Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Ikhlas


__ADS_3

Amel memutuskan untuk pulang kerumah dan memesan taksi online melalui ponselnya. Tak lupa Amel berterima kasih pada kedua ibu-ibu yang menolongnya.


Sampai di rumah Amel langsung masuk kedalam kamarnya dan menangisi apa yang terjadi padanya. Bibik yang mihatnya merasa heran. Kemudian bibik menelfon Arif mengatakan apa yang terjadi pada Amel.


Arif merasa kasihan kepada istrinya. Namun, Arif tak bisa langsung pulang karena akan menimbulkan curiga pada Amel. Arif pun meminta bibik untuk menjaganya dan melaporkan apa yang terjadi.


Sementara itu, setelah lama menangis Amel pun tertidur dengam sisa air mata di pelupuk matanya dan pipinya pun masih basah akibat air mata yang dia keluarkan.


Bibik mengintip di balik pintu atas ijin Arif. Dilihatnya Amel tengah meringkuk di ranjang dengan sisa-sisa tangisnya. Bibik pun merasa kasihan namun tak dapat berbuat apa-apa.


Sampai sore hari Arif pulang. Amel masih saja belum keluar dari kamarnya. Bahkan tawaran makan siang dari bibik pun tak di hiraukannya.


"Amel dimana Bik?" Tanya Arif begitu memasuki rumahnya.


"Masih di kamar Tuan. Tak ada sesuap makanan pun yang masuk. Bahkan minum pun tidak." Jelas Bibik.


"Baiklah. Terima kasih Bik." Ucap Arif kemudian melangkah menuju Kamarnya.


Saat Arif membuka pintu kamarnya dilihatnya Amel tengah meringkuk di atas tempat tidur dengan isak tangis yang masih ada. Di dekatinya Amel.


"Sayang." Panggil Arif sambil memegang bahu Amel.

__ADS_1


Amel menoleh dan langsung menghambur kedalam pelukan Arif. Tangisnya pun semakin menjadi. Arif membalas pelukan Amel dan mengusap punggung Amel memberikan kenyamanan pada istrinya itu.


"Menangislah sayang. Setelah itu cerita sama Mas apa yang terjadi." Ucap Arif menahan sedihnya.


Setelah cukup lama Amel menangis dalam pelukan Arif. Amel pun melonggarkan pelukannya. Di tatapnya mata Arif. Arif mengusap sisa air mata Amel. Mengecup kening Amel dalam.


"Kenapa?" Tanya Arif lembut.


"Nina menipu Amel Mas." Ucap Amel. Kemudian tangisnya kembali pecah dan kembali menghambur kedalam pelukan Arif.


"Lantas?" Tanya Arif.


"Semuanya sudah hilang Mas. Hilang." Ucap Amel dalam tangisnya.


"Semua sudah terjadi tak mungkin bisa kembali. Sekarang ikhlaskan saja ya. Dan perbaiki sikap kamu kedepannya. Jangan sampe kamu mengulanginya lagi." Ucap Arif.


"Untuk keluarga. Semua pasti akan mengerti sayang. Nanti kita jelaskan saja semuanya baik-baik." Ucap Arif kembali.


"Tapi, bagaimana caranya Mas. Sekarang kita tak tau dimana mereka." Ucap Amel dalam isaknya.


"Nanti Mas coba tanyakan pada Ka.Rian. Semoga saja Ka.Rian tau dimana Ka.Angga." Ucap Arif menenangkan Amel.

__ADS_1


"Kamu yakin Mas?" Tanya Amel ragu.


"Semoga ya Sayang. Tapi, mungkin tidak dalam waktu dekat. Karena Ka.Rian sedang kuar kota mengurus proyek barunya." Ucap Arif.


"Terus bagaimana dong Mas?" Tanya Amel.


"Sabarlah sayang. Kita berdo'a saja. Pasti ada jalan keluarnya." Ucap Arif.


"Aku mau anak-anak Mas." Pinta Amel.


"Nanti kita pindahkan lagi mereka ke kota ini. Mereka akan bersekolah di sini dekat dengan kita." Ucap Arif.


"Beneran Mas?" Tanya Amel.


"Iya Sayang. Sekarang Mas mandi dulu ya setelah itu kita makan malam." Ucap Arif.


"Mas duluan mandinya Amel siapin baju buat Mas." Ucap Amel.


"Kenapa ga barenga aja sih Yang mandinya biar menghemat waktu." Goda Arif.


"Menghemat waktu apanya. Yang ada malah tambah lama kalo aku ikut mandi bareng kamu." Oceh Amel.

__ADS_1


"Yaelah. Ga apa-apa kali yang." Jawab Arif. Dan tanpa basa-basi Arif pun menggendong Amel masuk kedalam kamar mandi.


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2