
"Owalah, semuanya berawal dari hanya kenalan. Lama-lama nanti makin saling mengenal," ujar Prapti seraya tertawa.
"Tante bisa saja," sahut Chand yang tak terlalu serius dalam menanggapi candaan wanita itu.
"Eh, tumben kamu tidak minta ikan gurame. Biasanya suka pesan gurame bakar tiap kali makan di sini," ucap Prapti lagi seraya menepuk pelan lengan Chand.
"Tidak, Tante. Kasihan Nirmala sudah kelaparan. Terlalu lama kalau harus menunggu ikan gurame. Kecuali, jika dia mau nambah nasi satu bakul lagi," goda Chand seraya menoleh kepada Binar yang tengah asyik menyantap cumi dengan ukuran cukup besar. Binar pun hampir tersedak karenanya. Gadis itu segera menggeleng, sebagai tanda penolakan atas tawaran pria tampan yang saat itu tersenyum lebar padanya.
"Chand dari dulu memang suka bercanda. Anak gadis mana bisa makan sebanyak itu, tapi kalau mau ya ndak apa-apa. Nanti Tante pilihkan," ujar wanita paruh baya tadi dengan sikapnya yang benar-benar hangat.
"Boleh lah, kalau begitu," balas Chand. Dia lalu mengangkat dua jari, sebagai tanda bahwa dirinya memesan dua ekor ikan gurame bakar.
"Baiklah. Silakan lanjutkan makannya. Tante permisi dulu, ya," pamit Prapti. Sebelum beranjak dari sana, dia sempat menyentuh lengan Binar hingga gadis itu menghentikan aktivitas makannya sejenak. Binar pun kemudian menoleh. Gadis itu tersenyum seraya menatap Prapti yang juga tersenyum lembut padanya. Namun, nyatanya dia masih saja terdiam bahkan hingga Prapti sudah berlalu dari hadapan dirinya dan Chand.
"Kenapa?" tanya Chand heran.
"Tidak apa-apa. Saya hanya merasa lucu saja, ternyata di luar sana masih banyak orang yang baik dan ramah seperti tante tadi. Sama halnya dengan bu Irma," jawab Binar dengan polos.
"Siapa bu Irma?" tanya Chand lagi.
"Bu Irma? Dia ...." Binar pun menceritakan awal pertemuannya dengan ibunda Nastiti tersebut. Binar bahkan bercerita tentang ponselnya yang terjatuh saat hendak turun dari kereta. "Saya merasa bersyukur karena Tuhan begitu baik. Dia mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik pula. Salah satunya adalah Anda, Pak," ucap Binar malu-malu. Untuk menutupi perasaan malu itu, dia mengambil tempe goreng yang masih tersisa, kemudian segera memakan dan mengunyahnya dengan cepat.
Chand menggaruk kening perlahan, sebelum kembali menyantap makanan di dalam piring yang ada di hadapannya. "Kalau boleh aku tahu, berapa usiamu sekarang?" tanyanya setelah beberapa saat saling terdiam.
"Dua puluh tahun," jawab Binar. Dia segera minum karena tenggorokannya terasa penuh.
"Kamu masih sangat muda. Memangnya tidak melanjutkan kuliah?" tanya Chand lagi.
Binar segera menggeleng. "Tidak, Pak. Saya harus bekerja. Lagi pula, saya punya dua orang adik yang masih sekolah dan membutuhkan biaya besar. Jadi ...." Binar tak melanjutkan kata-katanya, karena saat itu terdengar suara dering ponsel milik Chand.
Pria tampan dengan wajah khas perpaduan India itu pun mengalihkan perhatian pada ponsel yang dia letakkan di atas meja. Chand segera memeriksanya. Nama Arsenio tertera jelas pada layar ponsel mahal milik pria itu. "Sebentar," ucapnya sebelum menjawab panggilan tersebut. Dia lalu beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Binar seorang diri di dalam gubuk.
