Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Makan-makan 2


__ADS_3

Arif turun dari kamarnya dan segera mendekati Nadin yang tengah asik ngobrol bersama Dina dan Kasih. Ya memang Nadin lebih dekat dengan keduanya dibandingkan dengan Tina istri dari Nando. Tina pun selalu menjarak dengan Nadin.


Sementara yang lain sibuk dengan aktivitas masing-masing. Santi menyuapi anaknya yang masih balita. Nurul istri Iwan menyusui bayinya. Sementara yang laki-laki jangan tanya kemana mereka klo sudah bergabung dunia milik mereka.


"Nad, gimana nih?"


"Gw sih gimana Lu aja. Klo Lu nyaman dan bisa kenapa ngga?"


"Gw ga enak aja Nad."


"Ga perlu gitu biasa aja. Tinggal Lu jalanin aja klo bisa klo ngga ya Lu jujur aja sama Ayah."


"Apaan sih emang? Tanya Dina polos.


"Dia di minta Ayah gantiin Ayah."


"Wuiiiih,,, amanah gede tuh Rif."


"Itu dia Din. Semua yang gw tanyain pendapatnya menyerahkan sepenuhnya keputusan ke gw."


"Ya iyalah kan Lu yang mau jalanin Rif."


"Klo menurut gw terima Rif. Karena mendapatkan suatu kepercayaan itu sulit. Klo sekarang Lu nolak belum tentu Ayah mau nerima Lu lagi." Usulan Kasih.


"Tadi gimana di kantor? Ada kendala?"


"Ga ada sih Nad."


"Apalagi coba."


Mereka menghentikan obrolan karena Amel mendekati mereka. Arif tak ingin membebani fikiran Amel dengan segala kebimbangannya. Amel merangkul tangan Arif. Nadin tersenyum melihatnya.


"Ayah seriusan ya Nad?"


"Kayanya gitu?"


"Terus lu ga cemburu Arif dikasih usaha Ayah begitu aja?"

__ADS_1


"Gw mah punya aset lebih berharga dong Mih."


"Maksud Lu?"


"Anak ama laki gw dong Mih."


"Astaga Nadiiiiin elu mah ah.."


"Udah Mih ga usah di bahas dia lagi bucin."


Nadin pun tertawa mendengarkan ocehan Dina dan Kasih. Santi dan Nurul ikut bergabung bersama para perempuan Tina pun menghampiri mereka dan ikut bergabung. Kasih memberi kode Dina. Nadin mengacungkan telunjuknya di depan bibirnya memberi kode diam kepada dua sahabatnya itu.


Ibu ikut bergabung dengan para perempuan dan Ayah bergabung dengan para lelaki. Para ibu-ibu merencanakan arisan agar mereka bisa berkumpul bersama.


"Ka, boleh ya Nad ikutan?"


"Apa?" Tanya Angga.


"Arisan."


"Tuh kan Nad. Tenang aja Ka ibu ikutan juga ko. Boleh dong ya Yah."


"Boleh aja. Kalian mau belanja tiap hari juga boleh." Jawab Ayah.


"Asal apa Yah?" Tanya Nadin.


"Asal ada uangnya. Hahahaa..." Jawab Ayah sambil tertawa.


"Mama,,, Nayya mau minum."


"Hmmm... Sini sayang." Jawab Nadin sambil menyodorkan gelas berisi minum.


Nayya mendekat dan meminum habis air di dalam gelas.


"Haus ya cucu Oma."


"Iya Oma. Nayya main lagi ya."

__ADS_1


Nadin menyatukan ibu jari dan telunjuknya tanda oke.


"Makan malamnya sudah siap Bu."


"Owh! Iya terima kasih ya. Ayo semuanya makan"


Satu persatu di antara mereka pun menuju meja-meja yang sudah di sediakan. Anak-anak di layani suster. Para istri melayani suami masing-masing.


"Mah, masak ini nanti di rumah. Enak nih." Ucap Nando pada Tina.


"Iyaa..."


"Yang penting uang belanjanya ya Tin." Tambah Kasih.


"Itu mah pasti dong Kas."


"Hmmm... Iya yang udah punya istri."


"Eh, Rif belum halal ya." Goda Ivan.


"Tab** niih." Jawab Arif.


Dan semua pun tertawa mendengar percakapan mereka. Semua disibukan dengan piring masing-masing. Di akhir makan Ayah meminta semua menginap. Semua berfikir akan Ayah minta tidur di tenda-tenda yang hanya ada atapnya saja. Kebayang dinginnya malam.


Tapi, ternyata Ayah sudah menyulap ruang tengahnya menjadi seperti kamar tidur. Jadi semua akan tidur bersama di tengah rumah termasuk Ibu dan Ayah.


Ayah memang seorang anak tunggal di keluarganya. Oleh karena itu, Ayah selalu menginginkan kebersamaan. Tak jarang Aldo, Iwan dan Rian selalu diminta Ayah untuk menginap.


Semua merasa senang karena Ayah tidak pernah membedakan anak-anaknya. Ibu dan Ayah selalu menyayangi siapapun yang dekat dengan anak-anak mereka.


"Mama, Nayya mau bobo sama temen-temen boleh kan Ma."


"Boleh sayang, kita semua tidur disini. Jadi, kalo Nayya cari mama gampang ya."


"Yeeee... Oke Ma."


tbc

__ADS_1


__ADS_2