Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Ketakutan Nadin


__ADS_3

"Tin, Lu ngomong dah." Ucap Kasih. Seketika raut wajah Tina menjadi mendung.


"Kenapa?" Tanya Nadin sembari merangkul Tina. Dan tangis Tina pun pecah seketika.


Arif melihat kearah Kasih. Namun Kasih hanya mengangkat bahu.


"Sok nangis aja Tin keluarin apa yang membuat dada Lu sesek."


Tina pun terus menangis dalam pelukan Nadin. Nadin bingung harus bagaimana. Kasih pun mendekati Tina dan Nadin.


"Nando,,"


"Kenapa?"


"Lu tenang dulu Tin." Ucap Arif.


"Nando selingkuh."


"Apa!" Pekik Nadin.


Tina pun memberikan ponselnya. Dan Duaarrrr.... Bagai di sambar petir Nadin dan Kasih melihat isi ponsel Tina. Nadin memberikan ponsel Tina kepada Arif. Nadin hanya bisa diam.


"Ponsel Lu gw pegang. Malem ini kita kumpul di rumah mertua gw."


"Nad." Panggil Kasih cemas.


"Lu jangan khawatir. Kita kumpul aja."


"Tapi Nad." Tanya Tina.


"Sudahlah. Kita Berangkat sekarang. Telfon Rian bilang Lu di rumah mertua gw."


Kasih dan Tina pun hanya bisa menuruti Nadin. Semua berangkat menuju kediaman Bagaskara. Sampai di rumah Nadin langsung menuju kamarnya. Langsung masuk kedalam kamar mandi mengguyur kepalanya dengan air untuk mendinginkan suasana hatinya.


"Sayang,," Panggil Angga yang baru saja datang.


Tak ada sautan dari sang istri namun terdengar ada suara air mengalir.

__ADS_1


"Yang,," Panggil Angga lembut.


Nadin tak menghiraukan panggilan Angga. Dirinya masih saja terduduk dibawah guyuran air. Angga mendekatinya dan memeluk Nadin.


"Kenapa sayang?" Bisik Angga.


Nadin pun menumpahkan segala rasa di pelukan Angga disertai guyuran air shower. Angga membuka baju Nadin dan membalut tubuh Nadin dengan handuk. Begitupun dengan dirinya.


Angga mengunci pintu kamarnya dan membawakan baju untuk istri tercintanya. Sebelumnya dirinya terlebih dahulu mengenakan baju. Dengan sangat telaten Angga mengenakan baju untuk istrinya.


Setelah selesai Angga kembali memeluk Nadin. Membiarkan Nadin menangis menumpahkan segalanya. Nadin mencari keberadaan ponsel Tina. Dan memberikannya pada Angga.


"Jadi ini alasan kalian berkumpul?" Tanya Angga dan Nadin pun hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Lantas?"


Nadin menyerahkan ponselnya dan memperlihatkan laporan keuangan pabrik pada Angga.


"Ini yang Ivan bahas kemarin?"


Nadin pun mengangguk. "Arif?"


"Kasih?"


"Hanya tau tentang ini." Jawab Nadin sambil menunjuk ke arah ponsel Tina.


Angga menunduk sejenak mengontrol emosinya. Angga memeluk Nadin. Menyalurkan ketenangan untuk istrinya.


"Yakinlah semua akan baik-baik saja." Bisik Angga pada Nadin.


"Aku takut Ka."


"Kalian pasti bisa melewatinya."


Sampai malam tiba Nadin tak kunjung keluar dari kamar. Kasih tau ini berat untuk Nadin dan tidak hanya untuk Nadin tapi untuk mereka semua. Ibu dan Ayah merasa ada yang janggal. Karena di saat semua berkumpul tapi Nadin tak kunjung turun.


"Rif,"

__ADS_1


"Iya Yah?"


"Ada apa?"


"Nanti kita tunggu Nadin turun saja ya Yah."


"Baiklah."


Tina sudah merasa gelisah dirinya merasa tak nyaman. Karenanya lah Nadin menjadi begini.


"Kamu tenang aja yah. Semua akan baik-baik saja." Ucap Kasih memberi ketenangan pada Tina.


Nando memang tak mengetahui keberadaan Tina di sana karena sejak kedatangan Nando dan Ivan, Tina di sembunyikan di dalam kamar.


Ivan dan Arif harap-harap cemas menunggu Nadin. Namun Nadin tak kunjung turun. Sampai Rian datang untuk menjemput anak dan istrinya. Namun Kasih belum bisa pulang karena Nadin belum juga datang.


Amel memeluk lengan Arif. Kecemasannya semakin bertambah karena Nadin tak kunjung turun.


"Yang, gimana ini?"


"Tunggu saja sebentar."


Nando mulai merasa jengkel karena Nadin tak kunjung keluar. "Kenapa orang kaya suka semena-mena sih." Gerutu Nando.


"Lu mending diem aja dulu deh." Bentak Arif.


"Sok penting banget sih kalian. Memangnya hanya kalian saja yang punya kepentingan."


"Lantas kepentingan apa yang Lu cemaskan sekarang?"


"Banyaklah."


"Apa?"


"Sudahlah Rif, Nan. Kita tunggu Nadin sebentar lagi."


"Sampai kapan Van? Dia yang buat janji tapi Lu liat coba sejak kita datang dia tak menunjukan batang hidungnya."

__ADS_1


"Lu bisa ga pake emosi ga Nan?" Ucap Ivan.


Tbc...


__ADS_2