Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Insiden Netanya


__ADS_3

Suasana hening hanya ada dentingan sendok beradu dengan piring. Semua anggota keluarga menikmati sarapan pagi mereka tanpa bersuara. Setelah makanan di piring mereka habis barulah satu persatu dari mereka berbicara.


"Kak, Neta ikut Kakak ya. Mas.Nathan ga ada kuliah pagi." Pinta Neta.


"Boleh. Kebetulan Kakak hari ini ke kampus gladi resik." Ucap Nayya.


"Oma sama Opa juga pamit mau bantu tante kalian buat nyiapin acara pertunangan Refa." Pamit Oma.


"Kak," Panggil Nathan.


"Apa?" Tanya Nayya.


"Kesalip tuh sama Refa." Sindir Nathan.


"Ga apa-apa. Kan baru tunangan. Nanti kakak salip langsung nikah." Jawab Nayya asal.


"Amin." Semua mengamini ucapan Nayya.


"Astaga kalian memang ya." Ucap Nayya.


"Ayo dek nanti kesiangan loh sekolahnya." Ajak Nayya kemudian berpamitan pada semua yang ada di ruang makan.


Nathan kembali ke kamarnya setelah sarapan pagi. Ayah dan Ibu pergi di antar oleh Angga ke rumah Amel. Dan Nadin pergi ke halaman belakang untuk berkebun.


"Bu, ada tamu." Ucap Bibik mendekati Nadin.


"Siapa?" Tanya Nadin.


"Saya kurang tahu. Tapi beliau menanyakan orang tua dokter Nayya." Jelas Bibik.


"Beliau?" Tanya Nadin kembali.


"Iya Bu. Mereka sepertinya sepasang suami istri." Jawab Bibik lagi.


Nadin pun segera mencuci tangannya dan membuka apron yang dia kenakan. Nadin kedepan melihat siapa tamu yang datang. Saat di depan Nadin melihat tamu nya dan tak sedikit pun Nadin tau siapa.


"Maaf dengan siapa?" Tanya Nadin.


"Oh, selamat pagi Bu. Perkenalkan saya Laras dan ini suami saya Budi." Ucap salah satu di antara ke duanya.


"Owh! Saya Nadin nyonya di rumah ini." Ucap Nadin.

__ADS_1


"Ah, jadi anda Ibu dari dokter Nayya?" Tanya Laras.


"Benar. Ada apa ya?" Tanya Nadin.


"Maaf, saya orang tua Rama." Jawab Laras.


Deg..


"Owh! Tapi, Nayya anak saya sedang tidak ada di rumah." Jawab Nadin.


"Owh! Apa dokter Nayya sedang berdinas?" Tanya Budi.


"Tidak. Dia sedang gladi resik persiapan wisuda dokternya." Jawab Nadin.


"Maaf sebelumnya Bu. Jika kedatangan kami mengagetkan bagi ibu. Kami hanya ingin bertanya apakah anak ibu sudah ada yang mengikat atau sudah ada calon pendamping?" Tanya Budi.


"Setahu saya Nayya tak pernah memperkenalkan kepada kami teman laki-laki yang spesial baginya." Jawab Nadin.


"Syukurlah." Jawab keduanya.


"Maaf jika kami lancang. Jika Ibu berkenan saya ingin meminta anak ibu untuk anak kami Rama." Pinta Laras.


"Bu, Pak. Sebelumnya saya minta maaf. Saya mengerti maksud kalian. Saya akan bicarakan dahulu kepada suami dan anak saya tentunya. Saya dan suami tidak ingin memaksakan kehendak kepada anak kami." Jawab Nadin.


"Mari silahkan di cicipi Bu, Pak kue ya." Tawar Nadin.


Laras dan Budi pun mencicipi kue yang di hidangkan oleh maid sebagai penghormatan kepada pemilik rumah.


"Terima kasih Bu.Nadin atas pengertiannya. Maaf juga jika ini sangat mendadak. Karena saya merasa dokter Nayya layak menjadi istri dari anak kami dan ibu dari cucu kami." Ucap Laras.


