
Selesai mandi Nadin dan Angga kaluar dari kamar menuju ruang keluarga. Bersamaan dengan Nadin dan Angga turun Amel dan Ayah datang. Ayah langsung kekamar untuk mandi. Sementara Amel duduk di samping Nadin.
"Kenapa Dek?"
"Ih, geli ya."
"Biasain ajalah.."
"Iya Kakaku yang paling jelek."
"Iiih... Ngelunjak ya."
"Udaaah ih.. Kenapa?"
"Ga apa-apa Teh. Lagi capek aja."
"Hmm.... Ada masalah ya di kantor?"
"Ngga ada."
"Terus?"
"Ada cewek yang ngaku mantannya Arif telfon aku."
"Hah! Hahahaa.... Up's! Maaf. Siapa?"
"Katanya Intan namanya."
"Hahaaa.... Ga usah percaya. Yakin sama gw. Lagian tau dari mana sih tu anak nomer Lu?"
"Lewat Facebook Teh."
"Hmmm... Gw ngerti. Lu post foto sama Arif terus ngetag Arif?"
"Iya."
"Pantesan. Udah ga usah di tanggepin dia emang gitu."
"Emang siapa sih yang?"
"Intan itu fansnya Arif dari dulu. Adek kelas kita. Arif paling risih sama dia. Klo dia tau paling marah."
"Owh! Gitu."
"Iya makanya gw ketawa soalnya bukan cuma Lu dek yang kena teror. Gw atau kasih juga gitu klo post foto atau apapun yang ada hubungannya dengan Arif pasti ntar d telfon."
"Iiih, serem amat sih."
"Cuekin aja lah Dek."
__ADS_1
"Iya sih Ka. Tapi kata-katanya kasar banget."
"Udahlah anggep aja orang salah sambung."
"Ya udah deh Mel mau mandi dulu."
Amel pun naik dan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Nadin cuma geleng-geleng mendengar cerita Amel tentang Intan.
"Mama, Papa.."
"Eh, apa itu?"
"Anak kucing mah tadi ada si depan. Kasian deh mah."
"Ih, Nayya ga usah main binatang ah." Protes Angga.
"Kasian Pah kedinginan."
"Iya tapi nanti induknya nyariin."
"Ga ada induknya Papa dia sendiri."
"Eh, cucu Oma bawa apa?" Tanya Ibu dari arah dapur.
"Baby miaw Oma."
"Ga ada Mamanya Oma."
"Coba kita liat lagi ke depan ya sayang. Pastiin memang mama kucingnya ngga ada."
"Iya Ma."
Nadin dan Nayya pun pergi kedepan dimana letak asal kucing yang dibawa Nayya. Dan ternyata induknya tengah mencari anaknya. Nayya akhirnya mau memberikan anak kucing kepada induknya. Nayya malah ingin membawa semua anak dan induk kucing.
Setelah itu Nayya mencuci tangan dan mengganti bajunya yang penuh bulu kucing. Semua berkumpul santai di ruang keluarga. Nayya dan Nadin kembali bergabung bersama mereka.
"Mah, Nayya mau makan."
"Boleh, sebentar kita tunggu bibi siapkan dulu ya."
"Iya."
Setelah bibi selesai menyiapkan makan malam Nayya tak tahan lagi ingin langsung segera makan. Nadin pun segera melayani anak kesayangannya dan suami tercintanya.
"Mel, besok Ayah minta kamu kekantor ya. Ayah mau pensiun lah."
"Iiih,,, ko mendadak sih Yah."
"Terus kapan lagi kamu bantu Ayah?"
__ADS_1
"Yaaaah Ayah. Terus gimana butiknya Amel?"
"Ya kan kamu ada anak buah serahinlah. Kamu tinggal pantau kan bisa."
"Diiih Ayah mah."
"Ga apa-apa lah dek. Masa iya Ayah kerja terus."
"Kaka mah enak."
"Enak apaan? Kaka kan pegang pusat."
"Cabang juga lah Ka."
"Mel, makanya cepet nikah biar ada yang bantu."
"Tuh kan ibu mah kesitu lagi."
"Minta Arif bantu kamu dek."
"Ga enak Ka."
"Gimana Nad, menurut kamu?"
"Apanya Yah?"
"Arif diminta bantu Ayah di kantor."
"Hmmm... Bisa aja sih Yah. Coba aja Dek di omongin baik-baik sama Arif."
Amel pun setuju. Dan rencananya besok malam saat kumpul bersama Ayah juga akan membicarakan masalag perusahaan kepada Arif dan Amel bersamaan.
"Teh, kenapa ga Teteh aja yang bantu?"
"Sembarangan Lu dek. Istrinya Kaka perawat bukan pengusaha."
"Nah tuh udah di jawab."
"Kenapa Teteh ga ngelanjutin sekolah bisnis aja."
"Ga nyambung dong dek. Dari keperawatan ke bisnis. Judulnya bukan ngelanjutin tapi ngulang dari awal."
Semua tertawa. Bagi Amel begitu mengerikan jika harus meneruskan usaha Ayahnya. Karena mempertahankan yang sudah berdiri itu sangat sulit baginya. Amel berdo'a agar Arif mau membantu Ayahnya. Karena klo sampe Arif ga mau dia lah yang akan meneruskan usaha Ayahnya. Karena tidak mungkin bagi Angga memegang dua-duanya. Walaupun jaraknya berdekatan tapi tetep tanggung jawabnya beda.
Sampai disini dulu ya..
Jangan lupa like dan komentnya ya. Yang punya koin boleh dong kasih tipsnya.
Terima kasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1