
Binar terbangun saat alarm menunjukkan pukul lima pagi. Dengan malas-malasan, dia membuka mata sambil meraba sosok di samping yang telah memeluk dirinya semalam suntuk. Gadis itu langsung terduduk ketika dia melihat sosok itu tak ada di atas ranjang. “Rain?” panggil gadis itu pelan.
Binar mengucek mata, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Namun, hanya ada dirinya di dalam kamar. Sedangkan, Arsenio tak ada di sana. Buru-buru Binar turun dari ranjang dan membuka lemari. Dia bisa bernapas lega ketika melihat barang-barang Arsenio masih ada di sana.
“Rain?” Kini Binar melangkah keluar dari kamar dan mencari di setiap ruangan apartemen. Akan tetapi, sosok yang dia cari ternyata tak ada di mana-mana. Gadis itu mulai resah, tak dipedulikan dirinya yang masih memakai piyama.
Binar bermaksud untuk mencari Arsenio hingga ke luar apartemen. Namun, baru saja dirinya membuka pintu, yang dia cari sudah berdiri di hadapannya. “Rain! Dari mana saja kamu?” tanya Binar khawatir. Dilihatnya wajah tampan sang kekasih yang penuh oleh keringat. Rambut coklatnya bahkan tampak basah.
“Biasa. Aku habis lari pagi." Arsenio meringis kecil sambil berjalan masuk ke dalam. Tanpa canggung, dia melepas t-shirt tipis yang juga telah basah dan hanya menyisakan celana training berwarna abu-abu serta sneakers yang sama dia lepas di depan Binar. Tak lupa, dia mencium lembut bibir Binar untuk beberapa saat lamanya.
“Jogging kok pagi sekali? Kamu pasti sudah keluar dari sebelum pukul lima,” selidik Binar sesaat setelah melepaskan ciumannya.
“Lebih pagi, lebih bagus, Sayang. Jalanan masih sepi. Kualitas udara juga masih bersih,” jawab Arsenio. “Oh, ya, kamu barusan mau ke mana?” Arsenio balik bertanya.
“Mau mencari kamu. Aku panik waktu kamu tidak ada di kamar,” sahut Binar seraya menunduk dalam-dalam dan melewati Arsenio begitu saja. Dia berniat menuju dapur untuk membuatkan kekasihnya kopi.
“Kamu takut aku pergi, ya?” Arsenio mengikuti langkah Binar kemudian memeluknya dari belakang. Bibirnya juga nakal menyusuri leher jenjang dan telinga gadis itu. “Tenang saja, Sayang. Kalaupun aku pergi, aku pasti akan mengajakmu serta,” hibur Arsenio. Dia terus saja memeluk Binar dari belakang, mengikuti ke mana saja gerak gadis itu sampai-sampai Binar merasa risih.
“Rain, lepaskan. Aku jadi tidak bisa menyeduh kopi untukmu.” Binar mendorong mundur tubuh jangkung nan atletis itu agar menjauh darinya. Akan tetapi, Arsenio masih bergeming dan malah tertawa.
“Rain!” pekik Binar tertahan seraya mencubit pinggang Arsenio.
“Oke. Oke." Arsenio mengalah, lalu memilih untuk duduk menunggu kopi yang sedang Binar seduh untuknya di kursi makan. Mata coklat terang pria itu terus memperhatikan setiap gerak-gerik Binar, sekecil apapun itu. Tanpa sadar, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Begitu damainya pagi itu, terasa jauh berbeda dibandingkan saat dirinya masih sendiri di apartemen mewah yang memiliki ukuran luas berkali-kali lipat lebih besar. Kala itu, Arsenio kerap merasakan kesepian dan juga hampa.
“Omong-omong tentang pergi, aku ingin mengajakmu nanti setelah sarapan,” ucap Arsenio.
__ADS_1
“Ke mana?” Binar yang telah selesai menyeduh kopi dalam cangkir, segera meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan sang kekasih.
“Kantor imigrasi. Aku ingin membuatkan paspor untukmu. Semua surat-surat penting dan berkas-berkas kartu identitas kamu lengkap, ‘kan?” tanya Arsenio sembari menyeruput kopinya.
“Lengkap. Aku sengaja membawa semua waktu pergi dari rumah,” jawab Binar. Dia sendiri tengah menyesap teh hijau yang dirinya temukan di dalam lemari kabinet.
“Baguslah, kalau begitu. Nanti sambil menunggu paspor selesai, kita jenguk adik-adikmu dulu. Bagaimana?” tawar Arsenio.
