
Sampai di kediaman utama Bagaskara. Nayya memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobilnya dan berlari kesamping untuk menurunkan Kanaya. Saat Nayya tengah menurunkan Kana Nayya melirik kearah belakang dan kedua orang tersebut hanya diam.
"Hei, kalian mau duduk di situ sampai kapan?" Tanya Nayya.
Dengan salah tingkah keduanya membuka pintu bersamaan dan keluar pun bersamaan. Dan itu membuat Nayya menggelengkan kepalanya. Nayya menggendong Kana masuk kedalam rumah utama.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Nayya.
"Wa'alaikum salam.." Jawab semua yang berada di dalam rumah.
"Waah... Ada cicit Oma rupanya. Sini sayang Oma gendong." Ajak Oma pada Kana. Kana pun tersenyum girang melihat Oma yang sudah dikenalnya.
Nayya menyalami semua yang berada di ruang keluarga. Sementara Neta dan Yoga hanya diam mematung.
"Adek." Panggil Nayya menyadarkan Neta.
"Astagfirullah." Ucapnya kemudian menyalami satu persatu keluarga yang berada di ruangan itu.
Yoga pun melakukan hal yang sama dan membuat seisi rumah heran dan menatap Nayya seolah bertanya siapa pria yang bersama dengan Neta dan Nayya.
"Dia calon adik iparnya Nayya." Jawab Nayya asal.
Deg. Degup jantung Yoga.
"Hah! Kakak. Bukan dia guru olah raga Neta." Jawab Neta.
"Guru olah raga?" Tanya Amel.
"Ya onty. Kebetulan Pak.Yoga ini temennya Kakak." Jelas Neta.
"Bukan. Dia bukan temen Kakak." Sanggah Nayya.
"Tapi, kalian." Ucap Neta terputus.
"Ya sudah ayok Kak.Yoga kita ketaman belakang sepertinya Kakak mau ada yang dibicarakan sama Nayya." Ajak Nayya pada Yoga.
"Titip Kana ya Oma. Kamu jangan cemburu Kakak ga akan ngapa-ngapain kok." Ucap Nayya.
"Astaga Kakak." Pekik Neta karena Nayya sudah berlalu lergi ketaman belakang.
Nayya duduk di bangku taman menghadap ke arah kolam ikan milik Om.Arif. Yoga pun duduk di samping Nayya dengan jarak yang lumayan berjauhan. Nayya melirik ke arah Yoga yang tampak bingung.
"Ngomong aja Kak. Ga usah sungkan." Ucap Nayya tanpa menoleh kearahnya.
"Hm.. Oke. Sebelumnya kamu pasti heran kenapa saya ada di sekolah Neta. Dan mungkin Dama sudah bercerita perihal hubungan kami." Ucap Yoga membuka suara.
"Sebelumnya perlu Kakak tau. Dama tak pernah menceritakan apapun tentang Kakak pada saya. Tapi saya tau ada yang sedang terjadi diantara kalian." Potong Nayya.
"Ya. Hubungan kita berakhir karena Dama menerima perjodohan antara dia dan anak teman sahabat Ayahnya." Ucap Yoga kemudian menarik nafas panjang.
Nayya menoleh kearah Yoga. Dan Nayya melihat tidak ada kebohongan dimata Yoga. Hanya ada rasa pedih yang berusaha dia tutupi.
"Lalu." Lanjut Nayya.
__ADS_1
"Saat Dama mengatakan hal itu saya tengah memperjuangkannya kepada keluarga saya. Karena jujur saya pun akan di jodohkan oleh orang tua saya tapi mereka tidak mengekang saya di perbolehkan untuk memilih. Dan saya memperjuangkan Dama. Tapi, saat pertemuan kami Dama mengatakan bahwa dia di jodohkan dan dia akan menerimanya sebagai bakti kepada kedua orang tuanya." Jelas Yoga.
"Kakak yakin Dama di jodohkan?" Tanya Nayya.
"Sebelum mengetahui yang sebenarnya iya. Tapi, ternyata Dama berbohong. Dama berselingkuh dan mengenai perjodohan itu hanya alasannya untuk lepas dari saya." Jawab Yoga kemudian menundukkan kepalanya dalam.
Nayya menangkap kesedihan yang dalam pada Yoga. Nayya merasa kasihan kepada Yoga yang menerima pengkhianatan dari sahabatnya itu. Tapi, Yoga tau jika Nayya bukan orang yang selalu ikut campur urusan orang lain bahkan tentang sahabatnya.
"Dama sudah bercerai dengan suaminya. Karena perselingkuhan." Ucap Nayya.
"Saya sudah mengetahuinya Nay." Jawan Yoga.
"Lalu?"
"Saya tak berniat mengulang kembali hubungan kami. Karena sekali berkhianat maka akan terus seperti itu. Bukan perkara perselingkuhan saja namun hal lainnya juga." Jawab Yoga mantap dan Nayya melihat kesungguhan di matanya.
"Tapi." Ucap Nayya terhenti.
"Setiap orang bisa berubah dan berhak mendapatkan kesempatan kedua." Ucap Yoga lantang dan Nayya pun menganggukan kepalanya.
