Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Meminjam Kanaya


__ADS_3

Rama berjalan berdampingan dengan Nayya sambil menggendong Kana yang tertidur sementara Neta berjalan lebih dulu untuk menunjukan ruang perawatan Nadin. Nayya hanya diam mengikuti langkah Neta sambil sesekali melirik kearah Rama.


Neta mengetuk pintu kamar perawatan Nadin setelah terdengar suara dari dalam memintanya masuk Neta pun membuka pintu kamar dengan perlahan. Tampak ada Angga yang tengah menunggui Nadin. Nadin memang sudah sadar sejak semalam tapi mulutnya terus terkunci tak mau bicara bahkan untuk makan saja tak mau.


"Assalamu'alaikum." Ucap Neta, Nayya dan Rama.


"Wa'alaikum salam." Jawab Angga.


Saat mendengar suara orang yang menjawab salamnya betapa Nayya terkejut apalagi melihat siapa yang tengah terbaring di ranjang pesakitan.


"Mamah." Ucap Nayya mematung.


"Kakak." Ucap Nadin membuka matanya.


Nayya menghambur memeluk Nadin dan Nadin pun merentangkan tangannya menyambut pelukkan Nayya. Rama terharu melihat keakraban Nadin dan Nayya. Angga mengusap lembut punggung Nayya. Sementara Neta tanpa diinginkannya bulir bening luruh di pipinya.


"Maafin Mamah Kak." Ucap Nadin lirih.


"Kenapa Mamah minta maaf? Mama salah apa?" Ucap Nayya di telinga Nadin.


"Kakak pergi dari rumah karena Mama kan?" Tanya Nadin.


"Astaga! Jadi Mama sakit cuma karena Kakak pergi?" Tanya Nayya dan Nadin pun menganggukan kepalanya.


"Kakak, marah sama Papa kan?" Tanya Nadin lagi.


"Mama, Kakak pergi bukan karena itu. Kakak sendiri merasa Kakak aneh. Dan Kakak cuma mau berfikir apa yang Kakak lakukan itu sudah benar atau ngga. Kakak ga marah sama Papa ataupun Mama. Kakak bilang sama Mas.Rama Kakak mau sendiri dulu merenung gitu Mah." Jelas Nayya panjang kali lebar.


"Tapi, kenapa telfon dari adek sama Mas ga di angkat Kak? Tapi, telfon dari Kak.Rama Kakak angkat." Adu Neta saat Nathan bercerita bahwa sambungan telfon dari Rama di jawab oleh Nayya.


"Owh! Itu jelas dong dek. Mas.Rama kan Papinya Kana bisa berabe ntar kalau Kakak ga jawab telfon dari Mas.Rama. Satu negara di buat pusing." Percaya diri Nayya. Sedangkan Rama mengerlingkan matanya mendengar jawaban Nayya.


"Maksud Kakak?" Tanya Neta bingung.


"Iya satu negara bingung nyari Mominya Kana kemana. Karena Papinya Kana lebih kebakaran jenggot kalau Maminya Kana ilang." Ledek Papah.


"Nah, tuh Papa tau." Ucap Nayya.


"Terus kenapa telfon dari Mas sama Adek ga di jawab?" Tanya Neta masih penasaran.


"Ya kalau kalian berdua mah paling minta jemput atau minta bayarin dulu belanjaan kalian. Males kan." Jawab Nayya santai.


"Kakak,,, Iiih ngeselin deh." Jawab Neta cemberut.


Suasana pun kembali normal seperti biasa. Dan suasana kamar perawatan Nadin semakin ramai dan hangat ketika Kana bangun dan melihat ada Mominya.


Setelah dokter memeriksa keadaan Nadin dokter pun memperbolehkan Nadin pulang apalagi Nadin memiliki anak seorang dokter sudah dapat dipastikan Nadin mendapatkan perawatan yang baik.


Setelah Rama menyelesaikan administrasi nya yang sebelumnya terjadi keributan perkara pembayaran rumah sakit karena semua ingin membiayai perawatan Nadin akhirnya dimenangkan oleh Rama setelah bujukan maut Nayya kepada Papanya.

__ADS_1


Sore hari mereka semua sampai di rumah Angga. Tak lama berselang masuk mobil Nathan dan Arif. Arif, Amel Ibu dan Ayah heran dari mana Angga dan Nadin bersama dengan anak-anaknya.


"Loh, Mama udah sehat?" Tanya Nathan.


"Sudah dong Mas. Mama kan punya dokter pribadi jadi Mama ga perlu di rawat lama-lama."Jawab Nadin.


"Siapa yang di rawat?" Tanya Ayah yang mendengar ada yang dirawat.


"Ayah." Ucap Nadin kemudian mencium punggung tangan Ayah.


"Nadin kecapean Yah kemarin makanya kita bawa kerumah sakit. Tapi sekarang sudah baikan hanya perlu istirahat saja." Jelas Angga menutupi kejadian kesalah fahaman antara anak dan istrinya.


