
Siang ini Nadin dan Angga berencana akan memeriksakan kandungan Nadin. Nadin sudah membuat janji dengan Dokter A di kliniknya tempat dulu Nadin bekerja.
Angga dan Nadin keluar dari hotel bergandengan tangan. Keduanya tampak begitu serasi berjalan bersama. Bulan istri dari Agung melihat Nadin bersama dengan Angga. Bulan ingin menyapa tapi merasa ragu.
"Mas, Maaf mau tanya itu yang barusan keluar dari lift tamu disini?"
"Lift mana Bu?"
"Yang itu." Tunjuk Bulan pada Lift khusus.
"Owh! Kalo itu lift khusus Bos Bu. Jadi yang keluar dari situ ya Bos atau tamunya Bos."
"Tadi Masnya liat ngga yang barusan keluar dari situ?"
"Liat Bu. Itu Bos sama istrinya."
"Hah! Istrinya."
"Iya Bu. Kenapa bu?"
"Eh, ngga apa-apa. Kaya temen saya istrinya."
"Owh! Gitu. Saya permisi Bu."
"Eh, iya Mas terima kasih ya Mas."
Bulan pun langsung kekamar tempatnya menginap dan memberitahukan pada Agung tentang apa yang dia liat dan dengar.
__ADS_1
"Mungkin aja Mah. Itu suaminya. Nadin cantik pintar pantas dia dapet Bos."
"Iya ya Pah. Beruntung banget Nadin. Tapi, bukannya dulu dia pacaran sama pegawai bank ya Pah."
"Lah itu di campakan oleh pegawai dapet Bos deh."
"Masya Allah.. Beruntung banget ya Pah."
"Dari dulu Nadin jadi incaran Dokter-dokter muda Mah. Apalagi Perawat-perawat. Duuuh cape Papah nanggepin pertanyaan mereka tentang Nadin."
"Papa ga naksir juga sama dia?" Tanya Bulan dengan nada cemburu.
"Jujur ni. Papah dulu naksir juga sama dia. Manusiawi dong. Tapi semenjak deket sama Nadin sayang kalo jadi pacar putus ya udah putus kalo jadi sahabat kaya sekarang kan enak."
"Enak bisa deket terus ya Pah."
"Manusiawi dong Pah klo Mama cemburu. Tapi Kalo tau Suaminya Nadin Mama ga cemburu lagi Pah."
"Loh, ko bisa."
"Mana mau Nadin sama Papah hehehe..." Ledek Bulan sambil terkekeh.
"Lah, Buktinya Mamah mau?"
"Biar ga di rebut orang."
Bulan dan Agung pun saling ledek-ledekan. Bulan hanya ibu rumah tangga biasa sementara Agung seorang perawat senior di salah satu Rumah sakit besar di Kota T. Agung dan Nadin memang bersahabat ketika mereka sama-sama mengenyam pendidikan di S1. Nadin langsung melanjutkan S2 sementara Agung langsung diterima kerja di salah satu rumah sakit besar di kota T.
__ADS_1
Sementara...
Nadin dan Angga sudah tiba di klinik Dokter A. Nadin dan Angga di sambut baik oleh para pegawai klinik. Apalagi Nadin merupakan perawat senior yang selalu rendah hati pada siapapun. Nadin sudah di tunggu di ruangan Dokter A.
"Assalamu'alaikum Dok. Selamat siang." Sapa Nadin dan Angga.
"Wa'alaikum salam. Mari silahkan masuk."
Nadin dan Angga pun duduk berdampingan menceritakan keluhan-keluhan Nadin selama sebulan belakangan. Dilanjutkan dengan pemeriksaan USG oleh Dokter A.
"Alhamdulillah sehat Nad bayinya. Sekarang sekitar 21-22 minggu ya."
"Alhamdulillah. Iya Dok."
"Sudah yuk. Duduk lagi."
Nadin pun di bantu oleh Angga duduk kembali di kursi pasien. Dokter A memberikan resep vitamin untuk Nadin. Dan seperti biasa Dokter A selalu tidak pernah mau untuk di bayar. Begitupun Apotik tempat Nadin membawa Obat.
"Sebenernya Nad malu Ka. Setiap kali Nad kesini mereka ga mau di bayar."
"Rejeki baby sama kamu sayang."
"Iya. Tapi kalo ke dokter lain juga Nad ngga enak sama Dokter A."
"Sudahlah ini rejeki kamu sayang."
Nadin pun masuk ke mobil dibantu oleh Angga. Dan Angga duduk di samping dibalik kemudi ada Mang.Ujang yang selalu setia menemani kemanapun tuannya pergi.
__ADS_1
Tbc...