"Tidak bagi saya. Dan sekarang ini hati saya tengah di penuhi perempuan yang entah mengapa dia mampu membolak-balikkan hati saya." Jawab Yoga dengan raut wajah berubah menjadi ceria.
"Dan itu Netanya." Jawab Nayya terus terang.
"Nay." Panggil Yoga ragu.
"Kejarlah jika kau yakin padanya. Tapi ingat dia masih terlalu polos dan jangan pernah macam-macam. Jaga dia jika Kakak menginginkannya. Saya tidak akan melarang siapapun untuk jatuh cinta pada adik-adik saya. Tapi, jika sekali Kakak menyakitinya maka akan saya balas berkali-kali lipat." Pesan Nayya.
"Dama sudah tau Kakak mengajar di sekolah?" Tanya Nayya.
"Katakanlah pada Neta tentang masa lalu Kakak jika Kakak tidak ingin ada kesalag fahaman nanti. Dan jujurlah kepada pasangan setiap apapun yang terjadi pada diri kita." Pesan Nayya.
"Terima kasih Nay." Ucap Yoga.
"Sama-sama Dek." Jawab Nayya.
"Dek." Heran Yoga.
"Kenapa ada yang salah?" Tanya Nayya.
"Kenapa jadi Dek?" Tanya Yoga.
"Kau fikir Neta Kakak ku. Dia adik ku yah. Jadi siapapun pasangannya nanti berarti dia adik iparku." Jelas Nayya terkekeh.
"Astaga mengapa saya melupakan hal itu." Ucap Yoga menepuk jidatnya.
Nayya masuk kedalam meninggalkan Yoga yang masih diam terpaku di taman.
"Sana temenin guru kamu." Titah Nayya pada Neta.
"Kakak. Kenapa ga Kakak aja." Tolak Neta.
"Hei, dia guru sekolah mu." Ucap Nayya.
__ADS_1
"Tapi kan dia teman mu Kak." Rajuk Neta.
"Siapa yang berteman? Saya hanya mengenalnya itu saja." Jawab Nayya.
"Atau jangan-jangan Kak Yoga mantan Kakak." Selidik Neta.
"Ih, ngga ya. Mana ada Kakak pacaran." Ucap Nayya jujur.
"Ya, siapa tau Kak. Tanpa sepengetahuan Mama dan Papa.
Neta langsung bergegas menuju taman belakang menemui Yoga yang tengah duduk termenung sendiri. Nayya pun bergabung dengan Keluarganya. Ada orang tua Arif juga yang sudah berkumpul disana.
"Kak, anaknya siapa lucu deh. Jadi inget Kamu waktu kecil. Mirip banget Kak." Ucap Amel.
"Kakak yang bawa berarti anak Kakak dong Onty." Jawab Nayya.
"Astaga Mulutmu Kak. Di catat malaikat nikah Lo Kak sama Papanya nih anak." Jawab Amel.
"Ya ga apa-apa asalkan Bapaknya Duda ya Kak. Jangan yang masih ada istrinya." Sambung Oma.
"Huh! Kalian memang lah. Sudahlah Kakak mau bawa Kana ke kamar. Sepertinya Kana sudah lelah." Ucap Nayya sambil berlalu pergi meninggalkan Tante dan Oma-omanya. Nayya meninggalkan mereka dan masuk kedalam kamarnya.
Sebelum masuk ke kamar yang biasa di tempatinya Nayya sudah membuat susu untuk Kana.
"Anak Momi haus ya?" Tanya Nayya.
"Yuk kita mimi susu dan istirahat." Ajak Nayya lagi.
Mereka berdua pun merebahkan badannya di kasur. Dering ponsel Nayya bergetar di atas nakas. Nayya pun segera mengambilnya takut mengganggu Kana. Dilihatnya nomer Rama yang tertera di layar ponselnya dengan panggilan vidio.
📱Halo (Nayya)
📱Dimana?(Rama yang melihat suasana asing di sebrang layar)
📱Di rumah Onty Amel adiknya Papa.(Nayya)
📱Kana ga rewel? (Rama)
📱Ngga. Nih baru aku bawa buat mimi dan bobo. (Nayya)
📱Makasih ya (Rama)
📱Untuk ( Nayya)
📱Semuanya (Rama)
📱Sudahlah. Sana kerja. Aku mau bobo in Kana. (Nayya)
Panghilan pun terputus. Kana yang sudah setengah tidur pun semakin terlelap karena dekapan hangat Nayya. Setelah Kana tertidur Nayya pun segera turun dari tempat tidur dan duduk di sofa seraya mengeluarkan laptopnya. Melihat laporan yang di terimanya melalui email.
Nayya pun menimbang apa yang akan di lakukannya kedepan. Berhenti menjadi dokter atau lanjut. Entah mengapa kebimbangan hadir di hatinya saat bertemu dengan Kana. Seolah tak ingin meninggalkan Kana. Arrgghh... Desahnya meremas rambutnya.
Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya. Dirinya tak mau memaksakan kehendak dan tak mau melampaui batas kemampuannya.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima kasih 🙏🙏🙏