Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Sakit


__ADS_3

"Selamat pagi Ma."


"Hei,, selamat pagi cantik.."


"Mama kerja?"


"Mama persiapan buat mengajar pagi ini sayang."


"Mama pergi pagi?"


"Iya sayang. Maaf ya. Mama harus mengajar pagi ini siangnya mama harus jenguk kaka perawat yang lagi praktikum. Jadi mungkin mama pulang sore. Ngga apa-apa kan?"


"Ngga apa-apa mah. Tapi, nanti malam Nayya bobo sama mama lagi yah."


"Boleh sayang."


Mereka saling berpelukan. Nadin membantu Nayya mandi dan mengenakan baju. Setelah semua siap keduanya keluar dari kamar.


"Waaah,, cucu opa sudah cantik."


"Iya dong opa. Mama bantu Nayya siap-siap."


"Owh! Baiklah."


"Hei,, ayo sarapan." Ajak ibu dari meja makan.


Nadin, Nayya dan Ayah pun menuju meja makan.


"Oma, papa mana?"


"Loh, Angga belum turun ya?"


"Bi, den.Angga belum turun?"


"Belum bu."


"Nad, ibu minta tolong yah liatin Angga."


"Selamat pagi semuanya..." Ucap Amel.


"Pagi.." Jawab semuanya.


Nadin pun pergi ke atas mengecek Angga di kamar. Sebenarnya Nadin merasa kurang nyaman untuk pergi ke kamar Angga namun permintaan Ibu tak bisa di bantah.


Nadin mengetuk pintu kamar Angga dan memanggil Angga perlahan. Namun tak ada jawaban dari dalam kamar. Kamar seperti tak berpenghuni. Nadin mencoba membuka pintu perlahan.


"Ka," Namun tak ada jawaban lagi. Matahari sudah menembus kedalam kamar melalui celah jendela. Dilihatnya Angga masih tertidur tanpa gerakan. Nadin fikir Angga masih tidur pulas. Dengan ragu Nadin duduk di samping tempat tidur untuk membangunkan Angga.


"Ka," Betapa terkejutnya Nadin ketika memegang tangan Angga. Tangan Angga begitu panas. Nadin meraba dahi Angga dan terasa panas.


"Masya Allah, kaka demam?"


"Nadin."


"Iya ka."


"Minum."

__ADS_1


"Sebentar Ka Nadin bawa dulu."


Nadin berlari kebawah menuju dapur.


"Ada apa Nad?"


"Kaka demam bu."


"Apa." Jawab Ibu, Ayah dan Amel bersamaan.


Ibu pun dengan tergesa menelfon dokter keluarga memintanya untuk segera datang kerumah. Nadin meminta bibi membuatkan bubur untuk Angga. Nadin segera kembali ke kamar Angga membawakan air minum dan kompres.


"Ka, ini minum dulu."


Angga bergerak sedikit di bantu Nadin dan meminum air yang diberikan Nadin. Nadin mengompres kening Angga.


"Makasih ya sayang."


"Udah kaka istirahat dulu aja jangan banyak ngomong yah."


Tak butuh waktu lama dokter keluarga pun datang. Ibu dan Ayah menemani dokter ke kamar Angga.


"Selamat pagi."


"Pagi. Eh, dokter Alan."


"Waaah, sudah ada perawat profesional rupanya. Pasti cepet sembuh nih."


"Saya hanya perawat dok. Bukan dokter."


"Baiklah selalu itu jawabannya ya Nad."


"Sangat kenal Pa. Dulu dia praktek di Klinik saya."


"Masya Allah dari dulu kamu sudah du dekatkan dengan kita Nad."


"Allah belum menghendaki Yah."


"Betul kamu Nad." Jawab Ibu.


Dokter pun memeriksa Angga secara seksama. Setelah itu memberikan resep obat kepada Nadin.


"Terima kasih dokter. Nanti saya ambil obatnya di apotik."


"Saya yakin obatnya nyampe sini sebelum kamu pergi."


"Ko bisa begitu dok?" Tanya Ibu.


"Calon menantu anda bekerja cepat bu."


"Nad punya teman apoteker Bu. Dia akan minta pekerjanya mengantarkan obat kesini."


"Begitu rupanya. Tidak salah dong dok saya memilih menantu?"


"Tepat."


"Terima kasih dokter. Sehat selalu ya dok."

__ADS_1


"Amin. Terima kasih juga. Mari saya permisi. Lekas sembuh ya Nak.Angga."


Angga hanya mengangguk. Nadin mengirimkan foto resep pada temannya dan meminta di kirim ke alamat yang Nadin kirim. Dan tak lama berselang pengantar obatpun datang saat Nadin menyuapi Angga bubur. Nayya memijat kaki Angga. Bibi mengantarkan obat ke kamar Angga.


"Terima kasih Bi."


"Sama-sama neng."


Setelah bubur habis Nadin menyodorkan obat kepada Angga. Angga pun meminum obat yang diberikan Nadin.


"Sayang, pergilah. Ini sudah terlalu siang."


"Ga apa-apa ka Nad tinggal kerja?"


"Ngga apa-apa sayang. Sementara kamu kerja kaka istirahat."


"Iya ma. Mama kerja aja kan ada Nayya yanv jagain Papa."


"Makasih ya cantik. Mama kerja dulu yah."


Dengan berat hati Nadin pun pergi kerja sendiri. Ibu menenangkan Nadin agar tidak terlalu kepikiran Angga. Agar Nadin fokus mengajar. Namun Nadin tetap saja merasa bersalah karena harus meninggalkan Angga yang tengah sakit.


Sampai di kampus Nadin langsung menuju kelas karena sudah telat sepuluh menitan. Nadin tampak fokus bekerja walaupun fikirannya tetap pada Angga.


Siang hari sebelum ke lapangan untuk ngecek mahasiswa praktik lapangan Nadin menyempatkan pulang untuk mengecek keadaan Angga.


"Sayang, kamu pulang?"


"Aku ga tenang ka."


"Sayang, kaka hanya demam. Kaka juga udah baikan ko."


"Yakin."


"Yakin sayang. Siapa dulu perawatnya."


"Beneran nih?"


"Beneran. Sini coba."


Angga meminta Nadin untuk mendekatinya. Nadin oun mendekat kearah Angga dan duduk di samping tempat tidur. Angga bangkit dan duduk menghadap Nadin.


"Ga apa-apa kan?"


Nadin memegang kening Angga dan dirasa sudah tidak panas lagi. "Tapi, kaka harus tetep istirahat loh."


"Iya sayang."


Tak tahan melihat kepanikan Nadin Angga pun memeluk Nadin. Nadin tersentak namun tak ada penolakan dari ya. Nadin membalas pelukan Angga.


"Nyaman yah." Goda Angga.


"Iiih,,, Kaka." Ucap Nadin sambil melepaskan pelukan Angga.


"Eh, ko merah pipinya."


"Kakaaaa aaah...." Nadin pun menutup mukanya malu.

__ADS_1


Sampai disini dulu ya. Jangan lupa like dan komentnya ya. Yang punya koin boleh dong bagi tip'snya. Terima kasih... 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2