
Malam tiba dan terjadi keributan di kamar Nayya. Karena Rama meminta Kana untuk tidur bersama Netanya sementara Kana ingin tidur bersama dengan Nayya. Rama mengeluarkan berbagai rayuannya namun di tolak Kana mentah-mentah.
"Ayolah sayang, Bobok sama Onty Neta ya. Kan tadi siang Kakak sudah bobok sama Momi." Bujuk Rama.
"No Papi No. Ka bobo cama Momi." Tolak Kana dengam mendekap erat Nayya.
Nayya pun hanya tersenyum melihat tingkah anak dan Bapaknya. Karena merindukan Kana dan madih merasa lelah Nayya pun setuju jika Kana tidur bersama dengannya. Tapi, Rama benar-benar tidak ingin melewatkan malam berdua dengan Nayya.
"Sudahlah Mas. Enggak apa-apa sesekali Kana bobo sama kita." Bujuk Nayya pada Rama.
"Enggak bisa sayang pokoknya enggak bisa. Kana harus terbiasa enggak bobo sama kita." Bela Rama.
"Papi cudah becal. Papi halus bobo cendili." Ucap Kana polos.
Dan tawa Nayya pun pecah mendengar ucapan Kanaya. Akhirnya Rama pun mengalah membiarkan Kanaya tidur diantara dirinya dan Nayya. Walaupun Kanaya melarang jika Rama memeluk Nayya.
Tok...tok..
Terdengar ketukan pintu dari luar. Rama pun segera membuka pintu kamar. Dan dilihatnya Mama mertuanya sudah berdiri di depan pintu.
"Ada apa Mah?" Tanya Rama.
"Mama mau ambil Kana." Ucap Nadin.
"Kanaya mau bobo sama kita Ma." Ucap Rama tak enak. Padahal dalam batinnya Rama senang jika Mama mertuanya bisa membujuk Kanaya.
"Sini Mama bujuk Kana." Pinta Nadin.
"Enggak apa-apa Mah. Sesekali Kana bobo sama kita." Elak Rama bertolakan dengan hatinya.
"Ngga apa-apa sayang. Mana sini Mama bujuk dulu." Ucap Nadin.
Rama pun membiarkan Mama mertuanya yang begitu sangat pengeritian padanya masuk kedalam kamar mereka. Dan dilihatnya Kana tengah memeluk Nayya dan bercerita.
"Sayang, cucu Oma yang cantik. Bobo sama Opa sama Oma yuk." Ajak Nadin.
"No Oma. Ka mau bobo cama Momi." Tolaknya.
"Yaaah,, kasihan dong Opa sedih kalau Princess ga mau bobo sama Oma sama Opa." Ucap Nadin di buat sesedih mungkin.
"No Oma, Opa ga boleh cedih. Ka cayang cama Opa" Jawab Kana.
"Kalau begitu ayok Kakak bobo sama Oma sama Opa biar Opa ga sedih." Bujuk Nadin kembali.
Kanaya di biasakan memanggil dirinya Kakak setelah Nayya dan Rama resmi menjadi suami istri. Karena kata Nadin agar Kanaya terbiasa saat adiknya nanti hadir.
"Momi, Ka bobo cama Opa cama Oma ya bial Opa ga cedih. Nanti kalo Opa cedih Ka juja cedih." Ucap Kanaya polos.
"Hmm... Begitu ya. Ya sudah kalau begitu. Ka jangan nakal ya bobo sama Oma sama Opa. Jangan lupa baca do'a sebelum bobo ya." Pesan Nayya yang pasrah Kanaya di bawa Mama Nadin.
__ADS_1
Akhirnya Kanaya pun keluar dengan di gendong oleh Nadin. Setelah Mama mertua dan anaknya keluar Rama pun segera mengunci pintu kamarnya. Kemudian menyusul Nayya ke atas tempat tidur.
Rama langsung memeluk Nayya tanpa babibu lagi. Menghujani Nayya dengan ci*mannya.
"Mas,, ampun aduh geli." Ucap Nayya tak bisa menghindar.
"Abis kamu gemesin banget sayang. Apalah jadinya Mas jika tadi Mama ga berhasil bujuk Kana." Ucap Rama.
"Mas yang minta Mama bawa Kana?" Tanya Nayya.
"Mana ada. Mas ga pegang ponsel dari tadi. Mama kan pengertian sayang. Tanpa di minta Mama akan melakukan yang terbaik untuk kita." Ucap Rama memuji Mama mertuanya.
"Hm... Baiklah." Jawab Nayya singkat.
"Baiklah..." Ucap Rama menggantung.
"Baiklah kita bobo sekarang." Ajak Nayya menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Sayang,,, mas mau." Rengek Rama sambil mengeratkan pelukannya pada Nayya.
"Memangnya Mas ga cape?" Tanya Nayya.
"Mana ada sayang. Yang ada mas bisa lemes kalau ga dapet jatah." Rengek Rama.
"Astaga! Tapi, bukannya selama dua tahun kemarin Mas bisa nahan?" Goda Nayya.
"Itu mah beda sayang. Sekarang ada kamu di samping Mas mana bisa Mas di cuekin." Ucap Rama dengan tangannya sudah menjelajah kedalam piyama Nayya.
Pagi hari terjadi keributan di luar yang berasal dari anak kecil yang mencari induknya. Namun, sang induk tak kunjung keluar dari kamar. Dengan bujukan maut dari sang Uncle akhirnya anak kecil itu pun sedikit lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
"Kakak belum bangun Mah?" Tanya Neta yang sudah besiap akan berangkat ke sekolah. Karena hari ini hari pertama ujian kenaikan kelas.
"Belum. Biarkan saja." Jawab Nadin.
"Memangnya Kak.Rama ga ke kantor?" Tanya Nadin lagi.
"Masih cuti sepertinya." Jawab Nadin sekenanya.
"Meraka jadi pergi bulan madu Nad?" Tanya Oma.
"Jadi Mah. Besok lusa mereka pergi." Jawab Nadin.
"Wealah, di rumah saja istrinya ga dibiarkan keluar dari kamar apalagi bulan madu nanti ya." Oceh Pakde yang tengah bersiap pergi ke rumah sakit. Karena Pakde merupakan perawat.
"Kamu kaya engga gitu aja Mas." Ucap Mba.Sus.
"Hus beda dong Dek." Jawab Pakde.
"Sama aja." Jawab Mba.Sus.
__ADS_1
"Kalian jadi pindahan hari ini?" Tanya Opa.
"Jadi Yah. Nanti sore sepulang Toni dari rumah sakit kita pamit ke rumah baru." Pamit Pakde pada semuanya.
"Yah. Bude ikut juga?" Tanya Neta polos.
"Iya dong Dek. Masa iya Pakde mu pindah Bude mu tetap tinggal di sini." Ucap Papa Angga.
"Ya boleh begitu kan?" Tanya Neta polos.
"Ngga boleh sayang. Nanti kalau Pakde piket malam Bude nginep di sini." Jawab Mba Sus.
"Nah, seperti itu lebih baik Sus." Ucap Oma lega.
Netanya pun berpamitan pergi ke sekolah dengan di antar oleh Angga. Karena Nathan harus mengurus Kanaya terlebih dahulu. Sampai di sekolah Yoga melihat mobil Angga terparkir di depan gerbang sekolah saat dirinya turun dari mobilnya di halaman parkir sekolah.
Yoga segera menghampiri mobil Angga. Angga pun menurunkan kaca mobilnya begitu melihat Yoga menghampiri mobilnya. Yoga meraih tangan Angga begitu Neta turun dari mobil Angga. Yoga mencium punggung tangan Angga hormat.
"Kenapa tidak menghubungi saya Om. Biar Neta bersama saya." Ucap Yoga.
"Tidak apa-apa sekali-kali Om antar Netanya. Tadi, keberulan Kana sedikit rewel jadi Nathan harus membujuknya dulu. Jika Neta menunggu Nathan akan kesiangan Neta masuk ujiannya" Jelas Angga.
"Owh! Iya Om. Biar nanti pulang Yoga yang antar Neta Om." Tawar Yoga.
"Begitu seharusnya. Sudah Om berangkat dulu titip Neta ya." Pamit Yoga.
"Iya Om hati-hati." Ucap Yoga.
"Dah Papa..." Ucap Neta melambaikan tangannya.
Sepeninggalannya mobil Angga. Yoga dan Netanya berjalan beriringan masuk kedalam halaman sekolah. Dan itu tak luput dari pandangan para siswa dan siswi yang mengidolakan Yoga.
"Neta ke kelas dulu Pak." Pamit Neta sopan.
"Iya silahkan. Baca do'a dulu sebelum mengerjakan soal." Pesan Yoga.
"Iya Pak." Ucap Neta kemudian mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Yoga hormat.
Neta pun berjalan menuju kelasnya seorang diri dengan Yoga yang masih memperhatikan Neta sampai manik matanya tak melihat punggung Neta. Sarah sahabat Neta pun langsung menghambur mendekati Neta.
"Kunet," Panggil Sarah saat Neta sudah di depan kelasnya.
"Kenapa Lu? Kesambet?" Tanya Neta polos.
"Lu nyembunyiin sesuatu dari gue?" Ucap Sarah.
"Apaan? Gak jelas Lu." Sanggah Netanya.
Bel pun berbunyi tanda ujian hari pertama akan segera di laksanakan. Sarah pun mengurungkan niatanya untuk bertanya mengenai hubungan Netanya dengan Pak.Yoga yang membuat Pak.Yoga mendekati mobil Papa Neta pagi tadi.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