Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Setangkai Mawar


__ADS_3

Dwiki telah kembali ke rumahnya, setelah beberapa waktu tidur berpindah-pindah. Mulai dari rumah pribadinya, lalu penginapan sang tante. Dia bahkan pernah tinggal di kontrakan yang bersebelahan dengan kediaman Bayu.


Malam itu, dia sudah tampil rapi. Jauh lebih rapi dari biasanya. Tak ada celana cargo pendek dan t-shirt round neck yang dilengkapi sandal jepit. Dwiki benar-benar terlihat total demi sang kekasih yang menganggap bahwa malam itu akan menjadi momen istimewa bagi mereka.


Dengan mengendarai motor kesayangan, Dwiki menyusuri jalanan ibukota yang ramai. Wajah tampan pria itu terlihat berseri. Sesekali, dia melihat arloji di pergelangan kiri. Dwiki tak ingin terlambat datang ke Kediaman Biantara Sasmita.


Dalam perjalanan itu, benak Dwiki melayang pada pertemuan antara dirinya, Ajisaka dan Arsenio dengan perwakilan dari Normand Heinze beberapa bulan yang lalu. Dia kembali terharu akan sikap Arsenio yang begitu memedulikan keadaan dia dan sepupunya.


Saat itu, Arsenio memberikan penawaran pada Normand. Dia mau memimpin perusahaan pria Jerman yang baru saja mendapatkan izin tersebut asalkan Normand bersedia merekrut Dwiki dan Ajisaka. Hingga akhirnya, perjuangan Arsenio mendapatkan hasil. Dwiki berhasil menempati divisi marketing, sedangkan Ajisaka berkutat pada profesi kesukaannya, yaitu IT.


Beberapa saat di perjalanan, Honda CB Gelatik yang Dwiki kendarai pun telah tiba di kawasan perumahan elite tempat tinggal Winona. Setelah melapor pada petugas keamanan di pos gerbang perumahan tersebut, Dwiki melanjutkan perjalanan hingga ke Kediaman Biantara.


Seorang satpam yang memang sudah mengenal Dwiki, langsung membukakan pintu gerbang. Dwiki pun melajukan kendaraan roda duanya tanpa ada hambatan sama sekali, hingga dia memarkirkan motor antik tersebut.


Setelah turun dari motor, Dwiki melepas helm. Dia juga menanggalkan jaket jeans yang dikenakannya. Dwiki lalu merapikan rambut serta kemeja lengan tiga per empat berwarna putih. Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan teratur. Dia bahkan sempat melakukan beberapa gerakan sebagai peregangan, sebagai penghilang rasa gugup dalam diri.


Setelah merasa cukup, Dwiki lalu berjalan menuju undakan anak tangga. Dengan langkah penuh percaya diri, ajudan kepercayaan Asenio tersebut melangkah masuk ketika seorang asisten rumah tangga menyambut dan mempersilakannya.


“Selamat malam,” sapa suara lembut yang sudah sangat familiar di telinga Dwiki. Pria itu tersenyum kalem, ketika si pemilik suara merdu tadi berjalan menghampirinya.


Winona terlihat sangat cantik malam itu. Rambut panjangnya tergerai indah. Sebagian dari mereka menutupi pundak sebelah kiri wanita bertubuh sintal tersebut. Penampilan Winona pun tampak sangat anggun dan elegan, dalam balutan dress one shoulders berwarna hitam.


“Cantik sekali,” sanjung Dwiki. Dia menyodorkan setangkai mawar merah yang dirinya simpan di dalam saku kemeja.


“Astaga.” Winona tertawa renyah. “Kamu yakin?” Winona menghirup aroma bunga cantik yang diberikan Dwiki tadi. “Kamu sangat romantis.” Wanita dengan dress one shoulders itu semakin mendekat. Dia bermaksud untuk memeluk pria tampan di hadapannya. Akan tetapi, suara sang ayah telah berhasil  membuat Winona mengurungkan niat tersebut.

__ADS_1


“Selamat malam, Pak Biantara. Selamat malam, Bu Yohana,” sapa Dwiki sopan.


“Selamat malam, Dwiki,” balas Yohana yang masih duduk di kursi roda. Sementara Biantara selalu setia menemaninya. Mengantarkan ke manapun sang istri ingin pergi.


“Bagaimana jika kita langsung saja ke meja makan?” cetus Biantara. Tanpa menunggu jawaban dari Winona dan Dwiki, pria paruh baya tersebut segera mendorong kursi roda sang istri menuju ke ruang makan.


Sementara Winona dan Dwiki saling melempar pandangan untuk sesaat. Mereka pun sama-sama tersenyum, kemudian bergandengan tangan menuju ruang makan. Sesekali, Dwiki mengecup tangan dengan jemari lentik Winona sambil terus berjalan bersama.


“Aku menyukaimu,” ucap Winona pelan.


