
Pa.Jamal datang dengan tergopoh-gopoh. Pa.Jamal menarik nafas terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan rapat.
"Permisi. Maaf ini Bu rekening koran yang ibu minta." Pa Jamal menyerahkannya kepada Nadin.
Nadin memperhatikan dengan seksama tak ada kejanggalan pada rekening korannya. Dan Nadin pun mendapatkan nilai transfer yang fantastis pada satu rekening. Nadin menggebrak meja menunjukan rekening koran pasa semuanya.
"Pa.Jamal, Mana ATM pabrik?"
"M... Aa..anu Bu."
"Anu apa?"
"Mm... m... Itu Bu."
"Kenapa Pa? Masih di Nando ATMnya?" Pa.Jamal terkejut begitupun yang lainnya. Tak ada yang menyangka Nadin akan to the poin.
"Maksud Lu apa Nad?"
"Lu ga usah ngelak deh Nan."
"Lu nuduh gw yang pake duit pabrik?"
"IYA!"
"Nad, tenang Nad." Arif berusaha menenangkan Nadin.
"Gw ga abis fikir Nad sama Lu. Lu tiba-tiba datang ke pabrik terus Lu nuduh gw pake duit pabrik."
"Keluarin dompet Lu." Perintah Nadin.
"Apaan sih Lu Nad?"
"Keluarin!"
"Anj*** ya Lu. Jangan mentang-mentang suami Lu kaya ya Lu bisa seenak-enaknya sama gw."
"Jangan bawa-bawa suami gw yah."
__ADS_1
"Nadin," Ucap Ivan tenang. Arif hanya bisa merangkul Nadin menenangkan.
"Kalo Lu ga merasa make tu duit. Keluarin sekarang dompet Lu."
Plak... Nando melempar dompetnya ke meja.
"Pa.Jamal, ambil ATM pabrik." Perintah Nadin pada Pa.Jamal. Dengan tangan gemetar Pa.Jamal membuka dompet milik Nando dan mencari keberadaan ATM pabrik.
"Ti...Tidak ada Bu."
"Liat! Lu pake mata Lu baik-baik Nad."
Nadin pun memperlihatkan suatu bukti dan Nando pun hanya bisa diam.
"Apalagi yang mau Lu bilang ke gw?" Nando hanya diam tak bicara. "Jawab!!" Teriak Nadin pada Nando.
"Nadin, gw mohon tenang. Semua bisa kita bicarakan baik-baik Nad."
"Baik-baik gimana Van maksud Lu?"
"Pa.Jamal, ambilkan air minum." Perintah Ivan. Pa.Jamal pun segera mengambil air putih untuk Nadin.
"Lu ga akan pernah tau apa yang gw rasain Nad." Ucap Nando lirih.
"Rasa apa maksud Lu? Rasa berfoya-foya menghabiskan uang Iya?"
"Lu ga akan pernah merasakan sehari tanpa uang."Lirih Nando.
"Lantas dengan mengambil uang Pabrik semua akan baik-baik aja.?"
"Pa.Jamal duduklah." Pinta Ivan. Pa.Jamal pun duduk di samping Ivan.
"Katakanlah Pa. Jangan takut."
"Maaf Pa."
"Siapa sekarang yang mau jujur?" Tanya Arif geram.
__ADS_1
"Oke, Iya gw yang nganbil duit pabrik."
"Pa. Jamal, Bapa boleh kembali keruangan bapa." Pinta Ivan. Pa.Jamal pun keluar dari ruangan rapat yang begitu panas.
"Untuk apa Nan?" Tanya Arif lembut.
"Untuk hidup!"
"Hidup berfoya-foya iya?" Hardik Nadin.
"Lu bicara begitu karena Lu ga pernah ngerasain hidup Lu susah Nad." Jawab Nando.
"Iya Gw ga pernah ngerasain karena Gw hidup sesuai dengan porsi Gw."
"Nadin, Ayolah turunkan emosi Lu." Pinta Ivan.
"Hanya untuk menyambung hidup Lu pake duit pabrik?" Tanya Arif kembali.
"Iya!" Jawab Nando.
"Eh, jangan nyolot ya Lu." Jawab Nadin.
"Lu liat. Gimana Gw ga emosi terus-menerus."
"Apa pernah kita diamkan Lu Nan saat Lu susah?"
"Kalian ga tau rasanya jadi Gw."
"Jadi Lu gimana?" Tayanya Nadin kembali.
"Lu ga perlu jadi Gw Nan. Lu juga ga perlu jadi Ivan. Lu hanya perlu jadi Lu sendiri."
"Lu juga ga akan pernah tau rasamya jadi Gw."
"Jadi Lu gimana maksudnya sih?" Tanya Ivan.
"Kalian terlalu bergelimang harta dan ga akan pernah tau rasanya tanpa uang."
__ADS_1
Tbc....