
Pagi hari Nadin sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Nayya membantu Nadin sementara Neta asik sendiri dengan menu yang berbeda.
"Kamu buat apa Dek?" Tanya Nayya.
"Buat makan siang nanti Kak." Jawab Neta.
"Tumben bikin sendiri?" Sindir Nayya.
"Lagi pengen aja Kak. Biar lebih irit." Jawab Neta asal.
"Buat dimakan sendiri?" Tanya Nadin.
"Iya Mah. Kenapa?" Tanya Neta heran.
"Kalau untuk di makan berdua di tambahin sedikit lagi nasinya." Ucap Nadin santai.
"Hah!" Ucap Neta.
"Apa Mamah tau ya." Batin Neta.
"Tambahin aja dek." Ucap Nayya seolah tau apa yang di maksud Nadin.
Setelah makanan siap di meja makan Nayya berpamitan masuk ke kamarnya lebih dulu untuk mengganti pakaiannya. Namun langkahnya terhenti kala ponsel yang di genggamnya bergetar. Dan dilihatnya panggilan dari Indah adik dari Mamahnya.
📱Halo, Assalamu'alaikum Onty? (Nayya)
📱 Wa'alaikum salam.. Kak, Mamah mu ada di rumah? Sejak tadi Onty hubungi tak ada jawaban. (Indah)
📱Ada kok Onty. Baru aja selesai masak kita. (Nayya)
📱Kak, Bawa Mamah pulang ya.(Indah)
📱Ada apa Onty?(Nayya)
📱Aki, (Indah)
📱Ada apa? (Nayya)
📱Aki berpulang Kak. Baru saja. (Indah)
📱 Inalillahi wa innailaihi rojiun. Nayya kesana sekarang (Nayya)
Panggilan pun terputus.
__ADS_1
"Ada apa Kak?" Tanya Nadin mengagetkan Nayya.
"Aki Mah." Ucap Nayya.
"Kenapa Aki?" Tanya Nadin.
Bukannya menjawab pertanyaan Nadin Nayya malah menghambur memeluk Nadin dan menangis. Membuat Nadin bingung dan penasaran ada apa dengan Bapak tercintanya.
"Aki, sudah pulang Mah." Ucap Nayya.
Tubuh Nadin melemah, kakinya bagaikan tak bertulang. Nadin meluruh di lantai lepas dari pelukan Nayya. Nayya pun menangis kuat. Neta berjalan tertatih karena masih menahan sakit di kakinya mendekat kearah Kakak dan Mamanya.
"Mamah." Pekik Neta yang melihat Nadin tergeletak di bawah dengan Nayya yang terus menangis.
"Ada apa Kak?" Tanya Neta cemas.
"Panggil Papah Dek." Titah Nayya yang tak menghiraukan pertanyaan adiknya.
Neta langsung memutar menuju kamar orang tuanya untuk memanggil Angga seperti yang di perintahkan Nayya. Saat Neta sudah dekat dengan kamar orangtuanya tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakan Angga yang sudah rapih siap ke kantor.
"Ada apa dek? Kok kamu panik gitu?" Tanya Angga yang melihat wajah putri bungsunya pucat.
"Mamah Pah." Ucap Neta menunjuk ke arah Nadin dan Nayya. Angga pun menyesuaikan pandangannya sesuai arah yang di tunjuk Neta.
"Astaga! Sayang." Ucap Angga berlari ke arah Nadin dan Nayya.
"Aki meninggal Pah." Ucap Nayya
"Inalillahi wa innailaihi rojiun. Sayang." Ucap Angga membawa Nadin kedalam pelukannya. Dan tangis Nadin pun pecah dalam dekapan Angga.
"Bersiaplah Kak. Beritahu Nathan kita berangkat sekarang setelah sarapan." Titah Angga.
Mereka semua pun duduk di meja makan untuk sarapan sebelum pergi ke rumah orang tua Nadin. Karena Angga tak mau mereka semua sakit karena terlalu bersedih sehingga melewatkan waktu makan. Angga berusaha setenang mungkin menghadapi berita kematian Bapak mertuanya.
Selesai sarapan semua sudah bersiap di depan dengan membawa tas masing-masing. Dan mereka pun memasukan barang bawaan mereka kedalam mobil.
Nathan menyetir untuk Mama dan Papanya. Sementara Nayya bersama Neta dan Bik.Mimin. Yah mereka membawa Bik.Mimin untuk menyiapkan keperluan mereka semua. Karena mereka semua akan melupakan segalanya jika tidak ada yang mengingatkan.
Neta sudah mengganti seragamnya dengan baju lain. Sebelum pergi Neta menitipkan kotak bekal makan yang sudah di buatnya kepada Pak.Ujang. Dan meminta Pak.Ujang untuk mengantarkannya kesekolah Neta dan ditujukan untuk Pak.Yoga. Pak.Ujang pun bersedia karena sekaligus untuk meminta ijin untuk Neta yang tidak bisa masuk sekolah karena kematian Kakeknya.
Nayya dan Nathan melajukan kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi. Nayya meminta Neta untuk menghubungi Amel memberitahukan bahwa Aki meninggal. Karena kebetulan Opa dan Oma nya pun berada di sana.