“Perasaanku jauh lebih dari itu,” balas Dwiki. Dia berusaha menyembunyikan rasa gugup yang sejak tadi menggelayutinya, dengan menunjukkan sikap manis seperti tadi kepada Winona. Apa yang Dwiki lakukan memang cukup berhasil. Lembut dan hangat genggaman tangan sang kekasih tercinta, telah berhasil membuat dia lupa akan segala kegelisahannya.


Hidangan beraneka macam tersaji di atas meja. Menu-menu istimewa yang terlihat sangat menggugah selera. Beberapa pelayan yang menyajikan makanan tadi, segera kembali ke tempat masing-masing setelah semua siap untuk disantap.


“Apa makanan kesukaanmu, Ki?” tanya Yohana membuka percakapan, sebelum memulai makan malam itu.


“Tukang makan,” cibir Winona pelan, yang segera berbalas sebuah rema•san di pahanya. Winona pun segera terdiam.


“Memangnya, dari mana asalmu?” Kali ini, Biantara yang mengajukan pertanyaan ringan tersebut.


“Ibu saya warga asli Surabaya. Sedangkan ayah dari Jakarta. Sementara saya sendiri lahir di Kota Pahlawan,” jelas Dwiki berusaha terlihat biasa saja.


“Bagaimana kamu bisa mengenal Arsenio dengan begitu baik?” tanya Biantara lagi.


“Saya sudah lama bekerja untuk Bos Arsen. Dia pria yang baik. Saya yakin anda berdua pasti mengetahui ha itu,” sahut Dwiki. Dia melirik Winona yang tengah memandang penuh cinta ke arahnya. Dwiki pun tersenyum kalem.

__ADS_1


“Kamu jauh lebih baik,” ucap Winona.


“Terima kasih,” balas Dwiki.


Akan tetapi, jawaban Dwiki justru membuat Winona tertawa renyah. Sikapnya yang demikian tentu saja menghadirkan rasa heran untuk kedua orang tuanya. Lain halnya dengan Dwiki yang masih terlihat biasa saja.


Winona menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi kening. Dia tak jua mengalihkan pandangan dari sosok pria yang telah begitu memikat hatinya. Sungguh di luar dugaan. Setelah beberapa lama berkutat dalam rasa sakit hati terhadap Arsenio, kini dia dapat bangkit dan memulai sebuah jalinan cinta yang baru bersama pria lain.


Setelah puas memandangi paras tampan Dwiki dengan gaya rambut baru, perhatian Winona kini beralih pada kedua orang tuanya. Sebuah isyarat yang segera dapat dipahami oleh Dwiki.


Pria itu pun mendehem pelan, sebagai penghalau dari rasa gugup yang kembali mendera. Bagi Dwiki, ini adalah kali pertama dia berbicara serius dengan orang tua dari wanita yang dikencaninya.


“Pak Biantara, Bu Yohana ….” Dwiki terdiam sejenak. Dia mencoba merangkai kata yang akan diutarakan pada pasangan suami istri tersebut. “Saya ingin meminta izin untuk memiliki putri anda. Saya tahu dan sadar betul bahwa kondisi saya sangat jauh berbeda dengan keluarga ini. Saya hanya seorang yatim piatu yang bertahan hidup sendiri. Namun, Winona adalah teman yang menyenangkan, meski saya baru mengenalnya.” Dwiki membalas tatapan penuh cinta yang dilayangkan Winona terhadapnya.


Pria itu kembali tersenyum.


“Tidak ada alasan lain yang melatarbelakangi kedekatan saya dengan Winona. Semuanya tulus. Saya rasa, Winona pun dapat merasakan hal itu dengan baik.” Dwiki menggenggam erat jemari lentik Winona yang tersembunyi di bawah meja. Rasa hatinya ingin melakukan hal yang lebih dari itu. Namun, dia harus pandai menahan diri di hadapan Biantara dan juga Yohana.


Sementara, Winona tersipu malu. Senyumnya merekah indah, seiring dengan senyuman yang terlukis di wajah pucat Yohana. Istri Biantara Sasmita tersebut memang tak banyak bicara, karena kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya. Namun, rona kebahagiaan itu tampak jelas. Sebagai seorang ibu, Yohana tentu dapat merasakan apa yang Winona rasakan. Ada ikatan batin kuat antara mereka berdua yang tak akan terhalang oleh apapun.


“Kamu bahagia, Win?” tanya Yohana pelan.


“Aku sangat bahagia, Ma,” sahut Winona  dengan mata berbinar indah. Raut ceria berhiaskan senyum manis nan menawan, tak jua sirna dari wajah cantiknya. Winona memang terlihat lebih hidup akhir-akhir ini. Hal itu pula yang menjadi perhatian Biantara dan Yohana selaku orang tuanya.


“Dwiki sudah mengembalikan semangat dalam hidupku. Kami berbincang tentang banyak hal. Aku selalu menyukai kebersamaan yang kujalani dengannya,” ungkap Winona meski malu-malu.

__ADS_1


“Aku juga,” balas Dwiki yang sedari tadi tak puas-puas, menikmati raga indah sang kekasih dengan tatap matanya. Bagi Dwiki, Winona merupakan sebuah anugerah luar biasa.


__ADS_2