Racun Cinta Arsenio

Racun Cinta Arsenio
Funny Fight


__ADS_3

Sore hari yang cerah. Binar dan Arsenio tengah asyik duduk sambil berpelukan di atas balkon kamar. Hari itu, Arsenio mengajukan cuti kerja untuk menemani Binar yang kemarin baru menjalankan proses kuretase untuk membersihkan rahimnya.


“Binar,” sebut Arsenio setelah beberapa saat lamanya dua sejoli itu terdiam menikmati bunga sakura di depan apartemen.


“Hm.” Binar yang bersandar di dada bidang sang suami, tak melepaskan pandangannya dari bunga-bunga cantik yang tengah mekar bergerombol di taman depan apartemen. Mereka tampak jelas dari tempatnya berada.


“Tuan Normand menawariku apartemen di pusat kota. Aku bisa membayarnya dengan memotong sekian persen dari gaji yang kuterima untuk tiap bulannya. Bagaimana menurutmu?” tanya Arsenio. Dia tak juga melepaskan dekapannya dari tubuh sang istri.


Binar segera menoleh ke arah suami tampannya dengan mata terbelalak. “Benarkah itu, Rain?” tanyanya tak percaya.


“Iya. Tuan Normand mengatakan bahwa dia tertarik dengan kinerjaku. Tak sampai sebulan, tapi aku sudah mendapatkan nilai yang positif,” jawab Arsenio bangga.


“Itu hebat sekali, Sayang.” Binar tampak begitu antusias. “Jadi, kita bisa memiliki tempat tinggal sendiri?”


“Tak hanya itu, Tuan Normand juga akan membantu kita untuk mengajukan izin tinggal di Jerman.” Arsenio tersenyum lebar ketika memperhatikan ekspresi istrinya yang terlihat begitu bahagia.


“Akhirnya kita bisa punya rumah, Rain.” Binar kembali memeluk suaminya sampai terdengar bunyi nada dering panggilan pada ponsel.


“Siapa yang menelepon?” Arsenio dan Binar saling pandang, hingga akhirnya Arsenio berdiri dan mengambilkan ponsel milik Binar.


“Astaga. Penggemarmu ternyata.” Wajah ceria Arsenio mendadak berubah masam, ketika membaca nama yang tertera di layar telepon genggam milik Binar.


“Aku tidak merasa mempunyai penggemar,” elak wanita muda itu.


“Lucas Wilder." Arsenio mengeja nama si pemanggil sebelum memberikan ponsel yang baru dia ambil kepada Binar.


“Lucas?” Binar mengernyitkan kening, lalu meraih ponsel yang ada di tangan sang suami. Namun ternyata, Arsenio menarik lagi tangannya, sehingga Binar hanya bisa menangkap angin. Pria tampan itu kemudian menjawab panggilan sambil menekan tombol loud speaker, barulah dia menyodorkan ponselnya pada sang istri.


Melihat hal itu, Binar hanya mampu menarik napas panjang, lalu menerima ponselnya dengan raut wajah yang terlihat tidak nyaman. “Halo?” sapa wanita muda itu hangat.

__ADS_1


“Hei, Binar. Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Lucas dalam bahasa Inggris, membuat Arsenio memutar kedua bola matanya.


“Ya, aku baik-baik saja. Aku jauh lebih baik sekarang,” jawab Binar dengan nada yang terdengar begitu ramah. Sesekali, dia melirik sang suami yang tampak memasang wajah malas.


“Oh, baguslah kalau begitu. Apa kau juga sudah memberitahu Arsenio tentang kehamilanmu?” tanya Lucas lagi yang sontak membuat suami Binar tadi terkejut tak percaya. Arsenio kemudian menatap tajam ke arah sang istri.


“Aku … eh, aku ….” Binar tak bisa berkonsentrasi menjawab Lucas, sebab saat itu Arsenio terlihat amat kesal. Dia bahkan berbalik meninggalkan Binar sendirian di atas balkon. “Lucas, terima kasih banyak atas perhatiannya, tapi … bisakah kau kuhubungi lagi nanti?”


“Oh, tentu saja. Apakah kau sedang sibuk? Baiklah, akan kuhubungi lagi nanti,” sahut koki tampan asal Perancis itu. Selesai berkata demikian, Lucas segera mengakhiri panggilannya.


Sedangkan Binar merasa panik atas sikap sang suami, padahal mereka baru saja berbaikan.


“Rain!” Binar buru-buru menyusul suaminya keluar kamar. Dia melihat Arsenio tengah duduk di sofa ruang televisi. Tangannya sibuk memencet remote dan mengganti chanel televisi sesuka hati.


“Rain!” panggil Binar lagi saat sang suami tak menghiraukan dirinya. “Dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskan semua ini,” pinta Binar dengan nada dan raut memohon.


“Waktu aku pingsan, Lucas yang mengantarkan dan menungguku di rumah sakit sampai sadar. Dia juga yang mendapatkan penjelasan dari dokter, berhubung aku tidak bisa bahasa Jerman,” tutur Binar dengan dada berdebar.


