
Sepeninggalan dokter tersebut Bapa langsung bertanya pada Nadin.
"Yang tadi teh yang dibilang mama?"
"Hah! Bukan bapa. Klo itu mah suami orang dong judulnya."
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Tak lama berselang Nando, Ivan dan istri-istri mereka datang menjenguk mama.
"Mama... Gimana udah mendingan mah?"
"Alhamdulillah Van. Loh, Arif mana?"
"Arif nyusul mah."
Mereka pun berbincang. Mama tertidur ditengah perbincangan mereka. Karena efek obat yang di berikan.
"Bapa tidur disini semalam?"
"Ngga Nan, Bapa tidur di rumah di temani Doni."
"Nanti malam biar Nando, Ivan sama Arif temani bapa di rumah."
"Waaah... seneng dong Bapa banyak temen." Jawab Nadin.
"Makanya sering pulang dong Nad. Biar rumah rame." Balas Dina.
"Yaelah... gw ga balik juga kalian bolak-balik rumah terus ya kan Pa?"
Bapa hanya tersenyum saja. Mereka berempat pun pamit pulang kembali kerja. Di pintu keluar berpapasan dengan Arif,Amel,Kasih,Rian dan Angga.
"Wooiii kirain nyangkut dimana dulu."
"Kita ga satu mobil cuy jadi saling tunggu lah."
"Rif, nanti malam kita nungguin bapa di rumah."
"Siap. Lu mau pada kemana?"
"Balik ke pabrik dulu."
Mereka berlima pun menuju ruangan Mama Nadin di rawat. Sementara Nadin pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makan siang untuknya dan Bapa.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam." Jawab bapa.
"Loh, Pa. Ko bapa sendiri. Nadin kemana?" Tanya Arif.
"Nadin keluar beli makan buat bapa."
"Bapa belum makan?" Tanya Kasih.
__ADS_1
"Belum sempet."
"Owh! Iya kenalin nih Pa. Ini Amel calonnya Arif. Ini Rian calonnya Kasih dan yang ini Angga kakanya Amel sekaligus calon mantunya bapa." Kasih tersenyum di ujung ceritanya.
"Amel Om."
"Bapa aja seperti yang lainnya."
"Owh! Iya pa."
"Rian Pa."
"Angga Pa."
"Ini calon mantu bapa?"
"Insya Allah Pa." Jawab Angga.
Mendengar suara lebih ramai mama pun terbangun. Kasih melihat Mama bangun dan langsung menghampiri mama. Seperti yang dilakukannya kepada bapa Kasih memperkenalkan personil kepada Mama.
Mama tersenyum melihat Angga. "Anaknya ngga dibawa nak?"
Angga terkejut dan tersenyum mendengar pertanyaan mama.
"Mama tau dari mana?" Tanya kasih.
Mama tersenyum menjawab pertanyaan Kasih.
"Pa, makan dulu."
"Iya. Teh, ini yang mama maksud tadi pagi?"
"Apaan Pa?"
"Calon mantu bapa."
"Calon man...tu. Loh. Eh, aduh bapa ngomong apa sih?"
"Udah ga usah ngelak orangnya juga udah ngeiyain ko." Jawab Kasih.
Nadin hanya diam mendengar jawaban Kasih. Nadin duduk di samping bapa dan memakan makanannya sendiri tanpa menghiraukan yang lainnya.
"Teh, ko si Aa nya ga di tawarin sih?"
"Eh, harus ya?" Jawab Nadin sambil tersenyum.
"Lu mah emang kebiasaan makan sendiri ga pernah nawarin orang."
"Yee... kan gw laper dari kemaren belom makan."
"Eh, iya gitu?"
__ADS_1
"Lah, lu kan tau gw tidur dari sore mana ada gw makan."
"Lagian lu tidur apa pingsan sih ampe orang seRT nyariin lu?"
"Mati kali gw."
"Hus teteh klo ngomong jangan sembarangan."
"Nah loh. Marahin aja tuh mah ngeyel klo di bilangin." Jawab Kasih.
Nadin melanjutkan makannya dengan acuh yang lain pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalian berantem Ka?" Tanya Amel pada Angga.
"Ngga."
"Ko kalian diem-dieman sih."
"Ntar kalo kita peluk-pelukan ga boleh lagi." Jawab Nadin santai.
"Itu mah lu modus." Jawab kasih.
Nadin menjulurkan lidahnya pada Kasih. Ketika semua tengah berbincang seorang suster masuk kedalam memanggil Nadin. Nadin pun segera beranjak dan keluar ruangan.
Suster menjelaskan hasil lab mama. Dan ternyata hasilnya bagus. Mungkin mama hanya kelelahan atau ada sesuatu yang difikirkan terlalu keras. Dan mama pun di perbolehkan pulang sore ini.
Nadin langsung ke ruang administrasi untuk melakukan pembayaran rumah sakit namun betapa terkejutnya Nadin karena tidak ada tagihan untuknya.
"Dek, kedepan sekarang. Teteh di depan ruang administrasi." Ujar Nadin dalam panggilan telfon.
Indah segera datang menemui sang Kaka. "Kenapa Teh?"
"Adek udah bayar tagihan mama?"
"Belum."
"Tapi ini udah terbayar."
"Saya Teh yang sudah membayar. Tadi saya diberi kabar dokter yang memeriksa mama. Mama sudah boleh pulang."
"Ya Allah Doni. Terima kasih ya."
"Sama-sama teh. Jangan canggung gitu ah kaya sama siapa aja sih teh."
Nadin memeluk Indah dan Doni bersamaan. Nadin memang terlihat cengeng jika itu perkara keluarganya. Mereka bertiga ke berjalan keruangan mama bersamaan.
Sampai disini dulu.
Terima kasih semuanya jangan lupa like dan koment ya biar author tambah semngat lagi.
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1