Tak ada hal lain yang Binar lakukan, selain kembali menyantap sisa makanan di dalam piring. Entah kapan terakhir kali dia dapat makan seenak itu. Sementara Chand berdiri tak seberapa jauh dari gubuk. Posturnya yang tegap dalam balutan t-shirt pendek berpadu celana jeans, tampak begitu sedap dilihat. Binar pun bahkan sesekali mencuri-curi pandang terhadapnya, meski hati dan pikiran gadis tersebut saat itu masih tertuju kepada sosok Rain alias Arsenio.
"Ada apa Arsen?" sapa Chand memulai percakapan.
__ADS_1
"Aku dan keluarga dari Jakarta akan segera berangkat ke Jogja. Bisakah jemput kami di bandara?" Terdengar suara Arsenio dari seberang sana.
"Apa kalian sudah berangkat?" tanya Chand.
"Penerbangan sekitar dua jam lagi, tapi kami berangkat dari rumah sekarang," jawab Arsenio.
Chand melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Penerbangan dari Jakarta menuju Jogja hanya memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam saja. Itu artinya, dia masih punya sedikit waktu untuk dihabiskan dengan Binar. Entah mengapa, Chand merasa cukup terhibur saat bersama dengan gadis yang berusia terpaut sepuluh tahun lebih muda darinya tersebut.
"Baiklah. Aku akan stand by di bandara sebelum pesawatmu mendarat," balas Chand kemudian.
Setelah berbasa-basi sejenak, pria itu pun mengakhiri sambungan teleponnya bersama Arsenio. Chand lalu kembali ke dalam gubuk untuk menemui Binar yang telah selesai menghabiskan semua makanannya. "Setelah ini kamu mau ke mana?" tanya pria itu kepada Binar.
"Pulang, Pak. Memangnya mau ke mana lagi? Saya masih belum hafal daerah sekitar sini. Saya baru bisa mengingat rute dari rumah bu Irma menuju ke Taman Renata. Itu saja pulang pergi, Pak," jelas Binar. Dia terdiam beberapa saat. Gadis itu kemudian terbelalak tiba-tiba, membuat Chand sedikit terkejut.
"Kamu kenapa aneh sekali." Entah sudah berapa kali dalam beberapa jam terakhir ini, Chand tertawa karena ulah Binar.
"Itu tadi, Pak. Saya tidak hafal jalan pulang," ujarnya gelisah. "Bagaimana kalau Anda mengantarkan saya ke Taman Renata saja. Saya bisa turun di sana dan langsung pulang dengan berjalan kaki," pintanya.
"Ya, ampun. Ribet sekali kamu, Nirmala. Begini saja, sebutkan nomor ponsel temanmu," pinta Chand.
"Astaga," Chand menggaruk kening perlahan. Dia tampak berpikir sejenak, lalu meraih ponselnya kembali. Pria itu menekan nomor kontak Renata, lalu menghubungi wanita tersebut. Tak berselang lama, panggilannya pun tersambung. Terdengar suara ramah Renata di seberang sana. "Ren," sapa Chand. "Bisa minta tolong sambungkan dengan ...." Chand menjauhkan ponsel dari telinga, lalu bertanya pada Binar. "Siapa nama temanmu?"
"Nastiti, Pak," jawab Binar cepat.
"Bisa bicara dengan Nastiti sebentar, Ren?" lanjut Chand.
"Oke, tunggu sebentar," sahut Renata. Hening sejenak sampai kembali terdengar suara seseorang. "Halo," ucap suara itu ragu-ragu.
"Halo. Nastiti?" tanya Chand.
"I-iya, saya, Pak?" jawab Nastiti.
"Ini ada yang mau bicara sama kamu," Chand menyerahkan ponsel mahalnya begitu saja kepada Binar.
"Halo, Ti," panggil Binar sambil sesekali melirik kepada Chand yang memperhatikan dirinya dengan serius.
__ADS_1
"Lho, Mbak. Kok belum pulang? Kukira sudah sampai rumah," ujar Nastiti.
