
Hari yang dinanti pun tiba. Nayya sudah di rias oleh MUA kenamaan yang di sewa oleh keluarga Bagaskara. Begitu juga dengan Nadin, Netanya dan yang lainnya. Nathan dan Rika terus membujuk Kanaya agar mau di dandani. Dengan riasan khusus untuk anak-anak tentunya.
Rika tampak memangku Kanaya agar Kanaya mau di rias. Dan tentu saja Rika pun telah usai di rias. Nathan begitu mengagumi Rika dengan Riasan tipis namun tetap terlihat kecantikannya.
Semua keluarga telah berkumpul. Para tamu undangan akad pun satu persatu berdatangan. Rombongan keluarga Rama sudah dalam perjalanan. Nayya pun sudah usai di rias.
"Kak, rombongan pengantin sudah sampai mana?" Tanya Refa pada Rika.
"Coba tanya Mas.Nathan Dek." Jawab Rika.
Belum Refa menemui Nathan. Tim WO memberi kabar jika rombongan pengantin pria sudah datang.
"Sayang," Panggil Agiel pada Refa.
"Ya." Jawab Refa.
"Ayo. Kita ke depan." Ajak Agiel pada Refa.
"Ri, Mas mana?" Tanya Agiel lagi.
"Lagi ke toilet A." Jawab Rika.
Rika tengah menunggu Nathan sambil menggendong Kanaya. Karena hanya pada tiga orang Kanaya mau. Bahkan kepada Keluarga Rama sama sekali Kanaya tak mau ikut.
Acara sudah mulai di laksanakan Rika dan Nathan berjalan beriringan dengan Kanaya dalam gendongan Nathan. Mereka sudah seperti keluarga kecil bahagia. Jika orang sepintas lihat.
Seperti yang sudah di putuskan oleh Angga dan Nadin. Yoga datang dengan menggunkan seragam seperti Nathan. Yoga pun duduk berdampingan dengan Neta. Neta bersikap acuh tatkala Yoga datang menghampirinya.
Neta hanya berfikir karena Yoga anak dari teman Angga maka dari itu Yoga di minta Angga untuk menghadiri acara pernikahan Nayya dan Rama. Yoga pun tak mengetahui jika Rama merupakan saudara sepupu dari Dama sahabat Nayya yang merupakan masa lalu Yoga.
Nathan duduk di depan Yoga dan Neta bersama dengan Kanaya di pangkuannya. Yoga pun menyapa Kanaya. Kana berdiri di pangkuan Nathan dan melihat ke arah Yoga dan Neta. Ada sepasang mata yang terus memperhatikan interaksi mereka.
"Prayoga." Ucap lirih Dama.
"Apa?" Tanya Ibu dari Dama. Karena ibunya mengira Dama berbicara padanya.
__ADS_1
"Hah! Tidak Bu." Jawab Dama.
Dama menatap sendu kearah Yoga sementara Yoga tak menyadarinya. Yoga dan Neta sesekali berbincang.
SAH....
Kata Sah sudah menggema saatnya pengantin wanita keluar. Nayya di dampingi oleh Amel dan Indah keluar menuju tempat di laksanakannya akad. Sesampainya di dekat Rama Nayya mencium punggung tangan Rama dan Rama mencium kening Nayya lembut.
Acara pun di lanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua. Keharuan pun tak terbendung lagi. Neta memberikan tisu kepada Nayya dan Nadin untuk mengusap air matanya. Setelah keharuan setelah sungkeman. Nayya dan Rama pun menyapa para tamu undangan yang datang.
Berfoto bersama para undangan dan keluarga. Saat foto keluarga Yoga pun di ajak untuk berfoto oleh Angga. Dan saat itulah Yoga melihat kehadiran Dama. Yoga lupa jika Dama adalah sahabat karib Nayya sudah pasti dirinya hadir itu yang ada dalam benaknya.
Yoga pun bersikap biasa saja. Neta yang perlu dia jaga fikirnya. Dia tak ingin ada kesalah fahaman antara dirinya dan Neta. Yoga ingin nenjaga hubungan baiknya bersama Neta sebelum dirinya menyatakan keinginannya sampai Neta lulus sekolah menengah atas.
"Sudah lihat Dama?" Bisik Nayya saat Yoga menyalaminya.
"Ya." Jawab Yoga singkat.
"Lalu?" Tanya Nayya lagi.
"Momi... Momi...." Tangis Kana pun pecah mengingat Mominya.
