Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Bank


__ADS_3

Hari ini Nadin akan di jemput Rian untuk mengurus warisan yang di tinggalkan Anya tiga tahun yang lalu. Nadin sangat takut. Takut orang bank bertanya-tanya.


"Tenang saja sayang. Rian akan membantu kamu."


"Maaf ya Ka merepotkan."


"Tidak apa-apa Nad kita sodara harus saling menolong."


"Nad, pergi dulu ya Ka, Bu."


"Tenang saja ya sayang. Ibu yakin Anya sudah menyiapkan semuanya dengan rapi."


"Iya bu."


Nadin dan Rian pun pergi dari kediaman Bagaskara menuju salah satu Bank swasta di kota C. Nadin sangat gugup karena total saldo di rekening Anya tidak main-main. Rian dan Nadin mulai masuk ke ruangan orang yang di tunjuk satpam.


"Tenanglah Nad."


"Iya Ka."


Rian berbincang sejenak menjelaskan maksud kedatangannya. Dan Nadin pun menyodorkan amplop yang Anya berikan. Orang Bank membuka dan membaca pesan yang tertulis.


"Kenapa baru hari ini mba datangnya?"


"Sulit bagi saya menerima kematiannya Mba."


"Ya, apalagi orang yang dekat dengan kita ya Mba."


"Ya. Klo amlpop ini saya ga liat lagi mungkin saya ga akan ke sini mba."


"Owh! Ko bisa?"


"Ya bisa dong mba." Tambah Rian.


"Klo boleh saya memilih saya mau dia hidup saja."


"Eh, iya dong Mba klo itu. Sebentar saya cek dulu ya Mba."


"Silahkan."


Akhirnya dengan segala prosedur yang di hadapi Nadin bisa memiliki saldo rekening milik Anya. Semua berpindah atas nama Nadin dan berpindah ke rekening Nadin. Nadin dan Rian keluar dari Bank saat matahari sudah mulai terik.


"Makasih ya Ka."


"Sama-sama."


"Berapa persen nih?"


"Gw tab** Lu Nad."


"Hahahaa.... Kan udah bantuin gw Ka."


"Ga mau lagi gw bantuin Lu."

__ADS_1


"Duuuh marahnya. Iya deh ntar itu mah urusan suami gw ya."


Rian pun menjalankan mobilnya perlahan menuju kediaman Bagaskara. Angga sudah menanti Nadin di taman belakang sambil memperhatikan Nayya bermain. Dan Nayya pun ketiduran di gazebo. Sudah cukup lama Angga menunggu Nadin dan Rian namun tak kunjung datang.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang. Nadin dan Rian menghampiri Angga. Nadin mencium punggung tangan Angga. Nadin melihat Nayya tertidur.


"Ko ga dipindahin?"


"Biar aja nanti bangun. Gimana udah beres?"


"Alhamdulillah udah."


"Untung bini Lu punya rekening Bank itu jadi lebih mudah urusannya."


"Owh! Gitu. Syukur deh klo gitu."


"Iya, dulu aku buka rekening itu gara2nya kerjasama sama pabriknya Ivan. Ivan ga mau transfer ke rekening aku yang berlainan Bank."


"Untungnya kamu bawa buku rekeningnya."


"Iya dong. Kan urusannya sama Bank itu."


"Pinter."


"Nad, Ga gw oamit dulu ya."


"Eh, thanks ya bro."


"Sama-sama bro santai aja kali."


Setelah Rian keluar dari gerbang kediaman Bagaskara Angga kembali ke dalam.


"Ka, gimana Nadin sudah pulang?"


"Sudah bu. Itu ada di belakang."


"Gimana bisa?"


"Alhamdulillah bisa Bu. Ya walaupun prosesnya sedikit rumit."


"Syukurlah. Ibu mau ke arisan dulu ya."


"Iya Bu. Hati-hati nyetirnya."


"Ibu diantar supir aja Ka."


"Owh! Ya sudah."


Ibu pun pergi dengan diantar supir. Angga menghampiri Nadin di belakang.


"Sudah makan sayang?"


"Sudah, tadi ga enak soalnya masa ga makan takut Ka.Rian laper."

__ADS_1


"Iya ga apa-apa sayang."


"Kaka udah makan?"


"Udah. Tadi sama Nayya di sini."


"Besok anak-anak jadi kumpul ya?"


"Jadi."


Nadin dan Angga mengobrol sampai Nayya terbangun dari tidurnya. Nayya langsung nemplok di pangkuan Nadin. Nadin dengan lembut mengusap pipi Nayya.


"Mandi yuk. Udah sore."


"Mau sama Mama."


"Boleh. Yuk."


"Papa gendong Nayya ya?"


"Sama Mama aja Pah."


"Kasian Mama keberatan sayang."


"Ga apa-apa Pah. Mama kan kuat."


Mereka pun masuk bersama ke dalam dan langsung menuju kamar Nayya. Nayya mandi bersama Nadin. Sementara Angga menunggu Di sofa sambil membuka ipadnya.


Nayya selesai mandi. Nadin melilitkan handuk di badan Nayya. Angga tampak tersenyum menyambut Anak dan Istrinya keluar dari kamar mandi.


"Selesai... Ci** dikit. Mmmm wanginya anak Mama."


"Mana boleh dong Papa juga ci** dikit yang udah wangi."


Nayya mendekati Angga dan memeluk Angga. Angga pun menci** pipi gembul Nayya.


"Mmmm wanginya."


"Nayya mau main sama Mba.Sus ya Ma,Pa."


"Boleh, tapi jangan lari-larian ya kan udah mandi nanti berkeringat lagi."


"Oke Ma."


Nayya pun pergi meninggalkan Mama dan Papanya. Nadin dan Angga pergi ke kamar mereka. Nadin berencana mandi karena sudah merasa lengket seharian di Bank. Namun Angga mengikutinya ke kamar mandi.


"Kaka mau apa?"


"Mandi."


"Hmmm..."


Sampai disini dulu ya..

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentnya ya. Yang punya koin boleh dong kasih tipsnya.


Terima kasih 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2