
Pagi itu di kediaman Irma. Wanita paruh baya yang selama ini berbaik hati telah memberikan tumpangan untuk Binar, tampak begitu sibuk. Nastiti tak henti-hentinya menyeka air mata, saat Binar sudah siap dengan segala keperluan yang akan dia bawa ke Jakarta. “Mbak, jangan lupakan aku dan ibu, ya,” pesan Nastiti begitu lirih.
“Mana mungkin aku melupakan kebaikan kalian berdua, Ti. Sampai mati pun aku tidak akan pernah lupa,” balas Binar seraya memeluk Nastiti erat-erat.
“Sering-sering pulang ke Jogja ya, Nduk. Rumah ini akan selalu menjadi rumahmu,” timpal Irma mendekat pada Binar. Dia bergantian dengan Nastiti untuk memeluk gadis muda itu.
“Mungkin kita memang baru bertemu, Bu. Namun, saya sudah merasa sayang sekali sama ibu dan juga Titi. Kalian berdua lebih dari sekadar kerabat,” isak Binar penuh haru.
“Jaga diri baik-baik di sana, ya,” pesan Irma lagi. Dari sikap dan kata-katanya, seakan dia hendak melepas putri kandungnya sendiri. Tanpa menguraikan pelukan, Irma mengusap punggung Binar dengan lembut dan penuh kasih. Sesuatu yang tak pernah Widya lakukan terhadap gadis itu seumur hidupnya.
“Mana yang perlu dibawa, Mbak? Biar kubantu,” tawar Nastiti.
“Tidak ada, Ti. Aku tidak membawa apapun, hanya ini,” sahut Binar seraya mengangkat tas ransel hitam, yang selalu setia menemani sejak dirinya meninggalkan Bali. “Aku tidak banyak membawa baju ganti,” imbuhnya.
“Ya, sudah, Nduk. Ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik untukmu,” ucap Irma kembali memeluk Binar. Pelukan itu baru dia lepaskan ketika terdengar ketukan di pintu depan.
“Itu pasti pak Chand,” ucap Nastiti buru-buru berlari ke ruang tamu. Dia membuka pintu rumah lebar-lebar. Sementara Irma dan Binar mengikuti dari belakang. Mereka semua tampak kagum akan penampilan pria yang telah resmi menjadi duda itu. “Silakan masuk, Pak,” ucap Nastiti mempersilakan Chand.
“Terima kasih banyak, tapi saya sedang terburu-buru,” tolak Chand halus sambil berkali-kali mencuri pandang terhadap Binar.
“Saya titip dia ya, Pak. Dia sudah seperti anak saya sendiri,” pesan Irma. Dia kembali merangkul Binar yang berdiri di sebelahnya dengan penuh perasaan. Lagi-lagi, setitik air mata menetes di pipinya yang mulai keriput.
“Tentu, Bu. Saya akan menjaga Nirmala sebaik-baiknya di sana. Ibu tidak perlu khawatir,” balas Chand ramah.
“Aku doakan mbak berjodoh dengan pak Chand,” bisik Nastiti seraya tertawa renyah.
“Sst, jangan aneh-aneh, Ti.” Mata indah Binar sedikit melotot, lalu ikut tertawa bersama Nastiti.
“Ayo, kita berangkat sekarang,” ajak Chand.
“Iya, Kak,” sahut Binar mengangguk. Dia kembali berpelukan dengan Irma dan Nastiti secara bersamaan. “Kalian sudah menyimpan nomor kontakku, ‘kan? Nanti kita bisa sering-sering telepon, ya,” pintanya penuh haru.
“Pasti, Nak. Pasti! Ibu akan selalu siap, kapanpun kamu menelepon,” ucap Irma.
__ADS_1
“Terima kasih untuk semuanya.” Binar mengurai pelukan. Dia berjalan keluar dan semakin menjauh dari rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya selama hampir sebulan terakhir. Gadis cantik itu menyusuri gang kecil, berdampingan dengan Chand. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil untuk menuju ke bandara. Kali itu, Chand tidak menyetir sendiri. Dia meminta seorang sopir untuk mengantarnya dan membawa mobilnya kembali ke rumah Kalini.
“Kamu hanya membawa ransel itu saja, Mal?” tanya Chand keheranan ketika mereka sudah sampai di bandara.
Binar menanggapinya dengan anggukan pelan sambil memaksakan senyum. Perasaannya begitu berat ketika meninggalkan rumah Irma. Beberapa jam lagi, dia akan menjejakkan kaki di Jakarta. Rasa takut, berdebar, dan juga was-was, bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Entah apa yang akan dia hadapi setelah dirinya tiba di ibukota.
“Ayo,” ajak Chand. Suara pria tampan itu membuyarkan lamunan Binar .Mereka kini sudah berada di ruang tunggu. Tak berapa lama, terdengar pemberitahuan dari speaker agar penumpang segera memasuki pesawat.
“Kamu tidak takut ketinggian, kan?” tanyanya.
“Sepertinya tidak, Kak,” jawab Binar pelan. Sejak keluar dari rumah Irma, dirinya menjadi lebih pendiam.
“Syukurlah. Pegang saja tanganku kalau nanti kamu gugup saat pesawat lepas landas,” ujar Chand. Nadanya tedengar begitu hangat dan menenangkan.
“Terima kasih,” sahut Binar seraya tersenyum samar. Kesedihannya saat itu sedikit terobati saat dirinya mendapat tempat duduk di dekat jendela.
“Aku selalu memilih tempat di kelas satu,” ujar Chand, “supaya nyaman,” sambungnya.