Namun, saat Neta menghubungi Amel ternyata Amel sudah mengetahuinya dari Mertuanya yang kebetulan rumahnya tak jauh dari rumah orang tua Nadin. Begitu pun Kasih yang di beritahu oleh orang tuanya segera meluncur pulang bersama Rian suaminya.
__ADS_1
Ivan pun bergegas pulang ke kampung halamannya begitu mendengar berita meninggalnya Bapak Nadin. Nando yang memang tinggal satu kota dengan orang tua Nadin sudah berada di rumah duka sejak pagi tadi.
Begitu mobil Nathan dan Nayya sampai di rumah duka. Suasana sudah ramai. Dan mobil-mobil sanak saudara sudah berjajar di pinggir jalan. Nathan dan Nayya memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah untuk menurunkan penumpangnya. Sebelum Nathan dan Nayya memarkirkan mobilnya di tempat yang aman.
Nadin tak kuasa menahan sedihnya. Nadin di papah masuk kedalam oleh Angga dan Neta. Nando yang melihat kedatangan Nadin langsung menghampiri Nadin dan memeluknya sekilas, lalu menepuk pundak Angga memberikan kekuatan. Kemudian menggantikan Neta menggandeng Nadin bersama dengan Angga masuk kedalam rumah.
Jerit tangis dari Mama begitu melihat kedatangan putri sulungnya dan Nadin pun segera menghambur kedalam pelukan Mamanya. Begitupun dengan Indah. Mereka bertiga pun saling berpelukan meluapkan kesedihannya. Doni menyalami Angga dan mereka pun saling berpelukan.
Mama membawa Nadin mendekati jenazah Bapak yang sudah terbujur kaku di lantai. Nadin mendekatinya dan memeluk jenazah Bapak. Nadin tak kuasa menahan kesedihannya melepaskan cinta pertamanya. Angga mengusap pundak Nadin dan membawanya kedalam pelukannya. Indah menenangkan Mama yang terus menangis.
Nayya dan Nathan masuk kedalam rumah duka dan dilihatnya Mamanya tengah menangis memeluk jenazah Aki mereka. Nayya tak kuasa menahan tangisnya dengan sigap Nathan memeluk tubuh Kakaknya.
Setelah semua berkumpul jenazah Bapak pun segera di bawa ke tempat pembaringan terakhirnya. Dengan tegar Tiga wanita kesayangan Bapak mengantarkan Bapak ketempat pembatingan terakhirnya. Ketiganya saling bergandengan saling memberi kekuatan. Ivan datang pas saat jenazah Bapak di bawa ke tempat pembaringan terakhirnya.
Kasih terus menggandenga Nadin memberikan kekuatan kepada sahabatnya. Selesai proses pemakaman Bapak semua kembali ke rumah dan berkumpul untuk memberi kekuatan kepada Nadin, Indah dan Mama.
Nayya terus memeluk Nininya. Karena Nayya cucu tertua Mama. Sementara Nathan berkumpul bersama dengan para lelaki yang lainnya.
Sementara di kota C. Pak.Ujang sopir di rumah Angga pergi menuju sekolahan Neta sesuai perintah tuannya untuk meminta ijin Neta karena tidak masuk menghadiri kematian Kakeknya.
"Maaf Pak, Saya mau bertemu dengan Pak.Prayoga Hadist." Ucap Pak Ujang kepada security di pos sekolahan Neta.
"Sebentar saya panggilkan Pak. Silahkan duduk dulu." Ucap Security tersebut ramah.
Tak lama keluarlah orang yang di maksudkan. Yoga melihat siapa yang mencarinya dan sepertinya Yoga tak mengenalnya.
"Maaf, Bapak mencari saya?" Tanya Yoga sopan.
"Owh! Bapak. Prayoga Hadist?" Tanya pak.Ujang.
"Iya benar. Bapak?" Tanya Yoga terputus.
"Saya Ujang Pak. Sopir pribadi keluarga Angga Bagaskara." Ucap Pak.Ujang memperkenalkan dirinya.
Mendengar kata keluarga Bagaskara Yoga sedikit mengerti dan ada kecemasan tersendiri mengingat Neta yang tengah sakit. Pak.Ujang melihat kecemasan di wajah Yoga. Pak Ujang pun segera menepis kekhawatiran Yoga.
"Hm, maaf sebelumnya Pak. Ini titipan untuk Bapak dari Nona Neta. Karena Nona tidak dapat masuk sekolah di karenakan Kakeknya yang berada di kota J meninggal dunia pagi tadi. Jadi mereka semua berangkat ke sana Pak." Jelas Pak.Ujang.
"Owh! Begitu." Ucap Yoga sedikit lega.
"Kalau begitu saya permisi Pak." Pamit Pak Ujang.
"Owh! Iya. Terima kasih Pak." Ucap Yoga dan hanya di angguki kepala oleh Pak Ujang.
__ADS_1
Yoga melihat ke arah paper bag ditangannya dan tak mengira ternyata isinya kotak bekal makan.
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