
"Mending kamu temui suami kamu aja deh Mel." Usul Nina.
Mereka bertiga pun berlalu meninggalkan gedung hotel milik keluarga Bagaskara yang kini di klaim milik Rian. Amel menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju hotel yang di kelola suaminya.
Butuh waktu 10 menit Amel tiba di parkiran hotel milik keluarga Bagaskara yang di kelola Arif. Amel dengan tergesa-gesa melangkah masuk ke dalam. Namun saat di lobi dirinya pun dicegat oleh resepsionis.
"Maaf Bu. Ada yang bisa kami bantu." Tanya resepsionis tersebut.
"Saya mau ketemu suami saya." Jawab Amel ketus.
"Maaf, bisa sebutkan nama suami anda?" Tanya Resepsionis lagi.
"Apa maksudnya kamu bertanya begitu? Mau saya pecat?" Gertak Amel.
"Mohon maaf Bu. Kami memang tidak mengetahui siapa Suami anda." Jawab resepsionis santai.
"Arif Nasution. CEO hotel ini." Jawab Amel tegas. Namun resepsionis tersebut menampilkan senyum tipisnya.
"Maaf, tapi disini orang yang anda sebutkan bukan CEO tapi manager keuangan." Jawabnya yang membuat Amel dan kedua temannya tersentak.
__ADS_1
"Apa!" Jawab ketiganya bersamaan.
"Sebentar saya sambungkan terlebih dahulu." Ucap Resepsionis tersebut.
Tak lama Arif pun turun dan menemui Amel.
"Sayang, kenapa kamu ke sini?" Tanya Arif santai.
"Apa maksudnya semua ini? Kenapa Ka.Rian mengatakan jika hotel pusat miliknya? Dan kenapa jabatan kamu hanya manager keuangan?" Cecar Amel.
"Pulanglah dulu. Nanti aku jelaskan di rumah. Tidak enak disini banyak orang." Jelas Arif lembut.
"Karena Ibu butuh biaya besar tahukah kamu itu? Pernah kamu peduli dengan ibumu sendiri? Hah! Percuma bertanya padamu. Jangankan Ibu. Bahkan kamu tak tau dimana anak-anak mu berada. Iya kan?" Ucap Arif dengan nada di tinggikan satu oktaf.
Amel berdiri mematung. Terakhir dirinya diminta untuk menemui Ibunya oleh Nadin tapu Amel hanya mengacuhkannya karena hasutan dari Nina. Kini Amel menyesali apa yang dia lakukan tapi semua terlambat. Apa yang di katakan suaminya benar. Amel tak pernah tau dimana kedua anaknya sekarang.
"Mel, kita jalan dulu ya. Masih ada urusan lain." Pamit Nina yang tak mau dirinya di libatkan dalam masalah yang terjadi diantara keluarga Amel.
Amel tak menjawab apapun dirinya hanya diam mematung. Bahkan kepergian dua temannta tak di pedulikannya lagi.
__ADS_1
"Pulanglah. Nanti kita bicarakan dirumah." Titah Arif. Walaupun sebenarnya hatinya begitu sakit melihat istrinya seperti itu tapi ini harus dia lakukan.
Amel memutarkan badannya dan berlalu menuju mobilnya tampa mempedulikan siapapun. Amel melajukan mobilnya menuju rumah Kakaknya. Namun apa yang dia dapatkan. Seorang tetangga mengatakan jika Nadin dan keluarganya sudah pindah sejak dua bulan yang lalu.
Amel menanyakan kemana keluarganya pindah namun si tetangga tak mengetahui kemana pindahnya keluarga Angga. Amel pun frustasi di buatnya. Amel menelfon kedua temannya karena dirinya merasa butuh mereka. Namun tak satupun dari mereka yang menganggak panggilan darinya.
Amel pun memutuskan untuk menelfon Nadin. Namun ponsel Nadin sudah tak aktif. Nadin di beritahu oleh Rian untuk segera menonaktifkan ponselnya begitu juga dengan yang lainnya. Terkesan jahat memang. Tapi semua demi kebaikan Amel dan semoga saja Amel bisa segera berubah.
Amel pun menutuskan untuk pulang ke mansion Bagaskara tempatnya tinggal. Terlihat sepi tak ada anak-anaknya. Amel menanyakan keberadaan kedua anaknya pada maid.
"Dimana anak-anak?" Tanya Amel.
"Bukankah Nyonya muda dan Tuan memindahkan sekolah mereka ke kampung." Jawab Maid.
"Apa?" Tanya Amel.
Maid pun hanya diam mematung tanpa menjawab apapun. Amel segera menghubungi mertuanya. Namun nihil ponsel mertuanya tidak aktif. Amel frustasi mengusap wajahnya kasar.
Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1