Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Siapa?


__ADS_3

Hari ini semua di sibukkan oleh persiapan pernikahan Nayya yang akadnya akan di adakan di rumah mereka seperti keinginan Nayya dan barulah resepsi akan di adakan di hotel milik keluarga Bagaskara.


Mba Sus dan suami yang sudah datang pun ikut di repotkan oleh persiapan pernikahan Nayya. Cucu pertama keluarga Bagaskara. Dan mereka semua kelimpungan karena Kanaya yang tidak mau lepas dari Nayya dan melarang siapapun mendekati Mominya.


Bahkan saat orang salon datang untuk membantu Nayya melakukan perawatan Kanaya terus menangis karena Mominya terus di pegang oleh orang salon. Hingga orang salon pun pasrah menunggh Nayya menenangkan anaknya terlebih dahulu.


Dan Nayya akan marah besar jika ada orang yang mengatakan bahwa Kanaya hanya anak sambung. Nayya tak ingin ada orang yang mengatakan hal itu di hadapannya ataupun di belakangnya.


Rama pun mengganti semua identitas ibu kandung Kanaya atas nama Nayya karena Rama tidak ingin ada pertanyaan dari Kanaya yang akan membuat Nayya terluka. Biarlah nanti mereka sendiri yang akan menjelaskannya dengan cara mereka.


Setelah drama-drama yang terjadi antara Kanaya dan Nayya usai dengan di menangkan oleh Nathan yang berhasil membujuk keponakan tersayangnya itu. Akhirnya Nayya pun bisa melewati serangkaian perawatan dari atas sampai bawah untuk oersiapan pernikahannya esok pagi.


Nathan dan selalu Nathan yang berhasil meluluhkan hati Kanaya. Dan Kanaya hanya akan berpindah pada Rika atau Angga selain Nathan. Tapi Nathan lah yang harus bertugas melepaskan Nayya dan Kanaya terlebih dahulu. Barulah Angga atau Rika bisa mengambil alih.


"Mas.Nath, Saat Kakak pergi bulan madu. Mas.Nath sama Kak.Rika lah yang akan menggantikan peran orang tua bagi Kanaya." Ucap Mba.Sus.


"Hah! Kenapa bisa begitu? Kakak bawa saja. Nath harua kuliah Tan." Ucap Nathan.


Tante. Itulah sebutan baru untuk Mba.Sus setelah Mba.Sus memutuskan untuk menerima pinangan lelaki yang kini resmi menjadi suaminya. Itu semua keinginan Nadin karena Mba.Sus sudah seperti Kakak bagi Nadin.


"Kamu harus bisa membagi waktu bersama Rika." Ucap Mba.Sus.


"Harus begitu?" Tanya Nathan bingung.


"Ya hitung-hitung kalian latihan jika punya anak nanti Mas." Sambung Amel.


"Onty, jangan nakut-nakutin Nathan dong." Ucap Nathan cemas.


"Ya kan Mas tau sendiri. Semenjak Kana Onty bawa pulang dan menginal Kana ga pernah mau lagi ikut dengan Onty atau Refa. Hanya Kamu dan Rika yang bisa membujuknya." Jelas Amel.


"Tapi, Papa juga bisa kok Onty." Ucap Nathan sedikit tenang.


"Hei,, Papa mu harus ke kantor sayang." Tambah Nadin.


"Mama,,, kok kalian jahat sih? Kalau begitu kapan Nathan pacarannya dong." Ucap Nathan lemas.


Semuanya pun tertawa mendengar ucapan Nathan. Semuanya merasa gemas dengan sikap Nathan. Bahkan Nathan tak malu-malu mengatakan semuanya di hadapan calon mertuanya.


"Mas, kamu ga mau ngomong depan Bunda.Kasih?" Tanya Refa.


"Kenapa mesti malu. Bunda lebih tau Mas." Ucap Nathan lagi.

__ADS_1


Nadin dan Kasih hanya tersenyum menanggapinya. Kasih pun tahu bagaimana sifat dan sikap Nathan. Dan Kasih tak pernah mempermasalahkannya selama anaknya bahagia Kasih akan selalu mendukungnya. Dan Kasih yakin Nathan akan selalu menjaganya.


"Sayang, mana Kana?" Tanya Nathan ketika melihat Rika berjalan seorang diri menghampirinya.


"Sama Papa di taman." Jawab Rika.


"Apa tidak apa-apa?" Tanya Nathan.