"Halo cicit Opa. Sini Opa gendong. Duuh,, kangennya Opa sama kamu." Ucap Ayah sambil membawa Kana dari gendongan Nayya.


"Ayo, masuk-masuk. Apa kita mau di luar terus nih." Ajak Angga.


Semua pun masuk kedalam. Berkumpul di ruang keluarga. Menikmati sore hari bersama.


"Teh, serahkan urusan dapur sama Bibik dulu. Teteh biar istirahat." Titah Ibu.


"Iya Buk." Jawab Nadin tanpa bantahan.


Angga pun mengusap puncak kepala Nadin lembut. Semua tak luput dari pandangan Rama dan Nayya.


"Kak, sudah di sampaikan pesan Papa?" Ucap Angga mengingatkan.


"Belum Pah." Jawab Nayya menampilkan deretan giginya. Rama menoleh kearah Nayya dan mengerutkan dahinya seolah bertanya apa.


"Kak, ga pengen kaya Refa?" Tanya Arif.


"Gass Uncle." Jawab Nayya. Dan pecahlah tawa di ruang keluarga mendengar jawaban Nayya. Rama menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Nayya.


"Kode tuh Kak." Goda Nathan pada Rama.


"Gass Dek." Jawab Rama menirukan Nayya.


"Rama, Kana Onty pinjam ya. Onty gemes banget deh sama Kana." Pinta Amel.


"Ngga boleh." Ucap Nayya tegas.


"Ih, kan Onty ijin sama Rama Papinya." Ucap Amel.


"Ga boleh pokoknya ga boleh. Kan Nayya Mominya." Bangga Nayya.


"Ih,, pelit banget sih. Boleh ya Ram." Rengek Amel seperti anak kecil yang minta mainan.


"Ga boleh." Jawab Nayya lagi.


"Makanya kalian cepet nikah dan bikin lagi yang kaya Kana gini." Kesal Amel.

__ADS_1


"Onty, emangnya tempe bacem belanja di pasar terus bikin di rumah gitu aja." Jawab Nayya.


"Nayya, ponakan Onty paling cantik. Boleh ya boleh." Bujuk Amel lagi.


Nayya menoleh kearah Rama menanyakan persetujuannya.


"Boleh aja Onty kalau Kana mau." Jawab Rama.


"Yee... Boleh kan. Mominya aja pelit." Ledek Amel.


"Mas..." Rengek Nayya.


"Ga apa-apa sayang kita bulan madu aja selama Kana di pinjam." Goda Rama.


"Mas.Rama." Ucap Nayya melempar bantal sofa kearah Rama dengan wajah yang tersipu malu.


Gelak tawa pun tak bisa di hindari lagi. Arif yang mengenal sosok Rama yang dingin saat beberapa kali bertemu untuk urusan bisnis bisa sebucin itu dihadapan keponakannya. Aeif sangat bersyukur memiliki keluarga seperti keluarga Bagaskara yang penuh dengan kehangatan dan yang tak disangkanya lagi sahabatnya pun ternyata berjodoh dengan Kakak dari istrinya Amel.


Kana pun di bawa pulang oleh Amel dan Arif dengan Ibu dan Ayah juga tentunya. Karena Ibu dan Ayah tidak ingin Nadin kerepotan dengan melayani mereka. Karena sudah bisa di pastikan Nadin akan turun kedapur dan membuatkan makanan kesukaan Ibu dan Ayah.


Kini tinggallah. Keluarga inti Angga di tambah oleh kehadiran Rama. Nadin dan Angga pamit masuk ke kamar lebih dulu. Di ikuti oleh Nathan dan Neta kemudian.


"Loh, kita di tinggal loh Yang." Ucap Rama.


"Terus?" Tanya Nayya.


"Ya kita bulan madu dong Yuk." Ajak Rama menggoda Nayya.


"Mas.Rama ih. Mesum deh." Ucap Nayya.


"Tadi apa yang mau di ceritain? Yang Papa bilang pesanannya." Tanya Rama.


"Owh! Itu." Jawab Nayya menggantung kemudian meminum minumannya dulu sebelum menjawab pertanyaan Rama.


"Papa tanya kapan Mas mau bawa keluarga Mas datang" Jawab Nayya tanpa menoleh kearah Rama.


"Serius Yang? Boleh?" Tanya Rama antusias.


"Lah, kan emang Orang tua Mas dulu yang bilang kalau usah siap tinggal bilang." Jelas Nayya masih mode cuek.


"Oke. Lusa Mas bawa orang tua Mas ke sini." Jawab Rama semangat.


"Hah! Kok lusa?" Tanya Nayya


"Terus kapan? Besok pagi?" Goda Rama.


"Eh, iya-iya lusa." Jawab Nayya kikuk.


Rama selalu gemas melihat Nayya yang tersipu malu-malu.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2