Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Salah Tingkah


__ADS_3

“Kita ke ruangan papaku dulu,” ajak Arsenio sambil mengarahkan Ajisaka ke sebuah ruangan, yang bertuliskan nama Lievin pada sebuah papan kecil di daun pintu. Arsenio membukanya lebar-lebar. Pria tampan tersebut begitu, terkejut saat mendapati bahwa ruangan tadi tidaklah kosong.


Di dalam sana, tampak Bayu yang sedang duduk di meja kerja sambil mengoperasikan komputer. Pria yang merupakan asisten Lievin itu juga sama terkejutnya dengan Arsenio. Awalnya, Bayu tampak salah tingkah. Namun, dengan segeta dia dapat menguasai diri, lalu memamerkan senyuman ramah. “Apa kabar, Pak Arsen? Kenapa tidak mengabari dulu kalau mau datang?” sapanya. Bayu mengulurkan tangan hendak mengajak bersalaman.


“Tidak masalah, ‘kan? Aku bisa datang ke sini kapanpun aku mau. Apalagi hubunganku dengan papa sudah membaik,” jawab Arsenio. Dia menyambut ajakan jabat tangan Bayu.


Setelah bersalaman dengan Arsenio, asisten pribadi Lievin tadi kemudian mengarahkan tangannya pada Ajisaka. Sama dengan Arsenio, Ajisaka balas menjabat erat tangan Bayu sampai pria itu meringis. “Kencang sekali, Pak,” ujar Bayu menahan rasa sakit di tangannya.


“Oh iya. Maaf. Tidak sengaja,” balas Ajisaka sambil tersenyum lebar. Setelah puas, dia baru melepaskan tangannya dari Bayu.


“Jadi bagaimana? Om Bian mengatakan padaku bahwa dia akan mengembalikan kondisi perusahaan seperti semula. Apakah sudah dimulai pelaksanaannya?” tanya Arsenio. Dia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Bayu.


“Iya, Pak. Pak Biantara sudah menghubungi saya secara langsung beberapa hari yang lalu. Semua akan dilakukan secara bertahap. Paling lambat akhir bulan ini semua akan dirampungkan dengan segera,” jawab Bayu dengan wajah ramah dan terlihat meyakinkan.


“Syukurlah kalau begitu. Aku bisa mengabarkan berita gembira ini pada papa secepatnya,” ujar Arsenio. Senyuman menawan tersungging dari bibir tipis pria itu. “Oh ya, Bayu. Aku kemari untuk meminta tolong padamu,” lanjut suami dari Binar tersebut.


“Meminta tolong apa, Pak?” tanya Bayu seraya menautkan alisnya.


“Antarkan aku ke pantry. Temani membuat kopi,” pinta Arsenio sambil berdiri memutari meja. Dia lalu mendekat kepada Bayu.


“Bukankah Pak Arsenio bisa meminta tolong pada office boy?” Bayu menggeleng tak mengerti.


“Mereka tidak bisa membuat kopi sesuai seleraku. Dulu, sewaktu aku masih aktif dan sering datang ke kantor papa, aku selalu membuat kopi sendiri.” Tanpa sungkan, Arsenio melingkarkan tangannya pada pundak Bayu, kemudian menarik pria itu secara paksa.

__ADS_1


“Ta-tapi, Pak ….” Bayu menoleh pada Ajisaka yang turut berdiri.


“Saya juga meminta izin hendak ke toilet,” ujar Ajisaka. Dengan segera, dia mengikuti Arsenio keluar dari ruang kerja Lievin dan menutup pintu rapat-rapat.


“Belok kiri lurus saja, Ji!” seru Arsenio yang terus menyeret tubuh Bayu menuju pantry.


“Baik, Bos,” sahut Ajisaka sambil mengangkat jempolnya. Namun, pria itu masih terus berdiri di depan ruangan Lievin. Setelah Arsenio dan Bayu tak terlihat lagi, Ajisaka kembali memasuki ruang kerja yang kini ditempati oleh Bayu. Tak lupa dia mengunci pintunya.


Diam-diam dan penuh kehati-hatian, Ajisaka langsung mengoperasikan komputer yang berada di meja kerja. Komputer tersebut sudah dalam keadaan menyala, sehingga dia tak perlu pusing-pusing mencari passwordnya.


Wajah tampan khas pria Indonesia itu mulai serius memperhatikan semua yang tertera di layar monitor. Mulai dari data laporan keuangan perusahaan, hingga profil masing-masing pegawai.