“Aku ikut apa kata Kak Chand saja,” sahut Binar yang mulai asyik memandang ke luar jendela. Suasana sempat hening beberapa saat ketika seorang pramugari memperagakan tata cara dan peraturan selama penerbangan berlangsung. Disusul dengan perintah untuk mengencangkan sabuk pengaman. Pesawat pun sedikit berguncang ketika mulai mengudara. Terlihat Binar mengempaskan napas lega saat pesawat sudah berhasil mengangkasa.
“Ya?” Chand yang awalnya menatap lurus ke depan, segera menoleh pada gadis muda di sampingnya itu.
“Berapa lama perjalanan sampai ke Jakarta?” tanya Binar.
“Kurang lebih satu jam. Kenapa?” Chand malah balik bertanya.
“Um, aku ….” Tiba-tiba terbersit pemikiran untuk bertanya kepada Chand, apakah dia mengenal sosok Rain atau Arsenio. Namun, tentu saja Binar mengurungkannya. “Tidak jadi,” ralatnya sembari meringis kecil.
“Setelah sampai di Jakarta, kita langsung ke apartemen Prajna. Kamu siap-siap dulu di sana. Setelah itu, baru kita akan menuju lokasi expo untuk briefing bersama. Sekalian kukenalkan kamu pada anak buahku yang lain. Besoknya ….” Chand menjeda kalimatnya. Raut tampan pria tersebut saat itu terlihat sedang berpikir.
“Besoknya?” ulang Binar.
“Besoknya aku mau mengajak kamu ….” lagi-lagi kata-kata Chand menggantung.
__ADS_1
“Ke mana?” tanya Binar yang semakin penasaran.
“Jadi, begini. Selain mengurusi expo, aku juga harus mengatur acara pertunangan sahabatku. Besok adalah acara gladi bersih dan lusa adalah pestanya. Aku berharap .…” Chand merasa ragu untuk mengutarakan niatnya. “Aku harap kamu mau menemaniku ke acara pesta pertunangan sahabatku, sebab .…” Chand kembali terdiam. Pria tampan berdarah India-Jawa itu hanya dapat menelan ludahnya, lalu memandang gugup kepada Binar.
“Kak Chand, tolong jangan bikin penasaran,” tegas Binar. Dia sungguh merasa geli melihat sikap Chand yang gugup dan tak seperti biasanya.
“Di pesta pertunangan itu, mantan istriku akan hadir. Aku masih tidak siap jika harus menemuinya sendirian. Katakanlah aku memang pengecut, tapi sebesar itu perasaan yang pernah kuberikan untuk dia,” sesal Chand pelan.
“Kak Chand masih mencintai mantan istrinya, ya?” tanya Binar hati-hati.
“Bukan … bukan itu. Sejak aku mengetahui jika dirinya berkhianat, rasa cinta yang dulu ada perlahan memudar, tapi sakitnya … masih terasa hingga kini,” ungkap Chand menunduk sejenak, lalu mengarahkan pandangan pada Binar. Sorot matanya terlihat sendu saat itu.
“Setidaknya Kak Chand pernah tahu seperti apa rasanya memiliki,” balas Binar.
“Sedangkan aku ….” Gadis itu mengatur napasnya sebelum bercerita.
“Aku jatuh cinta pada seseorang di Bali. Pertemuan kami tidaklah lama, tapi dia benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam di hati." Binar menjeda ceritanya tatkala membayangkan ciuman pertamanya dengan Arsenio di dekat air terjun.
“Siapa namanya?” tanya Chand yang mulai tertarik mendengarkan cerita Binar.
“Namanya Rain,” sahut Binar lirih. Tersungging senyum di bibirnya saat menyebut nama itu. Senyum yang segera memudar ketika dia kembali teringat pada sosok Arsenio yang melakukan konferensi pers di televisi.
“Lalu, apa yang terjadi? Apa dia tahu kalau kamu jatuh cinta padanya?” tanya Chand lagi sambil menghadapkan tubuhnya kepada Binar.
Binar menggeleng lemah. “Aku belum sempat mengatakan padanya, Kak. Dia sudah lebih dulu pergi … ke Jakarta. Dia ternyata sudah memiliki pacar dan akan segera bertunangan,” tuturnya.
“Jadi, itu alasannya kamu tidak mau ke Jakarta? Kamu takut bertemu dengannya?” Chand mengangkat satu alisnya sambil menyeringai lucu.
“Seperti itulah, Kak. Sepertinya aku tidak akan sanggup kalau melihat dia bermesraan dengan pasangannya secara langsung.” Binar tertawa lirih, lalu memalingkan muka.
“Kalau boleh aku memberi saran, hadapi saja semuanya, Nirmala. Sampai kapan kamu mau lari? Toh dia juga tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Seharusnya kamu tunjukkan pada pria bernama Rain itu bahwa kamu istimewa,” saran Chand.
“Begitu ya, Kak?” tanya Binar ragu.
__ADS_1
“Jangan khawatir, Mal. Ingatlah rumus berjodoh. Sekuat apapun kamu berusaha menghindar, kalau berjodoh maka Tuhan pasti akan mempertemukan kalian. Entah bagaimanapun caranya. Namun, sebaliknya, jika kalian tidak berjodoh, sekuat apapun kalian berusaha untuk bertemu, maka kalian tidak akan pernah bisa bersama. Jadi menurutku, santai saja dan jalani hidup ini dengan tawakal.” Chand segera mengakhiri masukannya, bersamaan dengan pengumuman dari awak kabin jika sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta.