Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Ke Kontrakan


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Kini usia kandungan Nadin sudah menginjak bulan ke sembilan. Nadin sudah meminta persetujuan Angga untuk resign dari mengajarnya. Namun, Angga tak pernah tau kapan istrinya akan resign.


Beberapa bulan ini Angga sibuk mengurusi Hotelnya yang ada di Kota Jk. Sampai-sampai Angga sedikit mengabaikan anak dan istrinya. Nadin tampak murung. Tak pernah ada yang tau kemana Nadin pergi setiap harinya.


Mertuanya sibuk mengurusi Baby Rafa karena Amel sering pergi bersama teman-temannya. Tak jarang Ibu mertuanya menitipkan Baby Rafa pasa Nadin. Semua orang seolah fokus pada Baby Rafa. Bahkan Refa sering kali di titipkan di orang tua Arif.


Nadin yang tengah berbadan dua dan kehamilannya yang sudah semakin membesar merasa kurang perhatian bahkan nisa di katakan tak ada perhatian. Pagi hari Nadin sudah bangun dan merasakan perutnya yang sakit. Nadin meremas seprei menahan sakitnya.


💌Yang, sepertinya anak kita sudah mau keluar. Bisa pulang?


Nadin mengirim pesan pada Angga. Namun sepertinya Angga masih terlelap karena ini terlalu pagi untuk orang bangun. Nadin pun mengirimkan pesan kepada Mba.Sus.


💌Mba, siapkan semua perlengkapan anak-anak seperti yang sudah saya katakan kemarin. Jangan lupa perlengkapan Mba juga.


Tak lama Mba.Sus pun membalas pesan Nadin.


💌Baik Bu.

__ADS_1


Nadin mengeluarkan koper miliknya dan memasukan pakaian yang mungkin dia perlukan dan beberapa perlengkapan pribadinya. Setelah dirasa cukup Nadin meminta Mba.Sus membawa semuanya ke dalam mobil miliknya.


Pagi hari Nadin dan anak-anak sarapan seperti biasa hanya saja Nayya tak mengenakan seragamnya. Tak ada yang bertanya mengapa Nayya tak memakai seragamnya.


"Nad, besok datang rapat ya di pabrik. Sepertinya Gw ga bisa. Besok ada meeting." Pinta Arif. Dan Nadin hanya tersenyum menjawab permintaan Arif.


"Teh, nanti siang aku titip Refa ya." Pinta Amel.


"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Arif.


"Sebentar aja mau ketemu temen aku A."


"Ya ampun sebentar aja loh masa ga bisa sih. Ibu ada arisan nanti siang." Ucap Amel sedikit bernada tinggi. Nadin hanya menghela nafas.


Mba.Sus yang mendengarkan percakapan majikannya merasa sedih mendengarnya. Namun apalah daya dia hanya bisa terdiam. Dia tau Nadin tengah merasakan mules tapi dirinya mampu menutupinya.


Setelah sarapan semua irang pergi dengan urusan masing-masing. Dan Amel pun tetep pergi dengan seenaknya meninggalkan Rafa di rumah.

__ADS_1


"Mba, Maaf ya saya titip Rafa. Saya anak-anak dan Mba.Sus Nayya mau periksain kandungan saya." Titah Nadin pada Mba.Sus Refa dan Rafa. Tak lama setelah Nadin menitipkan pesan terdengar notifikasi pada ponselnya.


💌Periksakan saja dulu. Siapa tau belum saatnya biar Aku ga bolak-balik.


Nadin menarik nafas dalam setelah membaca pesan dari suaminya. Anak-anak nya tak ada yang bertanya sedikit pun pada Mamanya. Mereka hanya mengikuti jalan Mamanya.


"Bu, apa sebaiknya saya yang menyetir?" Tawar Mba.Sus.


"Tidak usah. Saya masih bisa Mba."


"Nanti kalian tunggu saja di kontrakan ya. Mama ke klinik dulu."


"Jangan Bu. Biar kita ikut ibu saja ke klinik nanti kita sama-sama ke kontrakan. Saya bisa jaga Non Nayya dan Den Nathan." Panik Mba.Sus.


"Baiklah."


"Ma, kita ga pulang ke rumah Oma?" Tanya Nayya pelan.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2