
"Teh,"Ucap Lirih Amel.
"Semakin kuat?" Tanya Nadin dan hanya di jawab dengan anggukan saja oleh Amel.
"Kas, San." Panggil Nadin dan keduanya pun mengerti akan tugas masing-masing. Dan Nadin melihat kepala bayi yang akan segera keluar. Nadin memberi aba-aba kepada Amel dan di ikuti Amel. Tak berselang lama tangisan bayi mungil pun menggema di kamar Amel.
"Alhamdulillah..." Ucap Arif bahagian dan air mata pun tak terbendung lagi.
"Selamat ya Bro." Ujar Nando memberikan selamat.
Satu jam berlalau Kasih pun keluar dengan menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki.
"Rif, jagoan." Panggil Kasih pada Arif. Arif pun segera menghampiri dan mengambil alih baby boy. Arif mengazani bayinya.
"Bik, seneng ya punya sodara dokter atau bidan gitu bisa di tolongin saat terdesak." Bisik salah satu maid di dapur.
"Iya. Senengnya. Istri-istri pengusaha ternyata seorang bidan ya." Bisik salah satu maid lagi dan sayangnya kali ini tak lepas dari pendengaran Nadin.
"Kebetulan aja Bik." Jawab Nadin mengagetkan para maid yang sedang bergosip ria.
"Eh, nyonya ada yang bisa saya bantu?"
"Siapkan makan ya Bik saya lapar."
"Owh! Iya nyonya."
Nadin pun terus menghampiri Angga. "Cape?" Tanya Angga singkat. Nadin hanya menganggukan kepalanya lalu bersandar di pundak Angga.
"Mau tiduran?"
__ADS_1
"Mau makan aja dulu laper. Ini tadi udah minta disiapin makan sama Bibik."
"Ya sudah sinih." Angga menepuk kakinya dan membiarkan Nadin merebahkan kepalanya di pangkuannya.
Semua orang tengah berbahagia dan berkumpul di kamar Amel. Sementara Angga dan Nadin yang nota bene kakaknya malah asik berduaan.
"Ya Allah Nad,,, disini rupanya Lu?" Ucap Nando.
"Emang ada apa?" Tanya Nadin polos.
"Ya liat Amel lah kan baru aja punya baby lagi. Lucu banget loh Nad."
"Lu lupa kalo yang bantuin brojolin Gw." Jawab Nadin santai.
"Astagfirullah... Kenapa Gw bisa lupa."
"Hallo Bu,,"
"Nad, Amel sudah melahirkan?"
"Iya Bu. Ibu tau dari mana?"
"Arif memberi kabar. Laki-laki?"
"Iya Bu. Alhamdulillah ibu dan bayinya sehat. Ibu jangan khawatir ya. Nanti kita pulang bawa oleh-oleh baby boy."
"Iya sayang. Ibu tunggu kalian pulang. Kamu baik-baik saja kan Nad?"
"Iya Bu. Tadi cuma sedikit gugup saja. Karena harus menolong persalinan adik sendiri. Rasanya campur aduk Bu."
__ADS_1
"Syukurlah. Terima kasih sayang. Kamu jaga kesehatan ya."
"Iya Bu. Sampai ketemu di rumah ya Bu. Anak-anak ngga rewel kan Bu?"
"Iya. Alhamdulillah sepertinya anak-anak betah tinggal bersama Nenek dan Akinya."
"Baiklah. Bye Bu. We love you."
"Bye sayang."
Sambungan telfon pun terputus. Angga hanya diam tanpa ikut bicara dalam percakapan Nadin dan Ibunya. Angga hanya mengelus lembut rambut Nadin.
"Kamu Wanita hebat sayang. Mas makin sayang sama kamu?"
"Makasih sayang.."
Angga pun mengecup lembut kening Nadin.
"Ya ampuun... Kalian memang ya ga bisa liat tempat kalo bermesraan." Sungut Nando.
Angga dan Nadin pun tertawa. Nadin tertidur di pangkuan Angga. Angga pun dengan setia membelai rambut Nadin.
"Ya ampun. Tidur Mas?" Tanya Kasih pada Angga.
"Iya. Biar aja. Ini pengalaman pertamanya menolong lahiran tambah lagi yang di tolong bukan orang lain."
"Iya Mas. Kasih salut sama dia bisa mengesampingkan rasa gugupnya demi menolong Amel."
Tbc...
__ADS_1