Perutnya terasa mulas saat memperhatikan raut sang suami yang terkesan tak peduli dan juga tidak sehangat seperti biasanya.


“Rain, jangan marah. Please,” rayu Binar seraya melingkarkan tangan di lengan Arsenio.


“Jadi kalian berada di rumah sakit berdua? Lalu? Setelah itu?” Arsenio bertanya dengan sorot mata yang tetap mengarah ke layar televisi.


“Aku dan Lucas kembali ke kantor, Rain. Tas dan barang-barangku masih berada di loker. Setelah miss Marilyn memecatku, aku mengambil barang-barangku, kemudian pulang,” papar Binar. Dia terus menunggu tanggapan dari sang suami yang masih terlihat tak peduli. Pria berambut coklat itu malah mengambil salah satu toples yang berjajar di atas meja.


Arsenio membuka tutup toples tersebut, mencium aroma di dalamnya, lalu terbatuk-batuk. Dia kemudian menutup kembali toples tadi dan mengambil toples yang lain. Terhitung empat kali pria itu membuka dan menutup toples sampai dia menemukan camilan yang sesuai. Pilihan pria menawan itu jatuh pada kacang kupas panggang.


“Rain.” Binar tak putus asa memanggil sang suami yang tengah mendiamkannya. “Kenapa kita harus bertengkar lagi? Padahal baru saja kita berbaikan,” keluh wanita muda itu.

__ADS_1


Arsenio melirik sesaat pada istrinya sebelum kembali asyik menonton televisi. “Memangnya kamu saja yang boleh marah-marah dan curiga?” jawabnya asal. “Bisa-bisanya ada pria lain yang lebih dulu mengetahui bahwa kamu hamil dibandingkan suamimu sendiri,” gerutu Arsenio sambil mengunyah kacang.


“Ya ampun, Rain.” Tiba-tiba saja Binar merasa lelah, lalu menyandarkan punggungnya di sofa.


“Apa kamu tidak lapar, Rain? Aku masakkan makan malam, ya?” tawar wanita cantik itu setelah beberapa menit berlalu.


“Terserah,” sahut Arsenio singkat dan datar. Tak sedikit pun dirinya menoleh pada Binar.


“Mau makan di sini atau di meja makan?” tanya Binar lagi.


“Di sini saja,” jawab Arsenio.


“Baiklah.” Binar menghela napas panjang sebelum melangkahkan kaki ke dapur. Dibukanya pintu kulkas, lalu termenung di sana selama beberapa saat. Setelah memutuskan apa yang akan dia masak, Binar mengeluarkan semua bahan-bahan yang diperlukan, kemudian mulai meraciknya.


Tak sampai satu jam, hidangan sudah siap. Binar membaginya langsung ke dalam dua piring besar. Satu akan dia berikan pada sang suami, sedangkan piring lainnya dia peruntukkan untuk diri sendiri. Dengan hati-hati, Binar memberikan piring di tangan sebelah kanan untuk Arsenio. “Makanlah dulu, Sayang,” suruhnya.


“Terima kasih,” ucap Arsenio tanpa mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya Binar berniat untuk duduk di samping Arsenio dan makan malam bersama. Namun, pria itu malah meluruskan kakinya di atas sofa, sehingga tak ada lagi tempat yang tersisa di atas kursi empuk berwarna putih itu.


Terpaksa Binar kembali ke dapur dan meletakkan piringnya di atas meja makan. Dia makan sendirian sambil menunduk di sana. Nafsu makannya menghilang sama sekali. Akan tetapi, Binar memaksakan diri untuk makan demi meminum obat. Setiap beberapa kali suapan, wanita muda itu mengembuskan napas pelan. Binar terus melakukan hal tersebut sampai makanannya habis.


Setelah meletakkan piringnya ke bak cuci piring, dia bermaksud untuk mengambil piring bekas Arsenio dan mencucinya. Namun sebelum niat itu terlaksana, Arsenio sudah lebih dulu masuk ke dapur dan meletakkan piringnya. Tak hanya itu, Arsenio bahkan mencuci piringnya sendiri sekaligus piring Binar.


Hati Binar menghangat, melihat hal tersebut. Di dalam kondisi marah sekalipun, Arsenio masih ingat untuk meringankan pekerjaan istrinya. “Aku ambilkan minum, ya,” tawar Binar ketika sang suami telah selesai melakukan pekerjaannya.


“Tidak usah. Aku bisa mengambilnya sendiri,” tolak Arsenio sembari membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Dia lalu berbalik dan berniat kembali ke depan televisi.


Sebelum hal itu terjadi, Binar lebih dulu mencegah gerak langkah Arsenio. Binar merentangkan tangan, menghalangi suaminya dengan cara berdiri di depan pintu dapur. “Sampai kapan kamu marah padaku, Rain?” tanyanya serius.

__ADS_1


__ADS_2