"Justru itu, Ti. Aku tidak tahu jalan pulang. Aku belum hapal. Soalnya tempat ini jauh dari gedung," sahut Binar ragu.
"Ya, ampun," Nastiti tertawa cukup nyaring sebelum menjelaskan alamat rumahnya secara mendetail. Chand juga dapat mendengar itu dengan cukup jelas, karena dia sempat mengaktifkan tombol loud speaker sebelumnya. Chand manggut-manggut atas penjelasan dari Nastiti.
"Oke, aku paham. Terima kasih, Nastiti," ucap Chand sebelum mengakhiri panggilan.
"Kita pulang," ajak Chand sembari berdiri. Sebelum pergi, dia mencuci tangannya pada gentong yang sudah tersedia di depan gubuk. "Aku harus menjemput sahabatku dari bandara sebentar lagi," ucap pria itu lagi.
"Lalu bagaimana ikan guramenya, Pak? Anda tadi 'kan pesan gurame?" tanya Binar polos, membuat tawa Chand meledak seketika.
"Ternyata kalau sama makanan, kamu baru ingat, ya," ujarnya. Dia lalu mengarahkan Binar menuju meja kasir. Di sana, tampak Prapti tengah duduk sambil mengoperasikan mesin hitung. "Tante, guramenya dibungkus saja, ya," ujarnya.
"Oh, beres," balas Prapti seraya mengalihkan perhatian kepada Chand. "Tumben, biasanya dimakan di sini."
"Saya sedang buru-buru, Tante. Ada teman dari Jakarta meminta saya untuk menjemputnya," jelas Chand.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Sampaikan salam tante untuk mamamu, ya," pesan Prapti, bersamaan dengan seorang pelayan yang menyodorkan dua kotak berisi gurame bakar kepada Binar.
Setelah membayar sekaligus berpamitan, Chand mengantar Binar pulang sesuai dengan alamat yang sudah disebutkan oleh Nastiti. Berhubung rumah yang ditinggali Binar sedikit masuk ke dalam gang yang tak bisa dilewati mobil, Chand akhirnya menghentikan kendaraannya di pinggir jalan besar. "Ini kamu bawa saja." Dia memberikan bungkusan berupa dua kotak gurame kepada Binar.
"Ya ampun, Pak. Tidak usah. Saya sudah kenyang tadi. Terima kasih banyak, Pak," tolak Binar secara halus.
"Kalau kamu sudah kenyang, berikan saja pada bu Irma atau Nastiti. Tolong jangan tolak pemberianku atau aku akan marah," ujar Chand sambil menyeringai.
Dengan terpaksa, Binar menerima bungkusan itu. "Terima kasih, Pak," ucapnya.
Namun, Chand tak menjawab. Dia malah turun dari kendaraan, lalu memutari mobil dan membukakan pintu untuk Binar. "Aku juga berterima kasih, Nirmala. Terima kasih sudah menghiburku hari ini," balasnya yang tersenyum lebar saat menatap wajah Binar yang kebingungan.
Keceriaan Chand saat itu, berbanding terbalik dengan kegusaran Arsenio ketika dia baru keluar dari kamar, tapi langsung dihadang oleh Indah. Arsenio tentu saja merasa risih atas sikap sahabat dari Winona tersebut. "Aku sedang tidak ingin bercanda, Indah. Mama papaku sudah menunggu di mobil. Kami bisa terlambat dan ketinggalan pesawat," tegurnya.
"Kamu tidak sedang berpura-pura 'kan, Sen?" Indah malah melontarkan pertanyaan yang aneh di telinga Arsenio.
"Apa maksudmu?" Arsenio mengernyitkan kening karena tak mengerti.
__ADS_1
"Aku takut kamu pura-pura lupa atas segala hal yang pernah kita jalani diam-diam di belakang Wini," jawab Indah yang terus melangkah maju, membuat Arsenio kembali bergerak mundur ke dalam kamarnya.