
Di kantor pusat maskapai Airlines, tepatnya di dalam ruang kerja Lievin yang terletak di lantai teratas. Winona tampak mulai gelisah. Sudah lewat tengah hari dan bahkan telah menjelang sore, tetapi suami istri Rainier belum datang juga. Wanita cantik itu sudah berusaha menghubungi Anggraini berkali-kali sejak pagi tadi. Namun, ibunda Arsenio tak jua menjawab panggilan telepon darinya. Tak putus asa, Winona mencoba menghubungi Lievin dan juga Arsenio. Akan tetapi, dua orang itu juga tidak menerima panggilan tersebut.
“Coba telepon ke Kediaman Rainier saja, Bu Winona,” saran Bayu yang sudah bersiap sejak pukul delapan pagi.
Winona pun mengangguk dan menerima saran Bayu. Lagi-lagi, usaha yang Winona lakukan tadi harus berakhir kecewa. Asisten rumah tangga yang mengangkat telepon, mengatakan bahwa Arsenio dan kedua orang tuanya sudah meninggalkan rumah sejak pagi. “Arsen dan kedua orang tuanya tidak ada di rumah,” ucap Winona menggeleng pelan, setelah menutup sambungan telepon.
“Kalau istri Arsen bagaimana? Bisa dihubungi tidak?” tanya Biantara yang mulai was-was.
“Aku tidak punya nomor teleponnya, Pa,” sahut Winona seraya terdiam sejenak. Tiba-tiba, terbersit sesuatu di benaknya. Dia lalu buru-buru keluar ruangan dan menghubungi seseorang yang beberapa hari ini berhasil memutarbalikkan dunianya.
“Ki,” panggil Winona ketika panggilannya diterima. “Ke mana om, tante, dan juga Arsen? Kenapa semuanya tidak bisa dihubungi?” tanya wanita cantik itu.
“Win ….” Suara Dwiki terdengar begitu lirih, Winona sampai harus menajamkan pendengarannya.
“Ki? Kamu kenapa? Sakit? Om, tante, dan Arsenio ada di mana?” cecar Winona.
“Win, bolehkah aku meminta tolong padamu?” pinta Dwiki.
“Katakan dulu ada apa, Ki? Jangan membuatku penasaran,” desak Winona mulai terlihat cemas.
“Ini tentang Bu Anggraini,” sahut Dwiki mende•sah pelan. “Beliau telah tiada, Win," ucap pria itu kemudian.
“Jangan bercanda kamu, Ki!” sentak Winona.
“Ini yang sesungguhnya. Aku bahkan sekarang sedang di rumah sakit. Pagi tadi, seseorang tak dikenal menembaknya di jalan raya saat sedang dalam perjalanan menuju ke kantor Rainier,” terang Dwiki.
__ADS_1
“Apa?” Ponsel yang berada di genggaman Winona hampir saja terjatuh, jika saja wanita itu tak buru-buru menangkapnya. Benak Winona pun tiba-tiba kosong. Bayangan wajah cantik Anggraini perlahan memenuhi ingatan. “Tante,” desisnya lirih.
Winona tertegun beberapa saat di tempatnya. Dia berusaha mencerna kalimat Dwiki yang baru saja terlontar, sampai suara pria itu yang berasal dari speaker ponsel kembali menyadarkannya. “Win, tolong temani bu Bos Binar, sebab target utama sebenarnya adalah dia. Namun, pembunuhnya salah sasaran. Sepertinya dia mengira bahwa yang berada di dalam mobil adalah istri bos Arsen,” ungkap Dwiki.
“Ta-tapi … kenapa?” Air mata Winona mulai membasahi pipi mulusnya.
“Barusan bos Arsen mendapat telepon dari Haris. Orang aneh itu mengaku bahwa dia menyewa pembunuh bayaran. Akan tetapi, pembunuh itu salah sasaran,” terang Dwiki. Nada bicaranya terdengar penuh sesal.
“Astaga.” Winona terbelalak tak percaya. “Jadi … jadi ini semua ulah Haris?”
“Berhati-hatilah, Wini. Antarkan pak Biantara pulang ke rumah. Perketat penjagaan. Lalu, kalau bisa … temani bu Bos. Kasihan dia sedang hamil. Sedangkan bosku masih di rumah sakit. Dia harus mengurus segala sesuatunya, termasuk mendatangi kantor polisi,” tutur Dwiki panjang lebar. "Selain itu, kamu juga harus terus waspada. Aku masih ada urusan di sini. Jaga dirimu," pesan Dwiki.