"Sayang, jangan nangis dong kan ada Onty di sini. Kana mau makan?" Ucap Rika lembut menenangkan Kanaya.
"No, Kana mau Momi..." Ucap Kana di sela tangisnya.
"Kenapa princess kesayangan Uncle Hm..." Tanya Nathan lembut yang datang menghampiri keduanya begitu terdengar tangisan Kana.
Kana pun berpindah pada gendongan Nathan. Memeluk Natham erat. Dan Nathan mengusap lembut punggung Kana untuk menenangkannya. Mungkin Kana merinduka. Nayya karena sejak pagi Kana tak di perlihatkan kepada Nayya. Saat sesi foto pun Kana tak menyadari jika pengantin itu Nayya.
"Hai, cantik. Mau gendong Onty?" Ajak Dama.
"No." Jawab Kana dan semakin mengeratkan pelukannya pada Nathan.
"Maaf Ka. Kana tidak bisa ikut sama siapapun." Ucap Rika lembut.
__ADS_1
"Wah, repot dong Mas.Nath harus momong Kanaya terus?" Ucap Dama.
"Ngga juga Ka. Ada Rika dan Papa yang bisa bergantian." Ucap Nathan.
"Hmm... Kana kok nakal sih. Kasihan dong Uncle nya. Yuk ikut Onty yuk.." Paksa Dama.
Dan tangisan Kana pun pecah semakin kencang karena tarikan dari Dama. Karena Nathan tidak mengetahui jika Dama akan menarik Kana Nathan pun kecolongan Kana tertarik dari gendongannya. Begitupun dengan Kana yang tak sigap memeluk Nathan hingga terlepas dari gendongan Nathan.
"Ada apa ini?" Tanya Angga mendekat karena tangisan Kanaya.
Kanaya seperti memiliki rasa trauma saat ada yang menariknya dengan paksa. Tangisnya bagai tersakiti. Dama melakukan itu karena Dama merasa cemburu kepada adik-adik Nayya yang bisa dekat dengan mudah dengan keponakannya itu sementara dirinya begith sulit mendekati keponakannya sendiri. Di tambah lagi Yoga pria di masa lalunya berada di tengah-tengah keluarga Nayya.
"Maaf Pah, Kak.Dama memaksa menggendong Kana." Ucap Nathan.
Tanpa banyak bicara Angga pun mengambil alih Kanaya dari gendongan Dama. Kemudian Angga membawa Kanaya ke luar. Ke tempat sepi dari orang-orang untuk menenangkan cucunya. Angga tak ingin memulai keributan dengan kelaurga besan.
"Maaf ya Kak. Bukannya ga boleh Kakak menggendong Kanaya. Dia memang keponakan Kakak juga. Tapi, seperti yang sudah Rika jelaskan tadi. Kanaya hanya mau berpindah pada Papa, Mas.Nathan dan Rika." Jelas Rika lembut.
"Maaf ya Dama. Tante saja sebagai neneknya tak bisa membujuk Kanaya. Oleh karena itu, Kami harus bisa pasrah menyerahkan hak asuh kepada Nayya dan keluarga. Kami tak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali karena terlalu memaksakan kehendak kami." Jelas Mama Rama panjang kali lebar luas keliling.
"Maafkan Dama Tante. Dama merasa cemburu kepada Rika yang bisa dekat dengan Kanaya sementara Dama tantenya ngga bisa." Ucap Dama berbohong.
"Maaf ya Ka. Rika juga tidak tau kenapa." Ucap Rika.
"Kenapa sayang." Tanya Rian yang datang mengahampiri anak dan calon menantunya.
"Ga apa-apa Yah hanya salah Faham." Jawab Nathan.
"Owh! Tuhan. Kenapa Kau kirimkan malaikat di hadapanku." Batin Dama mengagumi Rian.
Nathan menangkap gelagat aneh dari Dama. Pandangannya beralih kepada Rian. Namun, Rian hanya fokus kepada Rika buah hatinya.
"Mari sayang, Om. Sudah tidak perlu di bahas lagi. Mari kita cari Bunda untuk berfoto." Ajak Nathan.
"Sial! Kenapa Nathan bawa malaikat Ku." Batin Dama menatap sinis Nathan.
__ADS_1
Sampai disini dulu ya semuanya. Jangan lupa like dan komennya ya, vote juga boleh kok 😊. Terima Kasih 🙏🙏🙏