Ajisaka terus menggulirkan mouse hingga dia menemukan nama Bayu Prasetyo, lengkap dengan pasfoto bergambar wajah pria yang baru saja keluar dari ruangan itu bersama Arsenio. Ajisaka langsung menyimpan identitas pria tersebut, lengkap dengan alamat rumah dan nomor telepon pribadi. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian pada sekeliling ruangan. Ajisaka berusaha mencari laptop pribadi milik Bayu.


Ajisaka sempat menggosok-gosok tangannya sebelum menekan tombol power pada laptop berlogo buah apel tergigit. Dia berdecak pelan ketika harus mengisikan kata sandi. Pria berambut cepak itu berpikir untuk sejenak, lalu mengeluarkan sebuah alat semacam flashdisk dan menancapkannya pada portal USB di sisi laptop.


Entah apa yang Ajisaka ketik di perangkat elektronik itu, hingga akhirnya bisa tersenyum lebar. Dia berhasil meretas kata sandi milik Bayu dan masuk ke dalam data-data beserta file-file pribadinya. Ajisaka kemudian memindahkan semua yang dia dapatkan pada flashdisk.


Cukup lama Ajisaka menunggu proses penyimpanan file-file tersebut. Rasa gugup dan khawatir membuat dirinya tak nyaman jika dengan hanya duduk di kursi. Pria itu memilih untuk mondar-mandir sembari mengintip keluar jendela. Ajisaka dapat bernapas lega ketika Arsenio dan Bayu belum kembali.


Beberapa saat kemudian, Ajisaka kembali ke depan laptop Bayu. “Akhirnya. Berhasil,” gumam pria itu. Dengan segera, dia melepas seluruh peralatannya dari laptop. Ajisaka juga mengembalikan posisi laptop ke tempat semula. Setelah semuanya dirasa aman dan tak terlihat mencurigakan, Ajisaka segera menyimpan flashdisk berharga itu ke dalam saku celana. Dia bergegas membuka kunci pintu dan berjalan keluar dari sana.


Sementara Arsenio yang tengah berbincang santai sambil meminum kopi di pantry, melirik jam tangan mahalnya. Dalam hati dia merasa yakin bahwa Ajisaka pasti sudah selesai melakukan tugas yang dirinya berikan.

__ADS_1


“Ayo kita kembali ke ruangan papa,” ajak Arsenio ketika cangkir kopinya sudah kosong.


“Mari, Pak,” balas Bayu. Dia berjalan lebih dulu hingga tiba di depan ruangan Lievin. Bayu membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Arsenio duduk di sofa. “Di mana teman Anda tadi?” tanyanya heran ketika tak ada siapa pun di sana.


“Oh. Dia sedang berkeliling. Tidak apa-apa,” jawab Arsenio. “Sampai mana obrolan kita tadi?”


Bayu sudah hendak menjawab saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Kedua pria tadi menoleh ke arah yang sama. Arsenio tertegun ketika sosok Winona berdiri terpaku di ambang pintu. Wanita cantik itu tampak salah tingkah, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk.


Winona kemudian meletakkan map plastik yang sejak awal didekapnya. “Bayu, tolong masukkan berkas-berkas ini di laporan keuangan terakhir,” suruh Winona tanpa menoleh kepada Arsenio sedikit pun.


“Sedang apa dia di sini?” tanyanya tanpa melihat kepada sang mantan tunangan.


“Oh. Pak Arsenio sedang mengecek kondisi kantor saja, Bu,” jawab Bayu.


“Katakan padanya bahwa proses perbaikan sedang berlangsung dan akan selesai paling lambat akhir bulan. Aku dan papa memang sengaja mempercepat semuanya, agar kami bisa segera memutuskan hubungan apapun dengan keluarga Rainier.” Lagi-lagi, Winona berkata tanpa menoleh pada pria yang terlihat selalu menawan itu. Padahal Arsenio berada tepat di depannya.


“Saya rasa pak Arsenio sudah mendengar penjelasan Anda, Bu,” ujar Bayu seraya mengulum senyum. Dia memperhatikan wajah Winona yang bersemu merah.


“Terima kasih, Wini. Aku sangat menghargai semua usahamu,” ucap Arsenio dengan sorot yang terlihat tulus. Mata coklat terang itu tak lepas dari Winona yang berkali-kali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


“Sudah seharusnya kamu berterima kasih!” jawab Winona ketus untuk menutupi salah tingkahnya. Dia kemudian berlalu dari hadapan Arsenio.


Sementara pria rupawan tersebut masih memperhatikan sang mantan kekasih, hingga tak tampak dari pandangan. Setelah itu, perhatian Arsenio beralih pada Bayu.

__ADS_1


“Sepertinya kamu akan sibuk. Sebaiknya aku pergi dulu untuk mencari temanku tadi,” pamitnya.


__ADS_2