“Biar kuberitahu papa dulu.” Sambil terisak, Winona mengakhiri teleponnya. Dia bergegas masuk ke ruang kerja Lievin. Di sana, Biantara sudah menunggu dengan gelisah. Terlebih saat melihat sang putri berurai air mata.
“Ada apa lagi ini, Win? Apa yang terjadi?” tanya Biantara dengan nada penuh khawatir.
“Ya, Tuhan,” desah Biantara pelan. Sama halnya dengan Winona, dia juga tak percaya. “Lalu, bagaimana kondisi Lievin?”
“Om Lievin masih berada di rumah sakit bersama Arsen. Dia ….” Winona menjeda kata-katanya, ketika menyadari bahwa Bayu berada di ruangan itu. Asisten Lievin tersebut turut mendengarkan apa yang terjadi. Akan tetapi, sorot mata pria itu seolah menyimpan sesuatu.
“Kita harus pulang sekarang,” bisik Winona pada Biantara. Tanpa menunggu persetujuan dari sang ayah, dia segera menarik lengan Biantara dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Bayu masih berdiri terpaku di tempatnya. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.
Winona sendiri tak ambil pusing. Dia menuruti perkataan Dwiki tadi untuk membawa Biantara pulang ke rumah. Setelah pria paruh baya itu aman dan nyaman di dalam kamar bersama sang istri, Winona meninggalkan kedua orang tuanya untuk menuju kediaman keluarga Rainier.
Akan tetapi, untuk masuk ke dalam bangunan megah tiga lantai itu, Winona harus mengalami kesulitan. Lima orang satpam yang berjaga di depan gerbang, segera menghalanginya. Mau tak mau, wanita cantik itu harus turun dari mobilnya dan mendekat pada pria-pria berseragam tersebut.
__ADS_1
“Maaf, Bu. Sesuai pesan dari pak Arsenio. Tidak ada yang boleh keluar ataupun masuk rumah ini selain penghuni rumah,” tutur salah seorang satpam secara sopan.
“Kalian tahu siapa aku, bukan?” tanya Winona yang diiringi anggukan kepala secara serempak oleh orang-orang itu. “Arsenio yang memerintahkan aku kemari dan menjaga istrinya,” ujar Winona penuh penekanan.
Satpam-satpam itu saling pandang sebelum akhirnya membuka gerbang lebar-lebar. Melihat hal tersebut, Winona tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dengan segera, dia kembali masuk ke mobil dan melajukannya sampai berhenti di depan halaman.
Setelah itu, Winona turun dari mobil, lalu berlari menuju kamar Arsenio di lantai atas. Dia hampir saja mengetuk pintunya saat melihat Ajisaka berjaga di depan kamar. “Di mana Binar?” tanya Winona tanpa basa-basi.
“Ada di kamarnya,” jawab Ajisaka singkat.
“Namun, bu Bos belum mengetahui kabar itu. Bos Arsen melarang saya untuk ….”
“Aku tahu. Dwiki sudah memberitahukannya padaku. Aku hanya ingin berbicara dengan Binar,” potong Winona sebelum Ajisaka menyelesaikan kalimatnya.
Ragu-ragu, Ajisaka meraih pegangan pintu. Dia sempat berpikir sejenak hingga akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar lebar-lebar. “Masuklah,” ujar pria tampan berkulit sawo matang itu.
“Terima kasih.” Winona mengangguk. Dia lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan kamar yang tak berubah, dari semenjak dirinya terakhir kali masuk ke sana. “Binar?” panggilnya pelan.
Sesosok tubuh ramping keluar dari dalam kamar mandi beberapa saat kemudian. Wajah cantiknya tampak terkejut saat melihat Winona berdiri di tengah ruangan. “Kak?” sapa Binar.
“Kamu sedang apa?” Winona mencoba bersikap seramah mungkin.
“Aku baru selesai mandi,” jawab Binar dengan raut kebingungan. “Kakak sedang apa di sini?”
“Aku ….”
__ADS_1
“Rain tidak ada di rumah. Dia pergi dari pagi-pagi sekali dan belum pulang hingga sekarang. Dia mengatakan bahwa mama dan papa kecelakaan ….” Binar membungkam mulutnya. Mata indahnya tampak berkaca-kaca. “Mama dan papa tidak apa-apa ‘kan, Kak? Apa kak Winona sudah mendengar berita kecelakaan itu? Aku cemas sekali karena Rain tidak bisa dihubungi sejak terakhir kali dia meneleponku,” cecar wanita yang tengah hamil muda tersebut.
“Binar.” Winona segera mendekat dan memeluk erat tubuh ramping itu erat-erat.