Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Menunggumu


__ADS_3

"Kasih pulang hari ini?"


"Iya."


"Langsung pulang?"


"Boleh."


"Eh, mampir ke kantor dulu ya. Tadi Iwan telfon katanya ada yang harus di tanda tangani. Sebentar yah."


"Oke."


Angga pun menjalankan mobilnya menuju kantor. Sesampai di kantor Nadin meminta untuk menunggu Angga di mobil tapi Angga menolak Angga meminta Nadin untuk ikut dengannya kedalam. Dengan rasa canggung akhirnya Nadin pun mengikuti perintah Angga.


Angga menggenggam tangan Nadin membuat Nadin merasa canggung. Tapi, Nadin berusaha senetral mungkin walaupun mata para karyawan hotel terus mengarah kepadanya. Sesampainya di ruangan Angga meminta Iwan ke ruangannya.


"Tumben lama banget sih lu." Iwan masuk kedalam ruangan Angga tanpa mengetuk pintu. Iwan pun tak menyadari kehadiran Nadin di ruangan Angga. Angga pun bersikap biasa saja dan langsung menandatangani laporan yang di berikan Iwan tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


Nadin yang duduk santai di sofa tak mempedulikan keduanya.


"Besok pagi rapat ya bro jam 9."


Angga menganggukan kepalanya. Iwan merasa kesal karena tak sepatah katapun keluar dari mulut Angga. Iwan pun bangkit dari duduknya dan memutar badannya untuk keluar dari ruangan Angga.


"Astagfirullah." Iwan terkejut melihat Nadin yang tengah duduk di sofa. Nadin pun melihat kearah sumber suara.


"Kenapa lu Wan?" Tanya Angga.

__ADS_1


Iwan menunjuk ke arah Nadin. Seperti melihat setan di siang bolong.


"Bini gw ga usah lama-lama liatnya."


"Owh! Ini yang Nayya bilang." Iwan mendekati Nadin untuk berkenalan.


Nadin merasa aneh melihat Iwan. Antara kaget,kagum atau apalah yang terjadi dengan Iwan.


"Iwan"


"Nadin"


Serelah itu Nadin menundukan kembali pandangannya ke layar ponsel tanpa mempedulikan Iwan. Betapa Iwan merasa kaget Nadin begitu acuh kepadanya. Iwan melirik kearah Angga namun Angga hanya tersenyum karena Angga tau begitulah sikap Nadin terhadap orang lain acuh tak acuh.


"Gi** baru kali ini gw dicuekin cewe."


"Lu diem-diem dapet yang bening. Nemu dimana?"


"Nemu di hati."


"Berat..."


Iwan pun berpamitan pada Angga. Angga melanjutkan pekerjaannya sebentar sebelum mereka pulang.


"Sayang, kamu mau makan di luar apa di rumah?"


"Dirumah aja kali ya. Kasian Nayya, kita janjinya kan sebentar."

__ADS_1


"Baiklah mama.."


Nadin dan Angga pun keluar dari ruangan Angga. Para pegawai masih sedikit tak percaya melihat CEO nya menggandeng perempuan cantik.


Sampai di parkiran Angga membukakan pintu samping kemudi untuk Nadin. Setelah Nadin masuk Angga memutar untuk memasuki mobil.


"Pa,"


"Langsung pulang Wan."


"Duh bapa mentang-mentang udah ada yang digandeng."


Angga pun hanya tersenyum dan langsung masuk kedalam mobil. Angga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang di ikuti mobil Iwan di belakangnya keluar dari hotel.


Sepanjang jalan Angga selalu menggenggam tangan Nadin. Nadin pun mulai terbiasa dengan sikap Angga. Sampai di kediaman Bagaskara Nayya sudah menunggu di halaman depan sedang disuapi makan oleh mba.Sus.


Keluar dari mobil Nadin di sambut oleh Nayya. Nayya langsung menghambur kegendongan Nadin. Angga begitu takjub melihat kedekatan keduanya.


"Waaah...Papa ga di peluk juga nih."


Nayya langsung memeluk Angga namun masih tetap berada di gendongan Nadin. Angga meminta Nayya untuk pindah ke gendongannya namun Nayya menolaknya.


Angga merasa sedikit cemburu melihat keduanya. Namun rasa cemburunya masih terkalahkan dengan rasa bahagianya. Angga sangat bersyukur menemukan Nadin. Walaupun ada sedikit rasa kecewa setelah mengetahui tantang kedekatan Anya dan Nadin sebelumnya. Namun rasa itu mampu runtuh melihat kedekatan Nadin dan Nayya.


Keduanya bak tak terpisahkan lagi. Nayya akan terus menanyakan Nadin kala berjauhan. Selama ini Nayya tak pernah menanyakannya jika harus bekerja keluar kota. Namun tidak dengan Nadin, pergi sebentar saja Nayya terus menanyakannya.


Sampai disini dulu ya. Jangan lupa like dan komentnya ya. Yang punya koin boleh dong bagi tip'snya. Terima kasih... 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2