Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Mendidik Amel


__ADS_3

"Yah," Panggil Nadin.


"Duduklah Nak." Ucap Ayah menepuk kursi kosong sebelahnya.


Nadin pun duduk di samping Ayah mertuanya. Nadin menatap Ayah mertuanya yang tengah termenung menatap lurus kedepan.


"Ada apa?" Tanya Nadin membuyarkan lamunan Ayahnya.


"Ayah akan membawa Ibu ke kota Y." Ucap Ayah.


"Apa!" Teriak Nadin.


Ayah masih dengan mode santainya. Ayah menarik nafas dalam untuk menetralkan suasana hatinya.


"Untuk apa?" Tanya Nadin kembali.


"Mendidik Amel." Jawab Ayah singkat.


"Maksud Ayah?" Tanya Nadin tak mengerti dengan jalan fikiran Ayahnya.


"Ayah sudah memutuskannya Nad. Ayah tidak ingin kamu terluka. Kamu tahu, ada rencana licik seseorang dari sikap Amel sekarang." Jelas Ayah.


"Maksud Ayah? Nadin ga ngerti. Ayah jangan berputar-putar dong." Rengek Nadin.

__ADS_1


"Ayah sudah tau kenapa Amel bersikap seperti ini sayang." Ucap Angga yang datang menghampiri mereka.


"Kenapa?" Tanya Nadin pada Angga.


"Mas sudah meminta bertemu dengan Arif. Kita akan menjelaskannya." Ucap Angga.


"Kita?" Tanya Nadin masih tak mengerti.


"Iya Kita. Aku dan Papa." Jawab Angga.


"Tapi Mas, Ibu?" Ucap Nadin cemas.


"Tenanglah Nad. Ibu mu tak mengetahuinya. Ayah yakin padamu." Ucap Ayah meyakinkan menantunya.


Angga mengusap puncak kepalanya lembut menenangkan istrinya yang sangat mencemaskan keluarganya.


"Sudahlah sekarang kita makan siang saja dulu. Setelah ini Mas dan Ayah akan bertemu dengan Arif di luar." Jelas Angga.


Nadin dan Ayah pun segera bangkit dari duduknya dan mereka semua pun bergegas menuju meja makan. Nadin menjemput Ibu terlebih dahulu untuk makan bersama. Neta sudah berada di meja makan bersama Papa dan Opa nya.


"Bu, setelah makan siang Ayah pamit sebentar pergi ke kantor bersama Angga ya." Pamit Ayah.


"Tidak terjadi apa-apa Bu. Angga hanya ingin menanyakan beberapa pekerjaan. Karena Ayah kan ahlinya." Ucap Angga menenangkan Ibunya.

__ADS_1


Angga tau apa yang ibunya khawatirkan. Oleh karena itu, Angga berusaha menenangkan Ibunya.


"Tenang saja Bu. Kalo mereka macam-macam kita jewer sama-sama ya." Canda Nadin kepada Ibu mertuanya. Dan Ibu pun menyunggingkan senyum tipisnya.


"Adik ikut jewer juga ya Oma, Mah." Ucap Neta dan sukses membuat semuanya tertawa.


Obrolan pun selesai mereka semua makan siang dengan khidmat. Setelah selesai makan. Ayah dan Angga pun pergi untuk menemui Arif. Nadin membawa Ibu dan Neta masuk kedalam ruang bermain anak-anak.


Neta bermain sendiri sementara Nadin memijat Ibu sesuai petunjuk dari dokter syaraf. Ibu memperhatikan Cucu dan menantunya. Ibu meneteskan air matanya melihat Nadin dengan telaten memijatnya.


"Ibu, jangan nangis dong. Nadin sedih deh kalo Ibu nangis." Ucap Nadin.


Nadin mengusap punggung tangan Ibu. Kemudian Nadin memeluk Ibu mertuanya. Mengusap punggungnya lembut. Saat Nadin dan Ibu berharu biru sementara itu Neta telah tertidur bersama dengan mainannya.


"Astaga Adek. Kebiasaan banget sih Nak tertidur saat bermain." Ucap Nadin.


Nadin pun segera memindahkan Neta kedalam kamarnya. Sebelumnya Nadin meminta Ibu untuk diam menunggunya. Setelah Nadin memindahkan Neta Nadin pun kembali ke ruang bermain menemui Ibu mertuanya.


"Ibu mau ke kamar?" Tanya Nadin. Ibu pun menganggukan kepalanya perlahan.


"Baiklah. Ayo Nadin antarkan Ibu ke kamar ya." Ajak Nadin seraya mendorong kursi roda Ibu.


Saat sampai di kamar Ibu Nadin pun membantu Ibu untuk tidur di kasurnya. Nadin sangat cekatan karena pada dasarnya Nadin adalah seorang perawat. Maka, Nadin pun dengan mudah merawat Ibu mertuanya.

__ADS_1


Sampai disini dulu semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏 🙏


__ADS_2