"Sama-sama Bu. Tak perlu sungkan. Bahkan kami senang dengan kedatangan Kana di tengah keluarga kami." Ucap Nadin.


Saat mereka tengah asik bercengkrama Nathan menghampiri Nadin.


"Ma, Mas ke kampus dulu." Pamit Nathan.


"Owh! Iya sayang hati-hati ya." Ucap Nadin kemudian mencium pipi kanan dan kiri Nathan.


"Ini adik dokter Nayya?" Tanya Laras.


"Owh! Iya. Maaf. Perkenalkan ini Nathan anak kedua kami. Laki-laki satu-satunya." Ucap Nadin.

__ADS_1


"Nathan." Ucap Nathan menjulurkan tangannya kepada Laras dan Budi.


"Saya Laras dan ini suami saya Budi. Kami orang tua dari Rama." Jelas Laras.


*Owh! Nenek kakek nya Kana." Ucap Nathan.


"Benar. Nathan kuliah kedokteran juga?" Tanya Budi.


"Tidak Om. Saya mengambil ekonomi." Jawab Nathan.


"Wah, nampaknya Nak.Nathan tidak tertarik di dunia kesehatan." Ucap Budi.


"Cukup Kakak dan Mama saja Om yang terjun di kesehatan." Jawab Nathan.


"Owh! Anda seorang dokter juga?" Tanya Budi.


"Bukan. Saya hanya lulusan perawat biasa." Jawab Nadin.


Setelah cukup lama berbincang orang tua Rama pun berpamitan untuk pulang. Nathan sudah lebih dahulu pergi ke kampus. Saat Nadin mengantarkan tamu nya kedepan tiba-tiba ada mobil masuk ke halamannya. Nadin menoleh kearah mobil tersebut dan tidak dia kenali.


Sang sopir pun turun dan menghampiri Nadin.


"Maaf Bu. Saya mau mengantarkan nona Netanya." Ucap sopir tersebut.


"Anda siapa? Kenapa anak saya bisa bersama dengan anda?" Tanya Nadin.


"Saya sopir pribadi Pak.Sandy. Guru olah raga di sekolah nona. Mohon maaf karena beliau tidak dapat mengantarkan Nona kepada Anda. Tadi di sekolah terjadi insiden yang membuat nona harus di larikan ke klinik. Sekarang Nona susah membaik tapi Nona tertidur di mobil Bu." Jelas sopir tersebut.


Orang tua Rama pun masih terdiam mendengarkan penuturan orang tersebut. Nadin di buat terkejut dengan penuturan sopir tersebut. Nadin berlari mendekati mobil yang membawa Neta.


"Astaga Neta." Pekik Nadin ketika melihat anaknya yang terkulai lemas dengan perban di lengan dan dahinya.


"Kenapa bisa sampai begini Pak?" Tanya Nadin pada sopir itu


"Saya kurang tahu Bu. Saya hanya di minta mengantarkan Nona kesini." Jawabnya.


"Baiklah terima kasih Pak. Sebentar saya panggilkan supir saya." Ucap Nadin.


Nadin pun meminta Pak.Ujang untuk menggendong Neta masuk ke dalam. Tak lupa Nadin pun meminta maaf kepada orang tua Rama yang ikut menyaksikan kejadian mengenaskan putri bungsunya.


Setelah mobil orang tua Rama keluar beriringan dengan mobil supir gurunya Neta. Nadin pun segera masuk dan melihat kondisi anak bungsunya. Nadin memeriksa setiap luka yang terdapat di tangan dan dahi Neta.

__ADS_1


Nadin tampak lega karena lukanya todak cukup serius. Mungkin Neta tertidur akibat pengaruh obat yang di berikan oleh dokter di klinik. Nadin membenarkan letak selimut Neta yang di letakkan sembarangan oleh Pak.Ujang.


Sampai disini dulu semuanya ya. Jangan lupa like dan komennya ya. Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2