Bik.Lulu.
"Pada kemana?" Tanya Nayya.
"Nyonya sama tuan ada di kamar Non. Non.Neta juga sedang tidur." Jawab Bik.Lulu.
"Pantes saja. Makasih ya Bik." Ucap Nayya.
"Sama-sama Non. Saya permisi kesamping lagi." Pamit Bik.Lulu. Nayya pun hanya menganggukan kepalanya.
"Pantes saja rumah sepi." Ucap Nathan.
"Ya udah Kakak masuk dulu mau mandi badan rasanya lengket banget." Pamit Nayya.
"Iya Nath juga mau bersih-bersih dulu." Ucap Nathan.
Mereka berdua pun memasuki kamar masing-masing. Saat masuk kedalam kamar Nayya melihat ada baju Kana di tempat tidurnya. Hatinya menceos melihat baju Kana. Nayya sangat merindukan batita itu. Tak terasa air matanya menetes di pipinya. Nayya pun segera menepisnya dan segera menuju kamar mandi.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏 🙏🙏
__ADS_1