Mata indah Binar membulat mendengarkan Arsenio menyebutkan kata ‘adik’. “Benarkah, Rain?” tanyanya memastikan.
“Iya. Kamu masih ingat ‘kan kalau aku sempat berkomunikasi dengan Praya? Dia sempat memberikan alamat yang terbaru dan aku masih menyimpannya,” jelas Arsenio.
Binar terdiam untuk beberapa saat. Tak berapa lama, dia berdiri dan menghambur ke arah Arsenio. Binar tak lagi malu saat duduk dengan seenaknya di atas pangkuan pria blasteran Belanda itu sembari memeluk dia erat-erat. “Terima kasih,” ucapnya lirih.
“Apa itu artinya?” Binar buru-buru melepaskan pelukan sambil menautkan alis.
“Rahasia.” Arsenio tersenyum lebar. Dia menurunkan Binar dari pangkuannya, lalu beranjak dari kursi. “Mulai hari ini, aku yang akan memasak sarapan untukmu. Berhubung kita harus berhemat, jadi sepertinya aku tidak bisa memesan makanan di luar,” ujarnya.
“Biar aku yang memasak. Kemarin sore aku sempat berbelanja di Hypermart lantai bawah. Aku membeli telur, kentang beku, jagung manis, dan brokoli.” Binar membuka pintu kulkas lebar-lebar, lalu mengeluarkan semua bahan makanan yang ada.
“Oke, baik. Sekarang nona Binar duduklah. Aku yang memasak.” Arsenio mendorong mundur tubuh Binar hingga gadis itu kembali terduduk di kursi.
“Tunggu, aku ....”
“Stop!” Arsenio segera mengungkung Binar sehingga gadis itu tak bisa ke mana-mana. “Jangan membantah. Aku yang bertugas menyediakan makanan untukmu,” desisnya. “Selama bersamaku, nona Binar tidak boleh sengsara.” Arsenio mengedipkan sebelah mata, lalu berbalik ke meja dapur.
__ADS_1
Dengan lihai, pria rupawan itu mengolah telur dan sayuran yang tersedia menjadi hidangan sarapan yang lezat. Binar seolah tak percaya melihat kemampuan memasak Arsenio.
“Memasak itu juga seni, Sayang. Sama halnya dengan bisnis.” Arsenio mengecup pangkal hidung Binar, kemudian menyodorkan sepiring hasil masakannya pada sang kekasih. “Ayo, cicipi,” suruhnya. Dia sendiri sudah menyendok satu suapan pertama
Binar ragu-ragu memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut. Dia mengunyah pelan-pelan dan terbelalak. “Ini enak!” serunya. Persis seperti anak kecil yang baru saja menikmati es krim pertamanya.
“Ayo, habiskan, Setelah ini kuajak kamu ke kantor imigrasi,” ujar Arsenio sambil terus memperhatikan Binar yang lahap menyantap sarapannya. Pria rupawan tadi tersenyum samar. Saat itu, angannya tanpa sadar mengingat tengah malam tadi tatkala dia menelepon Chand saat Binar terlelap dan meminta izin untuk menginap sementara di apartemen Prajna.
“Aku sudah mendengar semuanya, Sen. Kemarin sore, Wini datang dan bercerita padaku,” begitu kata Chand.
“Tampaknya om Biantara tak main-main. Dia benar-benar berniat membuatmu sengsara. Om Lievin sendiri memilih untuk angkat tangan dan tidak bersedia membantumu,” ujar Chand lagi.
“Aku sudah tidak peduli, Chand. Aku akan membawa Binar pergi jauh dari sini.” Arsenio menutup pembicaraannya. Akibat percakapan itulah, dia tak bisa tidur sama sekali.
“Kenapa malah melamun? Ayo, habiskan sarapannya.” sentuhan lembut Binar di punggung tangannya, seketika membuyarkan lamunan Arsenio.
“Ah, iya.” Pria itu tergagap, kemudian melanjutkan sarapan.
Beberapa saat berlalu, dua sejoli itu sudah terlihat rapi. Mereka melangkah keluar dari apartemen. Sesuai rencana, Arsenio akan mendampingi Binar untuk membuat paspor.
Tak sampai satu jam, segala persyaratan dan berkas sudah terpenuhi. Tinggal menunggu waktu sampai paspor Binar jadi serta siap digunakan.
“Setelah ini, kita ke mana?” tanya Binar begitu mereka selesai di kantor imigrasi.
“Membeli tiket bis untuk menemui Wisnu dan Praya,” jawab Arsenio tanpa ragu.
__ADS_1