Mama Untuk Anakku

Mama Untuk Anakku
Sadar


__ADS_3

Sampai di kota C. Supir menjalankan mobilnya ke arah RS.A. Angga tak terlalu memperhatikan jalanan karena sibuk mengirim email laporan kepada Iwan. Begitu mobil berhenti betapa Angga heran kenapa supir membawanya ke rumah sakit.


"Ada apa Pak? Kenapa ke sini?"


"Sebentar Pak. Saya hubungi seseorang dulu."


Angga menunggu supir menghubungi seseorang yang Angga tak tau siapa. Angga hanya menunggu dan merapihkan bawaannya. Supir pun turun dan membukakan pintu untuk Angga.


"Silahkan Pak. Anda sudah di tunggu."


"Ini ada apa sih?"


"Ga,"


"Hei Bro. Ko Lu ada disini?" Tanya Angga pada Aldo.


"Lu tenang dulu ya. Sabar."


"Apaan sih Lu?"


"Lu ikut aja dulu."


Angga pun mengikuti langkah Aldo. Angga coba menghubungi Nadin namun betapa terkejutnya Angga ketika nomer yang dia hubungi berbunyi di saku Aldo. Seketika Angga menghentikan langkahnya. Angga menatap dalam Aldo.


"Nanti gw jelasin. Lu ikut aja dulu." Aldi mengerti apa yang dimaksud Angga.


Angga pun mengikuti langkah Aldo kembali dengan sedikit menahan kesal. Dari kejauhan Angga melihat orang tuanya dan orang tua Nadin berkumpul. Seketika Angga merasa lemas. Dengan menggunakan sisa tenaganya Angga menghampiri Ayahnya.


"Ada apa Yah?"


Ayah tak menjawab hanya memeluk Angga dan menangis. Angga semakin kesal ada apa sebenarnya.


"Ada apa ini?" Ucap Angga dengan emosi.


"Nadin tertabrak Ga." Jawab Aldo sedikit terbata.

__ADS_1


"Apa? Dimana istriku?"


"Di dalam di temani Santi."


Angga langsung masuk kedalam ruangan Nadin. Santi yang melihat Angga datang langsung bangkit dari duduknya. Angga duduk di kursi yang tadi diduduki Santi. Santi memegang bahu Angga menguatkan.


Ibu dan Mama hanya bisa menangis dan saling berpelukan. Ayah dan Bapak duduk termenung. Sementara Kasih sudah mampu lebih tenang. Kasih meminta pada Rian untuk diantar ke ruangan Nadin. Dengan segala bujukan Rian Kasih tetap bersikukuh ingin keruangan Nadin.


Rian mengantarkan Kasih keruangan Nadin. Kasih melihat betapa banyak orang yang dia sayangi tengah menunggui Nadin. Rian mendorong kursi roda Kasih masuk ke dalam ruangan Nadin.


"Ka,,"


Angga menoleh ke arah sumber suara. Pandangannya begitu datar dengan air mata yang berurai.


"Maafin Kasih Ka. Sungguh Kasih tak sengaja membuat Nadin marah."


"Apa maksudmu?"


"Nadin marah karena Kasih tegur. Kasih ngga tau kalo Nad akan berlari ke luar Ka. Kasih fikir Nad akan pergi ke parkiran mobil."


Kasih pun kembali menangis. Rian memeluknya untuk menenangkan. Setelah itu Rian mendekati Angga.


"Maaf ya Ga. Kita tak pernah tau akan terjadi seperti ini."


Angga hanya mengangguk dan terus menggenggam tangan Nadin. Kasih dan Rian duduk di sofa dan Kasih pun tertidur di pelukan Rian. Angga pun tertidur sambil menggenggam lengan Nadin. Aldo dan santi di ruangan sebelahnya bersama Ayah, Bapa, Ibu dan Mama. Amel dan Arif kebagian menjaga Nayya di rumah.


Saat suasana hening tiba-tiba terdengar suara tangisan. Santi terbangun dan langsung memeluk erat Aldo.


"Kenapa?"


"Ada yang nangis yang."


"Iya, Siapa?"


"Nadin."

__ADS_1


Aldo dan Santi mendekati tempat tidur Nadin. Dan dilihatnya Nadin tengah menangis. Aldo membangunkan Angga. Angga langsung terperanjat mendengar tangisan istrinya. Semua pun terbangun.


"Sayaaaang,,, sssstttt... Sayang,,, ini Kaka sayang."


Nadin membuka matanya dan dilihatnya suami tercintanya Nadin pun langsung menghambur kepelukan Angga dan menangis. Angga mengusap kepala dan punggung Nadin menenangkan.


"Udah jangan nangis lagi Kaka pulang nih."


"Jangan pergi lagi."


"Ngga. Kaka disini ko."


Saat Nadin membuka matanya betapa Nadin terkejut karena banyak orang di ruangan tersebut.


"Ko kalian ada disini?"


"Nad, Maafin gw ya." Ucap Kasih mendekati Nadin.


"Kok minta maaf?" Tanya Nadin.


"Sudahlah Kas. Ini hanya kecelakaan saja. Semua sudah baik-baik saja. Kita keluarga tidak perlu saling menyalahkan."


"Iya Ka. sekali lagi Kas minta maaf ya Nad."


"Iyaaa..." Mereka berdua pun berpelukan bersama."


Ibu, Mama, Ayah dan Bapak kembali bernafas lega karena Nadin sudah mampu sadar dari pingsannya.


"Mama sama Bapak kapan datang?"


"Tadi siang. Teteh harus hati-hati ya. Jangan suka mengambil keputusan disaat emosi." Jawab Bapa.


Nadin terlihat bingung tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Nadi pun tak tau kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit. Tak ada yang bisa menjelaskannya semua hanya tertawa yang mengaharu biru.


Tbc.....

__ADS_1


__ADS_2