"Ngga apa-apa Mas. Papa yang memintanya." Jawab Rika.


"Papa juga ga akan membiarkan anak laki-lakinya yg terus mengurus keponakannya sayang. Papa juga mengerti jika kalian butuh waktu berdua." Ledek Nadin.


"Mama,,, " Ucap Nathan.


"Ma, Siapa?" Tanya Rika sambil menunjuk ke depan.


"Owh! Itu mobil Yoga." Jawab Nadin.


"Hah! Yoga!" Jerit Nadin lagi.


"Eh, siapa Yoga?" Tanya Rika.


"Tunggu Kakak akan tau siapa setelah siapa yang turun dari mobilnya." Ucap Nadin.


"Netanya." Ucap Rika dan Kasih yang kebetulan ada di halaman depan rumah Nadin dan Angga hang tengah melihat persiapan untuk akad nikah Nayya dan Rama besok pagi.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Yoga dan Neta.


"Wa'alaikum salam." Ucap Nadin dan yang lainnya.


"Sore Mah." Sapa Yoga pada Nadin.


"Sore. Besok bisa datang kan Nak.Yoga?" Tanya Nadin langsung.


"In sha Allah Bisa Mah." Jawab Yoga.


"Syukurlah. Sudah sana masuk." Titah Nadin.


Hubungan Yoga dan Neta memang sudah semakin dekat namun Yoga belum berani mengatakan isi hatinya kepada Neta. Bukan karena apa-apa. Yoga takut Neta menolaknya. Jadi, biarlah kedekatannya dengan Neta berjalan seperti biasa saja.


Namun, bukannya Neta tak mengetahui perasaan Yoga. Sudah beberapa kali Nayya mengingatkan jika mungkin saja Yoga menyukainya. Tapi, Neta tak ingin gegabah. Neta pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Jadi biarlah semua mengalir begitu saja.

__ADS_1


Neta dan Yoga pun masuk kedalam rumah. Sampai di dalam Yoga bertemu dengan Angga yang tengah bermain bersama Kanaya.


"Sore Pah." Sapa Yoga.


"Sore. Kemarilah Ga." Ajak Angga.


"Hai cantik, Main apa nih?" Tanya Yoga pada Kanaya.


Yoga memang belum berhasil mendekati Kanaya. Kanaya masih takut berdekatan dengan Yoga. Tapi, kali ini Kanaya biasa saja kala Yoga mendekatinya. Mungkin karena sudah beberapa kali bertemu jadilah Kanaya sudah mulai mengenal sosok Yoga.


"Opa," Panggil Kanaya sambil merentangkan tangannya.


"Kenapa sayang. Sini Opa pangku." Angga pun memangku Kanaya. Kanaya melihat kebarah Yoga.


"Siapa? Om.Yoga. Kana mau berkenalan dengan Om?" Tanya Angga. Kanaya pun mengangguk.


Yoga tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk dekat dengan calon keponakan.


"Halo cantik. Kenalin nama Om Yoga." Ucap Yoga sambil mengulurkan tangannya.


"Halo Om. Aku Kanaya." Ucap Angga menirukan suara anak kecil sambil menuntun tangan Kanaya untuk menerima uluran tangan Yoga.


"Masya Allah cantiknya." Puji Yoga pada Kana dan menjawil pipi gembul Kanaya.


Kanaya pun memeluk Angga dengan erat. Kanaya selalu bersikap seperti itu. Mungkin karena pertemuannya dengan Yoga belum sering. Kanaya memang bukan anak yang mau di ajak oleh siapa saja.


"Pak, Diminum dulu." Ucap Neta yang baru saja datang membawakan minuman untuk Yoga.


"Terima kasih Dek." Ucap Yoga.


"Kenapa Pak?" Tanya Angga.


Neta pun menoleh ke arah Angga.


"Ini bukan sekolahan Dek. Panggil dengan sebutan lain. Kurang enak di dengarnya. Panggil Kakak atau Mas itu lebih sopan." Saran Angga.


"Tidak apa-apa Pah." Ucap Yoga tidak enak.


"Biar saja. Kalau di sekolah Nak.Yoga memang gurunya Neta. Tapi di rumah." Ucapan Angga menggantung.


Neta dan Yoga pun tersipu dan menundukkan kepala mereka. Keduanya memang belum nenyatakan perasaan mereka masing-masing tapi, keduanya pun tampak memberikan perhatian lebih satu sama lain.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2